Melirik Wisata Bahari Di Lhokseumawe

Pesonanya Sulit Terlupakan…

Suasana di Pantai Ujong Blang (Foto Muchlis)

Laporan Muchlis Gur Dhum

Lhokseumawe. Begitu orang menyebutnya. Kota yang berpisah dari induknya Kabupaten Aceh Utara sejak 2001 silam, begitu banyak menyimpan potensi wisata. Mulai dari pantainya yang masih eksotis, sejarah panjang yang masih menyisakan bekas hingga keanekaragaman budaya yang masih eksis.

Potensi wisata di Kota yang terletak di bagian utara Aceh itu, serta berhadapan langsung dengan bibir Selat Malaka, banyak yang menarik untuk dikunjungi. Selain paniorama alamnya, juga dapat menjadi napak tilas membaca sejarah tempo dulu.

Bahkan, kata Lhokseumawe sendiri, lahir karena adanya dua pertemuan arus air di Krueng Cunda dari dua muara berbeda yang menyebabkan air berputar-putar, yang dalam istilah lokal disebut dengan “Ie meu weu-weu”.

Melirik Kota Lhokseumawe sendiri, jika ingin mengunjungi daratannya, harus melewati jembatan penghubung yang memotong aliran sungai Cunda, yang membelah antara daratan Pulau Sumatera dengan pusat Kota Lhokseumawe sendiri.

Krueng Cunda ini, pada masa lalu disebut-sebut sebagai salah satu jalur lalulintas kapal-kapal dagang. Di Krueng Cunda ini juga hidup berbagai habitat ekosistem air yang khas. Seperti ikan, udang, jenis kepiting bakau dan lain sebagainya.

Nelayan di aliran Krueng Cunda (foto Muchlis)

Namun karena seiring waktu, banyak terjadi perubahan pada aliran sungai khas Lhokseumawe itu. Kini, disepanjang aliran Krueng Cunda, banyak berdiri warung kuliner yang menyediakan makanan dan minuman khas. Untuk minuman yang paling khas adalah air tebu.

Menikmati senja hari di Krueng Cunda sangatlah mengesankan,  Nun jauh disana di atas kaki Bukit Cot Panggoi,  matahari semakin merebahkan dirinya ke ufuk Barat, hingga kemilau sinar kemerah-kemerahan yang menyilau keluar dari bias sang surya itu, menyinari kaki langit. Laksana taburan emas diatas mega yang ber arak.

Sementara itu, beberapa anak kecil di pinggiran Kreung Cunda, Lhokseumawe, larut dalam kesibukannya, diantara lumpur dan air di sungai yang telah surut itu. Anak-anak ini adalah menunggui orang tua mereka yang sedang mencari tiram di sungai ini. Mereka berlari –lari  kecil dan bercengkrama dengan sesamanya, sambil sesekali tangan kecilnya  menyodok lumpur, seperti mencari sesuatu.     

Karena, memang disaat air surut, warga sekitar memanfaatkan aliran sungai ini untuk mencari tiram atau kerang. Dimana, aliran sungai ini begitu banyak menyimpan potensi tersebut yang dapat dimanfaatkan warga.

Lalu pada siang harinya kala air pasang, disaat angin berhembus sepoi-sepoi kita melihat sampan-sampan kecil hilir mudik menjaring ikan, dengan sebatang rokok terselip di bibir, nelayan-nelayan sungai itu, menikmati puasnya hidup ditengah alunan riak air Krueng Cunda.

Tidaklah sulit untuk mencari pemandangan alam bahari di Lhokseumawe. Namun di pusat Kota Lhokseumawe sendiri untuk tempat santai dan melepas kejenuhan sambil menikmati sepiring rujak Aceh plus kelapa muda, dapat mengujungi pantai Ujong Blang.

Di sepanjang pinggir pantai ini, terdapat warung-warung kecil yang menyediakan khas rujak Aceh dan juga kepala muda. Tentu sangat menyegarkan menikmati sepiring rujak dan kelapa muda disaat teriknya matahari sambil menikmati nada ombak dan hembusan sepoinya angin dipantai yang berhubungan langsung dengan Selat Malaka itu.

Di pantai ini, jika belum pandai berenang tidak perlu risau, karena selain ada petugas SAR yang hilir mudik pada saat-saat hari ramai seperti Minggu dan hari libur lainnya, juga ada jasa penyewaan ban.

Bahkan, jika anda ingin merasakan sensasi mengarungi lautan, ada juga boat-boat nelayan yang disewakan, anda akan bisa menikmati bebasnya meluncur diatas permukaan air.

Pantai Ujong Blang tidak hanya indah dari segi bahari, ternyata dipantai ini juga menyimpan sejarah terhadap pendudukan masa Dai Nippon dulu. Buktinya, di sepanjang pantai itu, masih ada menyimpan bunker-bunker milik tentara Jepang. Konon sejarah mengabarkan, bunker-bunker tersebut, sebagai alat bangunan pelindung terhadap tugas tentara Jepang yang berjaga-jaga terhadap pendaratan pasukan lain. 

Masih disepanjang pantai itu, jika agak menjorok ke arah timur tepatnya kearah pusat kota, kita akan disuguhkan kesibukan dikampung nelayan. Atau tepatnya di Pantai Pusong, dimana hampir tiap saat bisa menyaksikan, nelayan-nelayan kecil yang menarik pukat darat. Selain itu, sebagian besar mereka sibuk mengolah dan menjemur ikan untuk dijadikan ikan asin dengan berbagai jenis. Produksi ikan asin dengan berbagai jenis yang berasal dari Pusong ini, dipasarkan hingga keluar daerah dan menjadi salah satu komoditi andalan warga setempat.

