Anak korban Salah Transfusi Darah di Tahun Lalu Minta Keadilan

Editor:rdk

Lhokseumawe – Musliadi Salidan
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas  Malikussaleh Meminta keadilan terhadap kasus  ibundanya yang menjadi korban salah transfusi darah yang tak kunjung selesai.

Saya tidak tahu lagi harus memulai dari mana untuk bercerita. Sungguh derita ini sangat menyiksa. Andaikan air mata bukanlah ciptaan Allah, sungguh sudah keringlah Krueng Pasee, bersebab di tiap doa yang saya panjatkan, selalu berharap hadirnya keadilan untuk kami, khususnya untuk ibu saya. Ungkap musliadi salidan melalui rilis persnya kepada media zonamedia.co, Selasa, (3/10/2017).

Perkenalkan, nama saya Musliadi, anak dari seorang ibu bernama Badriah Daud, korban salah transfusi darah di RS Arun, Lhokseumawe, yang kini harus menderita karena kesalahan oknum paramedis di sana. Baiklah saya akan bercerita sedikit tentang kisah pilu itu:

Setahun yang lalu, ibu saya (Badriah Daud) berobat ke RS Arun. Namun ketika itu terjadilah kemalangan, paramedis di sana melakukan kesalahan fatal. Mereka salah mentranfusi darah ke tubuh ibu saya. Ibu saya bergolongan darah O, tapi yang ditranfusi adalah darah B. Peristiwa itu terjadi pada 3 Maret 2016.

Sementara itu, dalam kasus tersebut, polisi telah menetapkan tiga tersangka, dua petugas Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Aceh Utara, dan seorang petugas/perawat RS Arun.
namun sungguh terlalu. Seolah hukum mati di depan mereka yang berduit. Walau sudah berlangsung nyaris dua tahun, tak kunjung datang pertangung jawaban dari mereka. Berkali-kali kami sudah berteriak, namun semua teriakan itu raib bersama angin yang menghempas “kemunafikanya” manusia, jelasnya.

“Lanjutnya, Disaat kondisi kesehatan beliau kadang menurun. terpaksa keluarga memilih untuk merawat Ibunda sendiri di rumah walaupun ilmu dan peralatan medis yang  masih sangat terbatas. Rasa sedih melihat kondisi ibunda terus begini selaku anak sudah sangatlah pasti. namun apa boleh buat tiada tempat untuk kami mengadu dan berharap belas kasih. Karena keluarga kami bukan dari lingkar kekuasaan. maka jalannya tidaklah selalu mudah, untuk berobat saja harus dengan kartu BPJS yang dibagikan dikampung tempat tinggal kami.

Segala usaha dan upaya sudah kami tempuh demi untuk kesembuhan ibunda yang kami cintai. namun Allah Swt belum memberikan mukjizatnya kepada kami dan kondisi beliau semakin hari semakin-kian melemas

Ibu selagi tubuhmu masih bernafas dan jantung mu masih berdetak aku akan selalu senantiasa untuk merawat dan menjagamu memperjuangkan keadilan untukmu. Walaupun tubuh ini sudah sangat merasa lelah dan letih serta mungkin sudah tidak ada lagi yang mau mendengar dan peduli untuk meringankan penderitaanmu, saya tetap akan menyuarakan keadilan untukmu meski sendiri

Hari-hari ini, ibu saya sudah tidak mampu lagi pulih seperti sediakala. Ia sudah harus menghabiskan hari-hari tuanya di tempat tidur. Bilapun hendak melangkah, itupun sudah tidak bisa hanya mampu berdoa semoga keadilan itu datang kepada nya. Harapnya.

Muhammad Furqan

loading...
SHARE