Sosok Dr.Nirzalin (Akademisi Unimal) Di Ujung Pacu, Kota Lhokseumawe

 

“ Merubah Paradigma Menuai Harapan”

Laporan : Muchlis Gur Dhum

Siapa yang tak mengenal Gampong Ujong Pacu, letaknya di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe dan tak jauh dari objek vital dua industri raksasa, yakni PT. Arun (kini Perta Arun Gas) dan PT. Pupuk Iskandar Muda.

Pada tahun 2015 Nama Gampong Ujong Pacu begitu dikenal karena warganya sontak melawan berbagai peredaran barang terlarang atau narkoba di desanya. Hingga berbagai kanal media lokal dan media nasional memuat peristiwa itu sebagai headline.

Bahkan kabarnya, sejak muncul gerakan warga dalam memerangi narkoba didesanya, mereka rutin melakukan jaga malam selama beberapa bulan untuk memastikan agar tidak ada peredaran narkoba didesanya yang dapat mengancam generasi muda.

Sementara itu, melihat kondisi demikian, menjadi hal yang menarik bagi Doktor Nirzalin seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh.

Disela-sela pelatihan budidaya kepiting Soka dan Ikan Nila, Dr. Nirzalin menceritakan hal ihwal dirinya terlibat dalam pemberdayaan masyarakat petani tambak di Ujong Pacu.

Baginya, sebagai sosok akademisi yang mengeluti ilmu sosial, perubahan terhadap masyarakat tidak hanya sebatas dilihat dari kelengkapan infrastuktur sarana fisik semata, akan tetapi harus juga dilakukan dengan perubahan pola pikir yang disertai pemberdayaan pada objek ketrampilan, potensi dan peluang.

Kemudian Dr. Nirzalin  melakukan intervensi dengan konsolidasi menggunakan pendekatan sosiologis, mengajak masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Pasca konsolidasi, dirinya bersama almarhum Dr. Zulfikar (Fakutas Pertanian) dan Fakhrurazi, M.Si mendesain program pemberdayaan masyarakat Ujong Pacu yang diawali dengan riset, kemudian berkembang menjadi penelitian, pengabdian, dan sekaligus sebagai lahan penerapan inovasi.

“Sebenarnya lahan yang paling luas di Ujong Pacu ini adalah sektor pertanian, namun atas pertimbangan dan beberapa analisis, kita pilihlah tambak. Ini tantangannya lebih besar, namun kita yakin karena pengetahuan Dr. Zulfikar yang bagus di bidang tambak. Kita kolaborasilah, Pak Zul dengan keahlian budidaya tambaknya, saya dan Pak Razi dengan keahlian sosiologinya,” kata Dr. Nirzalin.

 

Menurutnya, ada dua aspek yang diterapkan dalam pemberdayaan petani tambak dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat Ujong Pacu, Pertama  merubah mentalitas dan menjaga soliditas warga dan Kedua menerapkan aspek teknis budidaya.

Periode 2016 dan 2017 terjalinlah kerjasama dengan kementerian kelautan dan rutin melakukan pertemuan intensif dengan Balai Benih atau Balai Perikanan Budidaya Air Payau Kementerian Kelautan dan Perikanan Ujong Batee, Banda Aceh. Atas prakarsanya, masyarakat Ujong Pacu mendapat bantuan 2,5 Juta ekor bibit udang yang ditebar ke dalam lahan tambak seluas 73 hektar dengan perjanjian bahwa 30 persen hasil panen akan digunakan untuk modal berikutnya.

“ Ini bukan bantuan yang diberikan terus-menerus, karena konsep kita pemberdayaan, jadi kita memberi pengetahuannya, membantu modal diawal, kita dampingi sampai pemasaran. Tiga langkah yang kita lakukan, yaitu transformasi skill atau pengetahuan, kemudian modalisasi, dan pendampingan pemasaran,”ungkap Dr.Nirzalin.

 

Meskipun sulit di awal, akan tetapi konsep pemberdayaan masyarakat Ujong Pacu, melalui petani tambak, telah  banyak membawa perubahan pada kehidupan masyarakatnya. Bahkan mampu merestorasi pandangan masyarakat yang tadinya mencibir sebagai kampung narkoba dan terpuruk ekonominya, malah memberi apresiasi dan menjadi daerah pengembangan inovasi usaha tambak dengan segudang prestasi.

