Fenomena Kegilaan Global

Penulis: Kamaruddin Hasan

Kamaruddin Hasan

Kegilaan global, itulah kata yang pantas dilebelkan pada kondisi dan situasi dunia zaman now. Dunia bergerak tanpa batas dan terus berubah. Kita tanpa kuasa menghambatnya atau hanya sekedar memperlambat lajunya. Hanya sekedar mampu menyesuaikan dan mengikuti arusnya, kalau tidak tergilas olehnya. Perubahannya begitu cepat, sampai tak masuk akal lagi.

Bagi manusia kebanyakan di dunia inipun, untuk sekedar mempertanyakan tujuan, makna hidup dan identitas dirinya, mulai terlupakan. Mestinya melihat kembali kedalam diri, kedalam subyektivitas, tentu dengan memperhatikan spiritual batiniah. Subyektivitas, terletak dalam kemampuan manusia berpikir secara logis, rasional, dan tersistematis.

Manusia berpikir maka dia ada, manusia memilih maka dia ada. Ketika manusia berhenti berpikir, maka lambat laun kehilangan identitasnya sebagai manusia.  Tugas membuat pilihan ini ada pada setiap manusia, dan berlangsung dalam proses pergulatan batin untuk menentukan sebuah keputusan atau pilihan hidup. Otentisitas manusia hanya dapat diraih dalam keberaniannya untuk membuat keputusan dan pilihan-pilihan penting dalam hidupnya.

Keberadaan manusia adalah usaha pembangunan dunianya. Dunia dengan situasi dan kondisi apapun adalah dunia yang dibangun oleh manusia sendiri. Ia merupakan hasil dari projek manusia membangun dunianya. Suatu enterprise of world building. Bahwa dunia secara global; lingkungan hidup, alam, sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum, keamanan, kemanusiaan dan lain lain merupakan hasil proses konstruksi aktivitas manusia, sebagai proses dialektik antara eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Dan mesti diakui, dalam dunia global zaman sekarang, yang paling berbahaya adalah perilaku (destruktif) manusia.

Dipahami juga bahwa, dunia hasil bangunan atau konstruksi manusia, secara inhern adalah rawan. Rawan ketika terancam oleh fakta konsep diri dan identitas diri yang keliru, terlalu mementingkan diri sendiri, egoisme diri, individualisme, kebohongan, fitnat, kekerasan, etnosentrisme dan kelompok, dan tentu diperkuat oleh kebodohan manusia itu sendiri.

Terbukti bahwa, manusia sudah masuk kedalam perangkap arus kecenderungan memanjakan selera sesaat duniawi, arus konsumtif yang menghayutkan, arus pengkaburan identitas diri, tanda dan makna.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, manusia terjebak dalam arus dunia pasca fakta. Kebohongan, hoax, fitnah, amoral menjadi fakta. Selanjutnya secara bersamaan seperti tiba-tiba manusia merasa kehilangan identitas. Itulah kiranya suatu perjalanan  yang penuh paradok. Mengejar identitas sekaligus kehilangan identitas.

Fenomena kegilaan global, kebenaran tak lagi penting, yang dicari adalah kehebohan sesaat. Kebohongan merajalela, tipu daya menjadi keutamaan yang dibanggakan. Manusia tak lagi bisa membedakan, yang mana yang benar, dan yang mana yang palsu. Fitnahpun menjadi senjata untuk merebut apapun termasuk kekuasaan. Fitnah, yang didasarkan atas kebencian, bisa mempengaruhi keputusan hukum dan politik. Fitnah, kebohongan dan diskriminasi juga akhirnya mempengaruhi tata kelola politik nasional dan global.

Fakta, data rill tidak lagi menjadi factor penting, yang penting adalah sensasi yang mengaduk-aduk emosi, konten-konten di jaringan sosial lebih punya pengaruh besar, daripada data dan fakta tentang kenyataan yang ada. Dan ini semua menjadi pembenaran untuk kemalasan dan kedangkalan berpikir.

Walau fakta tak sama dengan kebenaran. Melainkan fakta sebagai unsur pembentuk kebenaran. Kebenaran itu lebih tinggi daripada fakta. Fakta pun tak pernah bebas nilai, karena ia selalu mengandung sudut pandang tertentu. Keduanya amat penting untuk konsep diri, dasar hidup pribadi dan hidup bersama.

Lihat juga bagaimana kegilaan global ini, dari konsep diri manusia yang cenderung individualistik, konsumtif, korupsi, materialistis dengan mengikuti arus kapitalisme. Akhirnya manusia kehilangan capital sosial. Inilah salah satu penyebab Kegilaan dan dapat membawa kehancuran manusia itu sendiri. Tak masuk akal dan sulit dibayangkan, mengapa bumi manusia dewasa ini senantiasa dipenuhi oleh kebohongan, fitnah, kekerasan, hujan air mata, darah, nyayian kepedihan, teriakan kesakitan, jeritan minta tolong dan jeritan kematian.

Disisi lain, praktek kegilaan melalui kekerasan diberbagai belahan dunia terus dipraktekkan bahkan dengan mengatas namakan demokrasi. Termasuk kekerasan dalam komunikasi, pola budaya monolog, komunikasi top down  komunikasai totaliterisme, kekerasan simbolik, komunikasi tanpa etika, keberingasan massa. Media kekerasan dan kekerasan media, penganiyaan, teror, intimidasi. Bahkan pada taraf membunuh  sudah menjadi ciri khas kegilaan gloabal manusia dewasa ini.

