Hakikat Komunikasi; Mendengarkan

Penulis: Kamaruddin Hasan

Kamaruddin Hasan Dalam Dialog Publik Pemilu di Jakarta

Dalam setiap gerak kehidupan, komunikasi menjadi salah satu kebutuhan primer manusia. Komunikasi berperan penting dalam keberhasilan dunia akhirat manusia. Para ahli menyepakati bahwa hampir dari seluruh waktu hidup manusia digunakan untuk berkomunikasi.

Hakikat utama dari komunikasi yang baik dan benar adalah adanya saling pengertian, tumbuh rasa kebersamaan, menyenangkan, rasa nyaman, mendengarkan dan muncul kebahagiaan setelah menjalankan proses komunikasi, dengan kata lain “mantap jiwa raga”.

Penting juga dipahami, bahwa komunikasi tidak hanya sebatas; teks, pesan, retorika, orasi, agitasi, propaganda, semiotika, wacana, makna, frame, gambar, karikatur, foto, atau media yang digunakan.

Komunikasi sebagai ilmu multidisiplin memiliki banyak perspektif yang mesti dikuasai. Perspektif yang sering terlupakan padahal sangat penting dalam tujuan konatif komunikasi adalah mendengarkan secara aktif dan efektif.

Karena salah satu hakikat komunikasi adalah mendengarkan. Mengapa begitu penting mendengarkan dalam proses komunikasi. Penelitian menunjukkan bahwa setiap manusia menghabiskan waktunya untuk bekerja dengan mendengarkan sekitar 50%. Nilai ini sama besarnya dengan nilai gabungan waktu yang dihabiskan untuk membaca, menonton, menulis dan berbicara.

Dalam komunikasi tertulis, kalimat, tata bahasa, dan format penyajian pesan harus diperhatikan kedua pihak sehingga pesan dan umpan balik dapat dipahami. Sedangkan dalam komunikasi lisan dan tatap muka, maka mendengarkan adalah cara untuk memahami pesan bagi komunikan dan memahami umpan balik bagi komunikator. Berbeda dengan komunikasi tertulis di mana pemahaman bisa tercapai dengan membaca ulang, mendengarkan memerlukan perhatian lebih karena pengulangan akan menyebabkan gangguan dalam komunikasi. Karena itu, baik komunikator maupun komunikan perlu mendengarkan secara aktif, sehingga pesan maupun umpan balik dapat dipahami dengan benar.

Bagi kita memposisikan diri sebagai pendengar aktif dan efektif bukanlah usaha yang mudah. Mesti dapat bersikap obyektif dan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh komunikan. Mendengarkan dengan efektif membutuhkan konsentrasi, pengalaman, dan keterampilan. Mendengarkan melibatkan pemrosesan suara di dalam setiap otak manusia, dengan cara dapat mengenal dan mengetahui maksud yang terucapkan lewat nada, raut wajah, gerak dan lain-lain. Memusatkan perhatian penuh terhadap informasi yang disampaikan.

Mendengarkan adalah proses mengalahkan kecenderungan dan persepsi diri sendiri, dan melepaskan sumbat yang memisahkan diri dari realitas. Mendengarkan bahkan sebagai langkah awal kita menundukkan ke-ego-an dan mengenal diri sendiri lebih baik lagi.

Walau mendengarkan secara aktif dan efektif hampir sulit bisa dilakukan oleh kebanyakan kita. Namun mesti terus diupayakan dan dilakukan, agar keegoan lambat laun dapat dikalahkan. Diakui dengan mendengarkan komunikasi berjalan degan efektif, ilmu bisa diserap, terhindar dari masalah, masalah dapat diselesaikan, ide gagasan dapat diwujudkan.

Sebagai contoh, para pemimpin dunia rata-rata memiliki kemampuan mendengar yang baik dan efektif, tentu dibarengi kemampuan berbicara. Benjamin Franklin pernah mengungkapkan, “mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diantara keutamaan yang hendak saya kembangkan”.

Bahkan hasil penelitian Rankin (1929) dan Bierker (1980)  menunjukan bahwa mendengar merupakan sarana komunikasi yang paling banyak digunakan.

Ketika berbicara, biasanya mendengarkan dalam beberapa tingkatan; ada yang mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya. Ada yang berpura-pura tidak mendengarkannya, ada yang mendengarkan tapi lebih selektif pada bagian-bagian tertentu dari pembicaraan. Ada juga mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan memfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkannya. Bagusnya, mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti dan menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata hati.

James K. Van Fleet 1996, dalam bukunya: “Key to Success with people” mengungkapkan seni mendengar yang efektif ketika mampu memberikan sepenuh hati pada orang lain, mendengarkan secara serius, menunjukkan minat pada perkataan orang, mengusahakan bebas dari gangguan, menunjukkan kesabaran, membuka pikiran, mendengar setiap gagasan,  menghargai isinya bukan cara penyampaiannya dan belajar mendengarkan apa yang tersirat.

Bagi David J Swartz dalam bukunya “The Magic of Thinking Big” 1996,  membagi seni mendengar dalam tiga tahapan; mendorong orang lain berbicara, menguji pandangan dalam bentuk pertanyaan dan mampu berkonsentrasi pada apa yang dikatakan orang lain. Dalam mendengar praktiknya membutuhkan adanya jiwa besar.

Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif. Mendengar yang baik bukan berharap datangnya giliran berbicara. Mendengar adalah komitmen untuk memahami pembicaraan dan perasaan. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang bicarakan adalah bermanfaat bagi pendengar.
Pada saat yang sama pendengar juga bisa mengambil manfaat yang maksimal dari pembicaraan tersebut. Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship.