 

“Saya malah berfikir, bahwa ini merupakan suatu konsep atau penemuan dalam kehidupan sosial masyarakat, ternyata narkoba bisa dicegah dengan memberdayakan masyarakat agar tidak berfikir instan tentang konsep mencari uang. Ujong Pacu merupakan bukti bahwa penerapan konsep tersebut adalah benar, ” ucapnya.

Sementara itu, pada kesempatan ini, Dr. Nirzalin bersama timnya melakukan pelatihan pemerliharaan kepiting Soka dan ikan nila. Dimana pemeliharaan kepiting soka dan ikan nila saline dilakukan melalui teknik polikultur (Satu tambak dua komoditas sekaligus)

Selain dirinya sebagai ketua Tim juga beranggotakan 3 (orang) pakar yaitu Dr. Azhari, M.Sc, Dr. Prama Haitami, M.Si dan Fakrurrazi, M.Si. Pelaksanaan pelatihan ini didukung oleh DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Kemenristek/BRIN Republik Indonesia melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM).

Seperti diketahui, program ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi angka pengangguran dan sekaligus pemberdayaan ekonomi. Tingginya angka pengangguran dan rendahnya pendapatan merupakan penyumbang utama kemiskinan di desa ini.

Disisi lain, keberadaan lahan tambak air payau yang mencapai luas 73 hektar didesa ini merupakan potensi strategis yang seharusnya dapat menjadi sumber pendapatan utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, namun faktanya sumberdaya tambak ini terabaikan pemanfaatannya, jika pun ada beberapa kepala keluarga petani yang menggunakannya untuk budi daya tertentu pemanfaatannya belum optimal.

Optimalisasi pemanfaatan lahan tambak merupakan solusi dalam mengurangi jumlah pengangguran dan sekaligus mengurangi angka kemiskinan karena tingkat kesejahteraan akan mengalami peningkatan.

“ Kesejahteraan dan Kemandirian ekonomi menjadi solusi efektif untuk menghindarkan masyarakat tidak tergoda terlibat dalam tindakan anti social bahkan kriminal. Salah satu cara pemanfaatan lahan tambak secara  optimal dan lebih cepat dalam meningkatkan kesejahteraan petuni adalah melalui metode pemeliharaan KepitingSoka (KepitingLunak) dan Ikan Nila saline melalui teknik polikultur. Hilirisasi dari pelatihan ini diharapkan akan lahirnya usaha-usaha mandiri budidaya kepiting soka dan nila saline di gampoeng Ujoeng Pacu,” terangnya.

 

Sebutnya, berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan, ada 3 (tiga)  alasan dipilihnya program pemeliharaan Kepiting Soka (KepitingLunak) dan Ikan Nila saline melalui teknik polikultur di gampoeng (desa) ini, pertama, Bibit Kepiting mudah ditemui  di gampoeng ini maupun kawasan regionalnya.

Kedua, tingkat konsumsi kepiting  di Lhokseumawe dan sekitarnya tinggi sehingga sangat memudahkan dalam pemasaran, dan ketiga, harga jual kepiting di Lhokseumawe dan kawasan regionalnya tinggi, hal ini mempercepat peningkatan kesejahteraan petani.

“Program ini diterapkan melalui 5 metode strategis yaitu Pelatihan, Pengorganisasian, Pendampingan, Jaringan Produksi (Networking) dan Pemasaran. Pelatihan diarahkan pada pemaparan teoritis teknis pemeliharan, panen, pascapanen, peluang pasar dan pemasarannya. Pengorganisasian dilakukan melalui penguatan kelompok tani tambak yang telah sepakat menjadi mitra. Pendampingan dilakukan secara intensif baik dalam menjaga soliditas kelompok maupun pemeliharaannya. Jaringan produksi dan pasar dibangun melalui program menghubungkan para petani tambak baik dengan pedagang dan konsumen, sementara pemasaran dilakukan melalui transformasi pengetahuan menyiapkan komoditas pasca panen” jelas Dr. Nirzalin.  (Muchlis)

 

SHARE