Lawatan Ilmiah Tiga Profesor Malaysia ke Aceh Bahas Mutu Pertanian

laporan: Kiboo

ZONAMEDIA.CO | Lhokseumawe – Tiga profesor dari Malaysia lawatan Ilmiah ke Aceh bahas mutu pertanian di Aceh dan Malaysia.  Mereka Prof Mohammad bin Osman dan Prof Suhaimi Nafis (Universiti Putra Malaysia), dan Prof.madya Faridah Noor Mohd Noor (Universiti Malaysia). Lawatan Ilmiah ketiga guru besar itu ke Aceh, diinisiasi oleh Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kota Lhokseumawe, DeRE-Indonesia bersama BP2DK Korwil Aceh.

Lawatan ke Lhokseumawe dalam bentuk “Duek Pakat Tanah Serumpun”, tema tentang sosial budaya inovasi dan teknologi pertanian perkotaan sebagai penopang ketahanan pangan.  Berlansung di aula PT. Pupuk Iskandar Muda dan Taufik Kupi 2, Kota Lhokseumawe, Kamis (14/12/2017).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong, Dr. Iskandar AP, dalam sambutanya mengajak semua masyarakat Gampong khususnya petani untuk dalam memanfaatkan lahan dengan baik dan semaksimal.

Hal senada juga disampaikan Drh. Rizal, Kepala DKPP Kota Lhokseumawe.

Acara Duek Pakat Tanah Serumpun ini, dibuka secara resmi oleh Kamaruddin Hasan Ketua DeRE Indonesia. “kita bersyukur profesor kita dari Malaysia dapat berbagi ilmu bagaimana menjaga mutu pertanian di Aceh dengan perbandingan Malaysia. Dengan pertanian juga mampu meningkatkan capital sosial masyarakat Aceh” sebutnya.

“Kita berharap dalam meningkatkan kualitas, mutu pertanian sebagai penopang ketahanan pangan diperkotaan. Selain pola pikir masyarakat perkotaan, pemanfaatan lahan, penguasaan teknologi pertanian. Saya kira, sinergi antara pemerintah, petani, praktisi, stakeholders, dan akademisi penting dilakukan, artinya tidak berjalan masing masing, mesti ada sinergi lintas elemen.” ucapnya.

Tenaga Ahli PMD P3MD Jaswar, SP.Msc, bersama Hendri Saputra memandu acara diskusi terfokus yang diikuti oleh puluhan penyuluh, kepala Desa, pendamping Desa, petani dan praktisi.

Prof. Mohammad bin Osman dalam pemaparanya menyebutkan, “dari segi iklim, tanah, pola pertanian antara Indonesia dan Malaysia memiliki kemiripan terutama dalam penanaman padi, sawit, durian dan palawija. Indonesia memiliki lahan yang luas, namun produktivitasnya masih rendah. Hal tersebut dapat dikarenakan bibit yang digunakan kurang bagus. Tentu dalam berani diperlukan ilmu dalam memilih bibit, lahan, pola penanaman, dan lainnya”, sebut Prof. Mohammad.

“kita bangga dan senang ketika pemerintah Indonesia membuat program besar-besaran peremajaan lahan, termasuk lahan sawah padi, karet, juga sawit rakyat dengan menjaga kualitas bibit, pola penanaman dan perawatan. Mesti dilakukan dengan kualitas yang baik dan bermutu, hal tersebut yang membuat kualitas tanaman Malaysia lebih bagus,” ungkapnya.

Mohammad juga menyebutkan, saat ini luas lahan terutama sawit Indonesia menjapai sampai 12 miliar hektar. Dan diperkirakan akan bertambah menjadi 14 miliar hektar. Namun lahan yang luas tidak menjamin produksi bertambah, kalau tidak dirawat dengan bagus.

Profesor Mohammad juga juga membandingkan durian Indonesia terutama Aceh dan Malaysia. Malaysia dikenal dengan durian king. Di Thailand, hanya ada empat jenis durian. Sedangkan di Indonesia terdapat ratusan jenis durian, namun tidak ada yang bisa menjadi ciri khas baik dari segi nama, tempat maupun rasa.

Dalam sektor padi, ungkapnya, tantangan terberat di Asia Tenggara adalah generasi muda sedikit sekali yang mau dan ingin menjadi petani, termasuk di Malaysia.

Berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam bidang pertanian, Prof.madya Faridah Noor Mohd Noor dan Prof Suhaimi Nafis, mengajak generasi muda yang sekarang akrab dengan media sosial dapat memanfaatkannya untuk kepentingan peningkatan produksi, kemasan dan pemasaran.

“teknologi pertanian juga teknologi media yang sering digunakan oleh generasi muda, mestinya dimanfaatkan dengan  baik dan berdaya guna. Termasuk berharap kita, pemerintah baik Malaysia dan Indonesia dapat fokus meningkatkan kualitas produksi pertanian dengan pendekatan teknologi. Jika tidak, hasil pertanian akan minim dan masyarakat akan meninggalkan pertanian” sebutnya.

Editor:rdk

loading...
SHARE