Kegilaan global ini, tidak saja meneror hati nurani, tetapi juga semakin mendorong manusia pada batas krusial antara zona kehidupan dan kematian peradaban bangsa. Tidak ada hormat terhadap jiwa manusia dan tidak ada empati untuk menjaga manusia secara manusiawi. Maraknya kegilaan global yang dilakukan secara individu maupun kolektif seolah menjadi tradisi baru, tradisi yang keluar atmosfir ketidakpastian dalam banyak hal di berbagai penjuru dunia tidak terkecuali negari ini.

Kegilaan global juga terlihat, banyak manusia hanya bisa menemukan ketenangan, jika ia menggunakan obat tertentu. Inilah alasan, mengapa banyak manusia yang terjebak kasus narkoba. Baginya, ketenangan batin dan kreativitas berkarya lahir, karena obat yang mereka minum. Inilah salah satu krisis manusia yang bahkan bisa mempengaruhi tingkat kegilaan manusia tersebut.

Sebuah bentuk fenomena kegilaan yang terjadi secara global. Semua hal menjadi terbalik. Nilai-nilai kebaikan diabaikan, dan nilai-nilai yang buruk justru menjadi dominan. Manusia-manusia berakhlak, bermoral, berkonsep diri, punya identitas diri, berprestasi tersingkir, sementara para penjilat, pembohong dan koruptor justru memiliki kedudukan-kedudukan penting. Mengambil istilah Nietzsche yang cocok untuk situasi dan kondisi tersebut adalah pembalikan semua nilai  atau die Umwertung aller Werte.

Kegilaan global dalam bentuk kekerasan juga dipamerkan dengan bangga dihampir seluruh belahan dunia, mulai dari sudut Balkan sampai ke wilayah tanduk Afrika, negara-negara latin; Kolumbia, sampai ke Fasifik seperti Fiji atau daratan Aborijin Australia. Bosnia, tepi barat jalur gaza, korea utara. Dari Asia Selatan seperti Srilangka hingga ke ke Chechnya di kawasan Kaukasus, negara-negara pecahan Uni soviet. Tetangga kita Thailand, Myanmar, Malaysia, Filipina, Indonesia dan dari Aceh, lampung, Jakarta  sampai ke Papua. Aceh sendiri dari ujung nol kilometer sabang sampai perbatasanya Aceh – sumatera utara.

Timur Tengah terus menjadi kawasan yang penuh dengan konflik. Konflik Israel dan Palestina meruncing belakangan ini. Tindak balas dendam memperbesar skala konflik, dan menimbulkan lebih banyak korban. Perang saudara di Suriah, yang meliputi ketegangan regional sekaligus global antara Rusia dan Amerika Serikat,  juga masih jauh dari berakhir.

Spanyol juga masih berkabung, karena serangan teroris di beberapa kotanya. Rasa takut masih tersebar luas tidak hanya di Spanyol, tetapi juga di berbagai negara Eropa. Penjuru Asia Tenggara dan Asia Selatan, hantu radikalisme masih kuat bergentayangan. Radikalisme tersebut lalu berkembang menjadi gerakan terorisme yang menyebar kekerasan dan ketakutan.

Di Indonesia, kegilaan juga banyak diperlihatkan pada masalah masalah bersifat multidimensional. Korupsi diberbagai tingkatan institusi pemerintah maupun swasta memperparah kegilaaan negri ini. Penegak hukum, yang menjadi ujung tombak upaya memerangi korupsi, justru kerap kali terlibat di dalam korupsi itu sendiri.

Bahkan kegilaan muncul dan dipraktekkan dalam beragam organisasi, mulai dari bisnis sampai dengan institusi pendidikan yang berakibat kegagalan tata kelola. Gagal membangun budaya organisasi yang unggul, yang justru terjebak dalam kegilaan korupsi, budaya menjilat, diskriminasi, iri hati dan berbagai praktek buruk lainnya.

Tentu, kegilaaan dalam bentuk apapun, salah satunya disebabkan oleh rangsangan pemikiran, yang telah menjadi ruang efektif untuk menghabiskan atau meminimalisir kuantitas dan kualitas kemanusiaan.

Ungkapan Kahlil Gibran, tehadap kegilaan global ini, ”aku mencari kesunyian, pengasingan dan kesendirian karena aku benci akan istana yang besar dan hebat yang disebut peradaban, karena bangunan dan arsitakturnya yang bagus dan berdiri tegak diatas bukit tengkorak manusia”.

Terkadang tidak tau lagi, mesti dimulai dari mana untuk mengimbangi dan memperbaiki kegilaan global ini. Walau demikian, penulis masih percaya, untuk melakukan perbaikan dan perubahan tersebut mesti dimulai dari lingkup kecil pribadi ke masyrakat global. Mulai dari intrapersonal (paling pribadi), personal, keluarga, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat terdekat, masyarakat, daerah , negara dan menyebar secara global dan mendunia.

Namun satu hal yang pasti, secara hakikat ada impian setiap manusia terutama yang masih “normal” lama terpendam. Bahwa ketika masih ada dan diberi waktu untuk melihat matahari esok pagi, ketika  bangun pagi tidak ada lagi kenyataan kegilaan dalam bentuk apapun. Termasuk kegilaan melalui media konvensional,  new media atau media sosial. Semoga.

 Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Malikussaleh

 

loading...
SHARE