Negara manusia?

Oleh: Kamaruddin Hasan (Dosen Fisip Unimal)

Kamaruddin Hasan (Dosen Fisip Unimal)

Tema diatas memang terasa berat. Terasa berat ketika kita sebagai manusia tidak terbiasa melakukan refleksi dan berfikir secara sistematis, metodologis dengan refrensi keilmuan yang baik dan benar. Terkadang saat ini, kita sebagai manusia lebih banyak menggunakan pengetahuan dibandingkan ilmu pengetahuan. Bahkan, kita sebagai manusia saat ini lebih pada mencari pembenaran daripada kebenaran.

Padahal kita sebagai manusia yang dinobatkan makhluk penilai, karena manusia dikaruniai oleh Allah SWT dengan kemampuan berfikir dan bertanya. Dengan kemampuan berpikir dan bertanya manusia tahu diri, tahu lingkungannya, tahu mana yang benar dan mana yang salah, tahu bangsanya, negaranya dan tentu tahu identitasnya. Tanpa berpikir dan bertanya sepertinya masih kurang lengkap sebagai manusia. Dengan daya fikirnya dan pertanyaan manusia mampu mengadakan penilaian terhadap segala hal ihwal atau perkara yang dialaminya, termasuk negaranya.

Manusia sebagai khalifah dimuka bumi dibekali ide-ide, karya-karya, keinginan, kebutuhan, cita-cita, nilai-nilai yang dimuliakan, serta akal, budi dan daya fikir, nalar serta daya lainnya. Dalam hal ini, karya sebagai manusia salahsatu yang fundamental adalah negara. Negara menjadi pranata sebagai prestasi peradaban manusia untuk tujuan fitrahnya, demi mendapat kebahagiaan dunia akhirat. Manusialah yang menghidupkan dan menjalankan Negara.

Sebagai pranata dari hasil proses integrasi secara holistik dan konfrehensif dari berbagai unsur seperti institusi, lembaga, konvensi, adat, tradisi, norma budaya dan lian-lain. Negara ini, disepakati untuk dijalankan dan diselenggarakan dengan nilai-nilai ketuhanan, keadilan, peradaban, kebersamaan dan azas kedaulatan rakyat. Negara yang melindungi segenap yang hidup didalamnya, melindungi yang melahirkan dan menghidupkannya.

Tentu harapannya, negara yang memajukan kesejahteraan, mencerdaskan,  peduli aktif dalam ketertiban dunia, perdamaian dan keadilan. Negara yang besar ini dihuni oleh manusia-manusia yang melahirkannya dengan latarbelakang etnik, agama, dan bangsa yang beragam.

Sehingga sangat aneh, ketika negara ini tidak memahami betul jati diri, identitas, akar budaya manusia dan bangsanya. Notabene ia sendiri dilahirkan dan dihadirkan  oleh hal tersebut. Kealpaan negara kepada yang melahirkan, menghadirkan, menghidupannya tersebut, yang dapat memunculkan kekecewaan mendalam terhadapnya.

Sehingga wajar kemudian, manusia-manusia bangsa yang melahirkan dan menghidupkan negara ini menggantungkan harapan yang tidak henti-hentinya, dalam setiap proses pergantian untuk menjalankan dan memimpin bangsa negara. Sekali lagi sangat wajar harapan itu menggema, karena datang dari manusia yang melahirkan dan menghadirkannya.

Proses pergantian yang menjalankan dan memimpin negara  bangsa dengan melahirkan manusia-manusia negarawan dengan mengedepan prinsip kemandirian negara bangsa dalam semua bidang; agama, ekonomi, politik, sosial budaya dan sebagainya. Kalaupun perlu kerjasama dengan Negara lain bukan berarti semua asset negera ini dibiarkan begitu saja untuk dieksploitasi dengan sangat murah, sementara manusia bangsa ini miskin sepanjang masa.

Kemandirian politik, sosial, kebudayaan, ekonomi, hukum dan lain-lain tanpa bisa didikte oleh kepentingan negara bangsa lain menjadi keharusan. Tentu hal ini, kalau manusia-manusia bangsa ini masih sepakat bahwa negara ini lahir, dilahirkan, dihidupkan, digerakkan dan dijalankan oleh kita sendiri sebagai manusia bangsa yang mandiri, bermartabat, berbudaya dan beradab.

