Bawang Ilegal Ancam Keuntungan Petani Lokal

ilustrasi

Sebagai salah satu bahan baku bumbu dapur, bawang memegang peranan penting dipasaran. Sehingga tidak mengherankan, apabila stoknya menipis harganya langsung melonjak.  Bahkan pula, bawang merah menjadi salah satu komoditi yang ikut memberi andil terhadap inflasi didaerah.

Melirik dari tingkat kebutuhan bawang merah yang tinggi, seiring pula dengan harganya yang menggiurkan, maka tidak mengherankan apabila banyak beredar bawang merah selundupan yang dipasok dari negara lain secara diam-diam, atau disebut dengan ilegal.

Adanya bawang ilegal tersebut dibuktikan dengan adanya tangkapan dari petugas baik polisi TNI AL atau pihak bea cukai sendiri.

Alasan utama memasok bawang ilegal tersebut, jelas karena diuntungkan dengan kondisi dan tingkat kebutuhan bawang yang sangat tinggi didalam negeri. Harganya yang murah dinegara asal namun mengiurkan didalam negeri menjadi motivasi bagi para pelaku penyelundupan dalam melakukan aksinya.

Dari beberapa berita dimedia, menyebutkan bahwa bawang-bawang ilegal tersebut diselundupkan melalui pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada diwilayah pesisir tanah air dengan kapal-kapal kecil, sehingga sulit terpantau  oleh petugas. Selanjutnya didistribusikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga bawang pada umumnya.

Tentu saja, lagi-lagi alasan keuntungan yang memotivasi peredaran bawang ilegal dan sulit hilang. Tawaran keuntungan yang mengiurkan, secara pelan-pelan ikut melemahkan pendapatan bagi petani bawang didalam negeri bahkan petani lokal harus mengigit jari.

 Untuk kebijakan bawang impor secara legal saja, petani ada yang menjerit karena turunnya harga. Konon lagi, dengan adanya bawang yang dipasok secara ilegal tanpa dketahui jumlah dan kuotanya, maka semakin mengancam petani itu sendiri.

Bahkan pada awal 2019, sebagaimana dilansir dari republika.co.id (Senin 28 Jan 2019), harga bawang merah, didaerah sentra pertanian bawang merah di Pulau Jawa tepatnya didaerah Cirebon, sempat menyentuh harga Rp 6.000 / Kg. Harga tersebut, bukan saja anjlok akan tetapi terjun bebas yang membuat petani merugi.

Karena  modal yang dikeluarkan  untuk berbagai kebutuhan penanaman dengan pendapatan yang diperoleh sangat tidak sesuai bahkan jumlah pendapatan yang diperoleh tidak mampu menyamai dengan jumlah modal yang dikeluarkan.

Lebih parahnya lagi, petani juga terikat dengan kredit dengan pihak bank untuk kebutuhan penamaman bawang, akan tetapi dengan hasil yang diperoleh maka akan sulit bagi petani untuk membayar cicilan ke bank.

Dengan adanya penyelundupan bawang merah ilegal ini, disatu sisi jelas mengancam keuntungan petani. Begitu juga dari sisi penerimaan negara dari bea masuk barang impor juga jelas tidak ada, karena sifatnya ilegal dan dimasukkan bukan melalui pelabuhan resmi yang ditunjuk.

Selain tidak melalui jalur resmi dan merugikan penerimaan negara, penyelundupan bawang ilegal tanpa melalui proses karantina oleh pihak berwenang dibidang kesehatan pangan juga berdampak buruk terhadap kesehatan. Bisa saja, bawang yang dimasukkan secara ilegal membawa penyakit sehingga mengancam kesehatan konsumen ditanah air.

Mengingat besarnya dampak yang diakibatkan oleh bawang ilegal ini, maka pihak berwenang memperketat pengawasan terhadap barang selundupan. Selain mencegah kerugian negara dari sektor bea masuk, juga melindungi petani dan juga konsumen ditanah air. (*)

SHARE