Transformasi Rakyat: Konsumen Sekaligus Produsen dalam Konvergensi Media

sumber: NewsWriters.in

Oleh: Kamaruddin Hasan

Digitalisasi menjadi dasar perkembangnya teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini yang telah merubah dunia media massa. Teknologi telekomunikasi dan informasi konvensional yang bersifat massif mampu digabungkan dengan teknologi komputer yang bersifat interaktif.

Sistem analog tergantikan oleh sistem digital, melahirkan fenomena baru yang kita disebut dengan konvergensi. Teknologi komunikasi dn informasi inilah yang telah memungkinkan dunia media yang konvergen. Kebutuhan komunikasi dan interaktivitas manusialah menuntut percepatan terciptanya perkembangan teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu untuk terus melakukan proses komunikasi terutama dalam berinteraksi. Artinya internet dan konvergensi menyediakan ruang untuk kebutuhan tersebut.

Konvergensi merupakan bergabungnya media telekomunikasi tradisional dengan internet sekaligus. Kunci dari konvergensi adalah digitalisasi. Karena informasi yang dikirim merupakan format digital, konvergensi mengarah pada penciptaan produk-produk yang aplikatif yang mampu melakukan fungsi audiovisual sekaligus komputasi. Bersatunya tehnologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menghasilkan konvergensi dan digitalisasi media. Konvergensi secara umum memanfaatkan penyatuan dari berbagai layanan yaitu dibidang teknologi komunikasi serta informasi dikenal dengan istilah ICTS (Information and communication technology and services). Konvergensi yang merupakan pemusatan atau penggabungan media komunikasi yang semula hanya single platform menjadi multi platform.

Artinya komputer saat ini dapat difungsikan sebagai pesawat televisi, atau telepon genggam dapat menerima suara, tulisan, data maupun gambar tiga dimensi. Dunia penyiaran misalnya, digitalisasi memungkinkan siaran televisi memiliki layanan program seperti laiknya internet. Cukup dengan satu perangkat, seseorang sudah dapat mengakses surat kabar, menikmati hiburan televisi, mendengar radio, mencari informasi sesuai selera, dan bahkan menelpon sekalipun.

Ruang keluarga yang dulu menjadi tempat anggota keluarga berkumpul untuk bersantai, berdiskusi, saling becanda,  menonton televisi, kini mulai berubah. Pengguna media kontemporer, di satu sisi menjadi pengguna personal media seperti smartphone, blackberry, tablet, personal computer, TV dan lain-lain. Namun di sisi lain secara aktif berbagi dan menghasilkan informasi dengan menggunakan media yang berbeda-beda tanpa dibatasi oleh ruang, tempat dan waktu.

Bersamaan dengan perkembangan tersebut, menggambarkan transformasi rakyat dari selain konsumen sekaligus menjadi produsen media. Artinya pengguna media juga berkembang seiring dengan konvergensi media. Bahkan untuk saat ini istilah pengguna media mulai banyak dipakai dalam studi komunikasi untuk menggantikan istilah khalayak atau audience.

Pakar komunikasi dan budaya John Fiske, dalam bukunya Cultural and Communication Studies mengungkapkan kode-kode digital lebih mudah dipahami karena unit-unitnya dibedakan dengan jelas, berlainan dengan kode-kode analog yang bekerja dalam suatu skala kontinu. Jadi tidaklah heran jika dalam orientasi perkembangan peradaban manusia mengarah pada proses digitalisasi atau dengan kata lain proses menuju kemudahan, kelengkapan, dan kecepatan dalam mendapatkan dan memahami berbagai informasi dalam memenuhi kebutuhan berkomunikasi.

Konvergensi dengan digitalisasi sebagai dasarnya, dari sisi bisnis menjanjikan efisiensi biaya yang cukup signifikan dengan area cakupan yang lebih luas, kualitas pelayanan yang lebih baik dan mampu melayani pengguna jasa media berdasarkan kebutuhan. Namun yang jauh lebih penting adalah digitalisasi mampu mendesak kelahiran beragam kreativitas dalam penyajian konten sehingga area cakupan bisnis dapat lebih diperluas cakupannya.

Artinya konvergensi media menyediakan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk konten atau informasi secara visual, audio, data dan lain sebagainya.

Namun disisi lain, konvergensi media bukan saja sekadar memperlihatkan bekerjanya information and communication technology di ranah media, namun menumbuhkan serangkaian konsekuensi baru baik pada tatanan teoritis maupun praktis dalam dunia komunikasi.

Dalam landasan tatanan teoritik, definisi komunikasi massa konvensional, semestinya patut diperdebatkan dan ditinjau ulang. Konvergensi menyebabkan perubahan signifikan pada ciri-ciri komunikasi massa konvensional. Media konvergen memunculkan karakter baru yang makin interaktif dan inovatif. Media konvergen menyebabkan derajat massivitas massa berkurang, karena komunikasinya makin personal dan interaktif. Konvergensi teknologi komunikasi baru sangat memungkinkan terciptanya komunikasi interpersonal yang termediasi.

Dalam hal ini, beberapa pakar seperti Abercrombie dan Longhurst (1998) menyatakan bahwa dalam dunia media konvergen, kekuasaan institusi media yang kuat dan terpusat menjadi hilang. Akibatnya, pengaruh satu arah institusi media terhadap pengguna media kontemporer lenyap pula. Para akademisi ini menggagas konsep pengguna media yang membaur (diffused audience), karena batasan antara pengguna (konsumen) dan penghasil (produsen) tidak lagi ada. Artinya, pengguna media adalah sekaligus penghasil informasi yang terbebas dari pengaruh institusi media, berbeda dengan konsep sebelumnya yang menggambarkan khalayak pasif.