Anehnya lagi, kita sebagai manusia memberikan negara ini hidup, tumbuh berkembang dari memakan kita sebagai manusia serta kemanusiaan dengan menghirup darah, airmata, hak-hak, kebahagian bahkan nyawa manusia. Negara menjadi makhluk pemakan manusia. Negara sudah lebih sering tidak lagi bergerak dalam kendali atau pengorganisasian manusia. Negara menjadi raksasa pemangsa kemanusian manusia.

Terkadang tanpa disadari, dalam memperebutkan kekuasaan negara atau si pemangsa tersebut manusia-manusia berupaya mati-matian, dengan cara-cara tak bermartabat, nihil kejujuran, nihil etika, bahkan berusaha memanfaatkan kekuasaan besar negara untuk memangsa sesama mereka manusia. Sehingga sangat banyak anak manusia yang sudah jadi korban untuk kehidupan negara yang cara-cara dan konsep-konsepnya kurang tepat. Libido kekuasaan yang berlebihan, proses merebut negara dengan cara-cara diluar kebiasaan dan kebiadaban manusia. 

Kita bisa menyaksikan, terlalu banyak sudah manusia yang dilibas kekuasaan negaranya,  kesenggsaraan, kemiskinan, ketidakadilan, karena negara dijalankan dengan cara-cara yang salah. Saksikan juga, segelintir manusia atau keluarganya berupaya menciptakan kehidupan senikmat disurga di tengah berjuta-juta manusia lain yang merana, melata ditengah-tengah kemelaratan yang mudah dianugrahkan ketidakadilan baginya.

Bagi berjuta-juta manusia tersebut sebagai pemilik negara, sebagai yang melahirkan, yang menghidupkan, yang mewarnai, yang menjalankan, bahkan yang telah menjadi korban, dikorbankan, atau yang berkorban. Maka untuk manusia-manusia tersebut mestinya proses pergantian pemimpin negara  bangsa ini didedikasikan. Sehingga Negara ini dapat dijalankan dengan cara-cara kemanusiaan dan benar-benar menjadi negara manusia. negara yang tahu diri, negara yang menghargai  manusia-manusia yang melahirkannya,  yang menghadirkan dan yang menghidupannya.

Maka wajar, ketika manusia-manusia yang melahirkan, yang menghadirkan dan yang menghidupan negara bangsa ini, menggantungkan dan menabuhkan harapannya. Namun catatan penting, ketika menggantungkan dan menabuhkan harapan  berlebihan pada setiap proses dan hasil pergantian pemimpin negara bangsa melalui mekanisme pemilu, biasanya akan melahirkan kekecewaan berlebihan pula. Mestinya tidak perlu terlalu besar dan berlebihan menggantungkan dan menancapkan harapan. karena nantinya walaupun kurang sesuai dengan harapan, tentu tidak melahirkan kekecewaan yang mendalam dan berlebihan. Bahkan ada yang berkomentar; dalam setiap pemilu bagusnya pilihlah dengan literasi politik atau logika sederhana saja, jangan pakai hati dan jiwa. Khawatir nanti akan sakit hati bahkan lebih parah lagi bisa-bisa sakit jiwa. 

Karena kecintaan dan harapan yang besar kepada yang dilahirkan dan yang dihidupkannya yaitu negara bangsa ini, maka manusia yang tergabung dalam bangsa negara ini masih berpikir keras untuk menjawab dan mencari solusi dari sebagai tantangan yang dihadapi negara bangsa. Semua wacana kebangkitan negara bangsa masih tetap ditabuhkan, masih tetap digadangkan. Harapan besar masih digantungkan.

Optimisme ini masih menghiasi obrolan rill warung kopi, kelompok-kelompok aktifis, kelompok new social movement, kelompok grass roots,  masih menghiasi sebagian media massa baik konvensional maupun new media, dunia kampus dalam kajian-kajian formal non formal dan lain-lain. Bahwa negara bangsa mesti bersatu, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari krisis multidimensi, bangkit dari krisis kepemimpinan, bangkit dari runtuhnya nilai-nilai agama, moral, adat-istiadat, budaya. Bangkit dari runtuhnya identitas, dari runtuhnya harga diri dihadapan negara bangsa lain dan sebagainya.

Semua ini dapat terwujud ketika kita sebagai manusia menyadari secara baik dan benar bahwa karya fundamental yang dipikirkan, dilahirkan, dihidupkan dan dijalankan sebagai prestasi peradaban manusia untuk tujuan fitrah kebahagaian dunia akhirat  adalah negara manusia. Sekalilagi, negara manusia yang difikirkan, dilahirkan, dihidupkan dan dijalankan untuk tujuan fitrah mencapai kebahagian dunia akhirat. semoga.

SHARE