Pemandangan wisata bahari di Kota Lhokseumawe, bukan hanya di pantai Ujong Blang dan Pusong saja, namun kita dapat melihat pemandangan Pantai Meuraksa. Pantai  yang terletak diujung utara Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, bisa dikatakan masih sangat asri sekali.

Pantai yang jarang dikunjungi ini,  pesonanya sangat mengesankan.  Karena selain bersih juga masih sangat rindang, berbagai pepohonan ciri khas pantai terutama jenis pohon Waru, Ketapang dan pandan, masih tersebar dipinggirannya.

Dedaunan pohon kelapa yang masih begitu banyak disini, kala ditiup angin seakan-akan melambai-lambaikan , seakan-akan memanggil sang pelaut untuk berteduh di bawahnya yang menawarkan keteduhan dengan simphoni irama alami.

Begitu juga hamparan Pasir putih bersih dengan gundukan-gundukan kecil menghadirkan suasana eksotis, di pantai yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka itu. Sedikit mengarahkan pandangan ke arah barat, akan tampak Kota Lhokseumawe bagai kapal besar terapung diatas air.

Pulau Seumadu yang terletak di Kec.Muara Satu, juga tak kalah menariknya untuk dikunjungi. Pantai disini terbilang masih asri dan juga layak untuk dijadikan tempat refreshing bersama keluarga. Di pantai yang berbatasan langsung dengan bangunan instalasi pengolahan gas alam PT.Arun ini, banyak terdapat gubuk-gubuk kecil yang terhampar di tiap celahnya.

Bahkan, dipantai ini ada hamparan pulau kecil, yang dapat dijangkau dengan melalui jembatan-jembatan kecil yang dibangun oleh warga setempat. Pantai ini, ramai dikunjungi oleh warga pada saat liburan dan hari besar. Bahkan, bukan hanya warga Lhokseumawe yang menikmati keindahannya, banyak juga wisatawan lokal dari daerah lain ramai mengunjungi pantai ini, terutama pada hari-hari libur.

Itulah sekelumit tentang pesona bahari di Kota Lhokseumawe, yang layak dikunjungi untuk menikmati keindahan alamnya.

Namun, di Lhokseumawe juga banyak menyimpan sejarah yang patut juga untuk dikunjungi. Seperti “Guha Jepang” yang terletak di Cot Panggoi, Kec. Muara Satu. Disebut Guha Jepang, karena pada saat pendudukan tentara Jepang, mereka membangun terowongan gua sebagai tempat berlindung.

Gua ini juga dibangun diatas perbukitan yang menghadap langsung ke arah lautan. Sehingga selain mudah memantau pergerakan pasukan asing kala itu, juga dapat dijadikan lobang persembunyian.  Gua ini sendiri, sedang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk dijadikan sebagai salah satu objek wisata bersejarah.

Bahkan, masih dikecamatan yang sama, tepatnya di Gampong Blang Pulo, juga terdapat makam Putroe Neng, salah seorang putri dari negeri Cina yang banyak menyimpan kisah lama.

Terhadap pengembangan sektor pariwisata, Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya, mengatakan, akan terus membenah agar dapat memiliki nilai jual. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dari sektor dimaksud.

Bahkan, ungkapnya,  sektor pariwisata di Kota Lhokseumawe harus terus dikembangkan. Karena Lhokseumawe memiliki potensi besar terhadap berbagai sektor yang mendukung dunia kepariwisataan. Mulai dari wisata bahari, kuliner dan lain sebagainya yang memiliki nilai jual yang tinggi.  

“Sudah saatnya pariwisata di Kota Lhokseumawe, dikembangkan secara benar dan terprogram secara baik dan menunjang peningkatan ekonomi masyarakat”.

Namun pada pelaksanaannya,  berbagai jenis wisata tersebut dapat dikemas secara seimbang, tidak hanya menampilkan keindahan alam saja melainkan hal-hal lainnya yang menjadi nilai tarik dan nilai khas Kota Lhokseumawe juga harus dikembangkan. Seperti adat budaya dan juga seni kebudayaan lainnya.

Tambah walikota, terhadap berbagai rumusan pokok-pokok kebijaksanaan dan perencanaan serta pemanfaatan pembangunan pariwisata di daerah, didalamnya harus mencakup aspek tata ruang, usaha pariwisata, faktor penunjang dan pengembangan kepariwisataan secara berlanjut dan berwawasan lingkungan.

Serta tetap mengedepankan azas manfaat, agar berhasil guna. juga mampu melestarikan nilai sosial dan budaya daerah dan kekayaan alam.  Serta memiliki sifat berkelanjutan dan dapat dilakukan dalam lingkup yang cukup memadai, ujar walikota.

Lanjutnya, konsep pengembangan kepariwisataan daerah yang dilandasi pendekatan perencanaan dan isu-isu strategis yang terkait dengan pengembangan pariwisata didaerah. Untuk kemajuan pariwisata di Kota Lhokseumawe, paradigma yang ada di masyarakat harus dapat dirubah agar tidak terjadi benturan, baik secara sosial dan agama.

Oleh karena itu, selain ada dukungan pemerintah daerah setempat, juga masyarakat harus ikut mendukung agar dunia kepariwisataan di Kota Lhokseumawe dapat lebih berkembang dan menjadi salah satu sektor pendapatan bagi masyarakat. Tentunya, dengan semakin ramai yang mengujungi Kota Lhokseumawe, masyarakat bisa melihat dan memanfaatkan peluang ini dengan baik serta menjadikannya sebagai salah satu prospek yang bagus untuk pengembangan  perekonomian.(*)

SHARE