Pasangan Pelaku Penganiaya Anak Diancam 10 Tahun Penjara


pasangan pelaku penganiayan anak dibawah umur yang merupakan orang tua kandung dan orang tua tiri korban, Jumat (20/9). (Zona Media/muchlis)

Lhokseumawe – Pasangan suami istri pelaku penganiaya anak di Gampong Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, yang berinisial UG (34) ibu kandung korban  dan MI (39) ayah tiri korban diancam pidana 10 tahun penjara.

“ Tersangka diancam pidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah),” ungkap Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP. Indra T Herlambang, kepada wartawan di Mapolres Lhokseumawe, Jumat (20/9).

Sebutnya, kepada kedua tersangka diancam dengan Pasal 88 Jo Pasal 76 huruf (i) UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 44 Ayat (1) Jo Pasal 45 Ayat (1) UU RI No 23 Tahun 2004 Tentang P-KDRT Jo Pasal 65 KUHP.

Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe menceritakan kronologis penganiyaan korban dibawah umur yang berinisial MS (9). Dimana disebutkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, pertama kali UG memukul korban yaitu pada saat korban berumur 6 tahun, dengan cara mencubit dibagian paha Korban dengan sekuat tenaga hingga paha Korban mengalami memar kebiruan, dikarenakan Korban tidak menuruti perintah UG untuk menjadi pengemis di seputaran Kota Lhokseumawe.

Kemudian pada tahun 2018, korban bersama kakak kandung korban meminta sedekah (mengemis) akan tetapi pada saat itu Korban maupun kakak kandung Korban tidak menghasilkan uang yang sudah ditargetkan oleh UG sebesar Rp 100.000, dikarenakan Korban membawa pulang uang tidak sesuai target sehingga UG marah dan memukuli Korban dengan cara melibas dibagian badan belakang Korban dengan menggunakan tali rem sepeda yang terbuat dari besi lebih dari tiga kali hingga badan belakang Korban mengalami goresan luka mermar.

Setelah kejadian tersebut, korban bersama kakak kandungnya lebih giat untuk mencari uang sedekah (mengemis) dan pernah salah satu malam Korban bersama kakak kandung Korban tidak mendapatkan hasil uang sedekah yang sudah ditargetkan oleh UG dan saat itu UG sangat emosi dan memukuli Korban dengan menggunakan satu buah gelas kopi dibagian  kepala Korban hingga Korban mengeluarkan darah, akan tetapi Korban hanya diam dan membersihkan darah yang telah mengalir dikepala Korban dengan tisu hingga luka darah dibagian kepala Korban sembuh dengan sendirinya.

Selanjutnya pada bulan januari 2019, Korban tidak mendapatkan uang sehingga korban tidak berani untuk pulang ke rumah dikarenakan takut akan dipukul oleh UG dan ketika Korban ditengah perjalanan Korban berjumpa dengan MI dan kemudian Korban di tangkap dan ditampar dibagian wajah Korban sebanyak dua kali dan membawa Korban pulang ke rumah dan sesampainya dirumah Korban diikat kembali dengan menggunakan rantai besi dan lalu MI Korban mengatakan “ dasar anak bandel” sambil menginjak-nginjak rantai yang sudah terikat dikaki Korban berulang kali hingga kaki Korban saat itu mengalami luka memar dan Korban pun diikat dengan rantai besi kurang lebih selama empat hari lamanya.

Pada hari senin tanggal 16 september 2019, sekitar pukul 00.00 Wib Korban pulang dari minta sedekah (mengemis) dan Korban mendapatkan penghasilan sekitar kurang lebih Rp.60.000,-, setelah Korban sampai di rumah Korban melihat UG maupun MI sudah terlelap tidur dan Korban juga beristirahat saat itu, lalu sekitar Pukul 05.00 Wib Korban tersadar dari tidur dikarenakan Korban takut di marah dan dipukul oleh UG sebab korban membawa pulang uang tidak sesuai target yang di tentukan UG, sehingga Korban berinisiatif untuk kabur dari rumah dan berjalan kaki menuju rumah kakek kandung Korban tepatnya di belakang supermarket Sejahtera selama kurang lebih satu hari Korban tidak berani untuk pulang ke rumah Korban.

Pada hari selasa tanggal 17 September 2019, sekira Pkl 06.00 Wib Korban sedang istirahat dirumah teman Korban tepatnya di Desa Pusong dan tiba-tiba MI datang dan langsung menarik tanggan Korban dan membawa Korban kebecak dayung dengan mengatakan “ ayok pulang sekarang…gara-gara kau aku ribut sama kawan aku” sambil menampar dibagian wajah Korban sebanyak satu kali dan langsung membawa Korban pergi keseputaran Kota Lhokseumawe untuk mencari barang bekas dan sekitar pkl 07.30 Wib Korban dibawa pulang oleh MI dan sesampainya dirumah MI langsung mengikat Korban dengan menggunakan rantai besi yang di kunci dengan gembok, kata AKP. Indra T Herlambang.

Sementara itu, terungkapnya kasus tersebut terjadi pada Rabu (18/9) sore, laporan tetangga korban kepada babinsa Koramil Banda Sakti. Lalu petugas Babinsa tersebut berkordinasi dengan Polsek Banda Sakti mendatangi rumah korban dan mendapati korban yang dirantai.

Kembali kepada Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, Pada pukul 17.00 Wib Petugas Unit PPA Sat Reskrim Polres Lhokseumawe menerima serahan korban dan kedua pelaku tindak pidana Ekploitasi dan Penganiayaan terhadap anak, korban dan kedua pelaku diserahkan oleh anggota Polsek Banda Sakti dan Babinsa Desa Tumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

“ Setelah mengeluarkan surat perintah, serta melakukan pemeriksaan terhadap korban dan saksi-saksi. Selanjutnya setelah terbukti melakukan penganiayaan maka dilakukan penahanan terhadap tersangka  (atas dasar perkara KDRT),” ucap Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe. (Muchlis)

SHARE