Selain itu, diperlukan pemahaman yang merupakan proses penerimaan arti kata-kata yang disampaikan sehingga dapat sesuai dengan kata-kata yang keluar sebagai pembicara. Dengan kata lain topik pembicaraan yang disampaikan, disusun dan diulang kembali sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih memahaminya.

Setelah memahami pesan yang telah disampaikan, kemudian melakukan pengujian kemampuan berapa besar pesan tersebut dapat disimpan dan dicatat ke dalam suatu memori. Agar pesan dapat disimpan dalam jangka waktu lama, pendengar perlu melakukan konsentrasi penuh terhadap pesan yang dibicarakan. Hal ini bertujuan bahwa apabila sewaktu pesan dibutuhkan kembali, dapat digunakan sesuai apa yang telah didengarkan dan meminimalisir kesalahpahaman.

Proses penafsiran; proses memahami pesan yang disampaikan sesuai dengan ide, harapan dan pengalaman pribadi. Pesan yang disampaikan dihubungankan dengan pesan yang telah didengar, baca, lihat sebelumnya. Selanjutnya adalah proses mengevaluasi mengenai pesan yang disampaikan. Dengan kecakapan berpikir pendengar menilai yang diungkapkan oleh komunikan, membedakan fakta dan opini, serta mengevaluasi bukti yang dikemukakan.

Manfaat dari menjadi pendengar yang baik, membuat komunikan akan lebih mudah dalam menyampaikan pesan, ide, gagasan, harapan dan lain-lain. Hubungan antar individu, kelompok, komunitas, rakyat akan semakin baik. Mendorong manusia untuk tetap berkomunikasi secara baik.

Charles J. Stewartdan William B. Cash, menjelaskan empat pendekatan yang dapat digunakan dalam mendengarkan secara aktif dan efektif, yaitu mendengarkan untuk Pemahaman. Mendengarkan untuk pemahaman adalah pendekatan utama dalam menerima, memahami, dan mengingat pesan secara akurat dan lengkap. Tujuan mendengarkan untuk pemahaman adalah untuk berkonsentrasi pada pesan atau umpan balik agar mengerti dan tetap obyektif, serta menghindari sikap menilai.

Metode mendengarkan untuk pemahaman dapat dilakukan dengan dengarkan pertanyaan dengan seksama, sebelum menjawab. Dan sebaliknya, dengarkan jawaban, sebelum mengajukan pertanyaan berikutnya,  tenang tidak terburu-buru, dengarkan isi dan ide pesan atau umpan balik, catat hal-hal penting untuk mempertahankan informasi dan gunakan pertanyaan untuk mengklarifikasi informasi.

Kemudian mendengarkan untuk Empati. Mendengarkan untuk empati merupakan suatu cara untuk menunjukkan perhatian yang tulus, pengertian, dan keterlibatan. Usaha untuk memosisikan diri kita dalam sudut pandang komunikan guna mengerti dan mengapresiasi apa yang dipikir dan dialami komunikan. Caranya adalah tunjukkan ketertarikan, jangan memotong pembicaraan, tetap tenang, meskipun menangkap ungkapan emosi yang kuat, tetap tidak evaluatif, kecuali jika sangat diperlukan, saat mendengarkan tetap awas pada isyarat permintaan pilihan atau saran dan menjawablah dengan taktis dan penuh pengertian.

Mendengarkan untuk Evaluasi, bertujuan untuk menilai apa yang didengar dan dilihat saat berkomunikasi. Tehniknya adalah dengarkan secara seksama seluruh pesan dan umpan balik sebelum menilai. Dengarkan dengan seksama simbol verbal dalam bentuk kata-kata, pernyataan maupun argumentasi, dan perhatikan simbol nonverbal berupa raut wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Jika belum yakin, bertanyalah untuk meminta penjelasan. Dan hindari bersikap defensif.

Terakhir, mendengarkanuntuk kesepakatan (resolusi), bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan yang berfokus pada masalah bersama, bukan pada masalah masing-masing pihak, guna kesepakatan dan penyelesaian untuk kepentingan bersama. Mendengarkan untuk kesepakatan biasanya digunakan untuk rapat, negosiasi, dan pengambilan keputusan kelompok.

Panduan mendengarkan untuk kesepakatan antara lain, dorong pertukaran yang seimbang antar pihak yang berkomunikasi. Tumbuhkan kepercayaan bahwa tiap pihak dapat berkontribusi dalam pencapaian kesepakatan dan pemecahan masalah. Berfokuslah pada komunikasi, bukan pada masalah psikologi individu.

Contoh, jangan terjebak pada pembahasan kebutuhan masing-masing pihak terlalu dalam, tetapi berfokuslah pada apakah kebutuhan masing-masing pihak telah tersampaikan dan dimengerti pihak lain. Berfokus pada apa yang dapat dilaksanakan saat ini. Tidak perlu fokus pada apa yang telah terjadi, atau terlalu banyak memtimbangkan asumsi masa datang yang menjurus pada sikap berandai-andai. Dan saling memberikan dukungan atas kontribusi masing-masing pihak dalam upaya pencapaian kesepakatan, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.

Komunikasi merupakan keterampilan mendengarkan, keterampilan yang dapat dipelajari. Untuk dapat menjalankan komunikasi dengan baik, benar, efektif dan efisien maka perlu berlatih dan belajar secara seksama ilmu mendengarkan. Semoga bermanfaat terutama kids zaman now.

Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal

loading...
SHARE