Namun demikian, permasalahannya, para pakar ini melupakan kondisi-kondisi lokal yang tidak dapat digeneralisasi. Seperti disebutkan oleh pakar komunikasi lainnya seperti Bird, 2003, Inés Langer 2005, Couldry, 2005; Hjorth, 2008; Takahashi, 2010, Doueihi, 2011,  Kakar, 2012; Ahrens, 2013 bahwa budaya media yang konvergen pada akhirnya jadi amat tergantung kepada faktor-faktor yang saling berhubungan seperti gender, infrastruktur, politik, ekonomi, geografi, ekonomi dan pendidikan.

Artinya, walaupun pengguna media memiliki kebebasan untuk menghasilkan informasi, kebebasan mereka tidak absolut, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebut di atas. Dengan kata lain, walaupun pengguna media kontemporer yang lebih dikenal dengan istilah produser yang disebut producer dan user oleh  Bruns, 2006 bebas dari pengaruh kekuasaan institusi media, mereka tidak bebas dari ‘kekuasaan’ lain yang berlalu lalang dalam konteks keseharian pengguna media kontemporer ini. Kondisi ini, menurut Couldry, menyebabkan pengalaman berinteraksi dengan media mengalami transformasi.

Pengalaman menggunakan media bukan hanya tidak lagi seragam seperti pengalaman khalayak yang pasif, tetapi juga beragam – tergantung pada konteks pengguna media. Menurut Couldry, transformasi ini membuka peluang para peneliti komunikasi untuk membuka cakrawala baru dalam ranah penelitian komunikasi. Peneliti ditantang untuk tidak hanya melihat interaksi pengguna media dalam dunia media yang konvergen, tetapi juga melihat interaksi mereka dengan ‘hubungan kekuasaan’ dalam budaya media secara luas.

Kalau dilihat dari sudut pandang ekonomi politik media, konvergensi dapat berarti peluang profesi baru yang sangat menjanjikan. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada pengelola media konvergen untuk memperluas pilihan pengguna media atau khalayak sesuai selera. Karena tersedianya sejumlah pilihan akses sekaligus.

Namun demikian, perspektif ekonomi politik dalam konvergensi dapat berpeluang menciptakan kelompok dominan baru yang akan dapat menghegemoni atau menjadi penguasa pasar media. Misalnya dalam konsentrasi kepemilikan media salah satunya. Sektor-sektor media yang berbeda akan bergabung dan menghidupkan konglomerasi dan kaaitalisme. Padahal, manakala kepemilikan baik secara vertikal maupun horizontal sudah dikuasai oleh sekelompok, ekses lanjutannya senantiasa tidak menyenangkan. Konvergensi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu untuk menyebarkan gagasan-gagasan politik secara lebih leluasa dibandingkan dengan media massa konvensional.

Pemilik modal yang berafiliasi dengan kelompok politik, konvergensi memberi peluang yang labih terbuka untuk mentransformasikan gagasan politik tertentu untuk meraup suara publik. Artinya konvergensi media juga berpotensi menjadi medium monopoli, hegemoni baru bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik untuk meraih keuntungan sepihak. Konfigurasi kekuatan semacam ini dapat mengancam kehidupan demokrasi, karena, hakikatnya suara rakyat cenderung akan dikendalian oleh kekuatan dominan dari pemilik modal sekaligus kelompok kepentingan. Konvergensi media adalah sebuah strategi ekonomi politik, di mana perusahaan-perusahaan komunikasi mencari keuntungan finansial dan kekuasaan.

Dari perspektif kebudayaan, pola perilaku rakyat tentu akan berubah seiring dengan perkembangan media konvergen. Digitalisasi media menyebabkan kurang pentingnya memisahkan isi media dari sisi produksi, editing, distribusi dan penyimpanannya. Bentuk dan isi media akan berubah mengikuti perkembangan teknologi. Konvergensi akan mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak.

Strategi konvergensi media yang dewasa ini dijalankan sejumlah perusahaan media massa pers di Indonesia, tampaknya lebih mendekati strategi yang disebutkan, yang mencakup konvergensi teknologi, konten multimedia, kepemilikan, kolaborasi, dan koordinasi. Hampir semua perusahaan media massa di Indonesia yang telah mengembangkan praktik konvergensi media, berangkat dari kepemilikan konten multimedia dalam tubuh satu kelompok usaha yang sama, seperti konten suratkabar, majalah, radio, televisi, dan online.

Alasan media melakukan konvergensi, misalnya dalam; shared reporting, dalam ide bisnis dapat menghemat pengluaran. menekankan sisi efektivitas dan keefisienan dengan staf sedikit. Kemudian Audience, dengan menggabungkan berbagai media sebagai sumber penyebaran informasi, Media yang terkonvergensi mampu meningkatkan cakupan publik, khalayak, pembaca, audience atau pengguna media. Kemudian visibilitas, yakni meningkatkan kapabilitas dan kualitas konten, acara atau berita.

Namun dari semua hal tersebut, yang perlu dikritisi adalah konvergensi media juga memiliki sisi negatif  atau the dark side of convergence  yaitu adanya kemungkinan tertutupnya persaingan. Karena bentuk konvergensi berbanding lurus dengan pola konglomerasi media dan akuisisi media oleh organisasi media yang lebih besar sehingga muncul sebuah kepemilikan tunggal dalam sebuah industri media. Hal tersebut tentu masalah yang dapat mengancam terciptanya suatu kondisi rakyat yang demokratis.

Dapat kita dikatakan, konvergensi media juga mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak atau rakyat. Konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan.

Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Unimal Aceh

Email: kamaruddin.unimal@gmail.com HP. 0813 9502 9273

loading...
SHARE