Kendala Pasokan, Cabai Merah Beri Andil Inflasi Di Lhokseumawe

Cabai merah menjadi salah satu komoditi yang memberi andil inflasi pada bulan Juni di Kota Lhokseumawe.(Foto: Muchlis)

Lhokseumawe- Akibat terkendala pasokan cabai merah dari daerah produsen, menjadi salah satu penyumbang inflasi di Kota Lhokseumawe pada bulan Juni sebesar 0.30 persen.

Dari data inflasi yang disampaikan oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Lhokseumawe, menyebutkan bahwa Inflasi cabai merah disebabkan oleh keterbatasan pasokan sehubungan dengan periode tanam yang belum dimulai, sedangkan permintaan masih tinggi, ungkap Yufrizal Kepala KPw BI Lhokseumawe, Selasa.

Lanjutnya, demikian juga dengan komoditas cabe hijau yang banyak bersumber dari luar daerah juga  mengalami keterbatasan pasokan. Sehingga dari komponen gejolak bahan makanan memberi andil terhadap inflasi sebesar 0.77 persen.

Sementara itu, berdasarkan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Lhokseumawe pada bulan Juni 2019 terlihat melambat. Dimana, pada Juni 2019 Kota Lhokseumawe tercatat mengalami inflasisebesar 0,30 persen, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan Mei 2019 sebesar 0,86 persen.

Dirincikan, Inflasi Kota Lhokseumawe bulan Juni 2019 terutama bersumber dariKomponen Bergejolak (Volatile Food) yang memberikan andilinflasi sebesar 0,21 persen. Andil inflasi juga bersumber dari Komponen Inti sebesar 0,09 persen. SementaraKomponen Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Price) mengalami deflasi tipis dengan andil sebesar (-) 0,001 persen.

Sedangkan KomponenVolatile Foods pada bulan Juni 2019 mengalami inflasisebesar0,77 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,71 persen. Lima komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu cabai merah (0,23 persen, cumi-cumi (0,07 pesern), daging ayam ras (0,06 pesern), cabe hijau (0,04 persen) dan tongkol (0,04 persen). Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain udang basah (-0,07 persen), bawang putih (-0,06 persen), ikan kembung (-0,05 persen), pisang(-0,04 persen), dan ikan bandeng(-0,03 persen).

“ Ke depan, inflasi akan tetap dijaga sehingga berada pada sasaran inflasi 2019, yaitu 3,5±1 persen. Untuk itu, koordinasi antara Pemerintah, Bank Indonesia  dan lembaga terkait yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat dalam menghadapi sejumlah risiko yang dapat mendorong kenaikan harga,” pungkas Yufrizal. (Muchlis)

SHARE