Aktualisasi Nilai Pancasila bagi Pemuda

Oleh: Kamaruddin Hasan*

Tulisan ini hanya sebagai pengantar,  bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama bagi kalangan pemuda yang  sudah mulai terasa asing. Bahkan  dominan kalangan pemuda sudah tidak tahu sama sekali dari nilai-nilai Pancasila.

Hal ini tentu, ada sebab akibat, betapa tidak, ketika kita melihat warna realitas fenomenal kehidupan sosial di tanah air, ada yang hidup dalam balutan kemewahan dan keglamoran fasilitas kehidupan fisik-material bersama sejuta simbol status sosial bergengsi, namun minim kualitas mental, moral dan spiritual.

Disudut lain kemelaratan ekonomi dan keterbelakangan pendidikan telah melontarkan sejumlah anak negeri hidup dilingkungan yang tidak layak.

Terkait dengan sejuta problema patologis Ipoleksosbudhankam yang menghimpit Indonesia hari ini, ada satu kutup pemikiran mengedepankan  pentingnya pengembalian kedudukan dan peran Pancasila sebagai solusi problema  patologis indonesia.

Ada juga kutup pandangan lain, melihat pancasila tidak memiliki arti, nilai dan peran apapun dalam penataan kehidupan bernegara dan berbangsa. Adakah kemungkinan mengharmoniskan diantara kutup-kutup pemikiran tersebut?

Inilah problema bangsa ini yang belum terselesaikan. Akar tunggang keangkuhan itu adalah pemaksaan penafsiran Pancasila  menurut pemikiran dan keinginan masing-maisng. Mestinya untuk memperoleh tafsiran yang benar dan efektif sebagai pedoman penataan kehidupan kenegaraan dan kebangsaan, haruslah mengikuti keinginan Pancasila itu sendiri.

Untuk itu, langkah preventif mendesak dilakukan adalah revitaliasi Pancasila bagi seluruh elemen bangsa, dalam hal ini elemen pemuda menjadi sasaran utama. Mesti diakui bahwa, perjalanan suatu bangsa sejatinya tidak lepas dari keberadaan pemuda.

Justru sejarah telah mencatat, perkembangan peradaban dunia telah membuktikan peran pemuda sebagai pelaku lahirnya sebuah peradaban baru. Begitupun dalam perkembangan lahirnya bangsa Indonesia, baik diawali pada masa perjuangan kemerdekaan, masa kemerdekaan itu sendiri bahkan masa pasca kemerdekaan bangsa. Eksistensi pemuda tidak dipungkiri telah mengukir goresan penting seiring perjalanan dinamika kehidupan bangsa, sehingga menjadi titik strategis untuk tumpahnya perhatian dari berbagai kalangan dan banyak kepentingan, baik formal maupun nonformal, sesaat maupun jangka panjang, individual maupun organisasional.

Pemuda sebagai aset terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia, hari ini terasa berbeda dengan perjuangan ketika awal masa kemerdekaan, yakni dinilai berkualitas rendah dan belum optimal berupaya mengisi kemerdekaan dengan sepak terjang yang berarti.

Hal ini dapat dijelaskan melalui dua perspektif, yaitu perspektif personal pemuda dan perspektif kualitas sumber daya manusia. Persoalan personal pemuda menjadi substansi kemajuan pemuda itu sendiri dan bangsa secara umum, dapat dilihat dengan menurunnya pemahaman keagamaan, rendahnya rasa kebersamaan dan pudarnya nasionalisme, termasuk kurangnya pemahaman terhadap pancasila, lemahnya kesadaran prinsip-prinsip kewarganegaraan, lemahnya imunitas terhadap godaan-godaan arus globalisasi yang tidak semuanya baik.

Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal

SHARE