BANGKIT?

Kamaruddin Hasan Kuya

Terlepas dari berbagai kontroversi sejarah penentuan Hari Kebangkitan secara Nasional. Hari kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2019 bangsa negara Indonesia memperingatinya yang ke 111. Momen kebangkitan sebenarnya senantiasa  mengalir setiap waktu dalam gerak kehidupan baik formal maupun nonformal. Energi kebangkitan dapat ditinjau dalam persepktif individu, keluarga, komunitas, masyarakat, institusi, kelembagaan, organisasi, bangsa, negara bahkan dunia. Permasalahan mendasar adalah memulai dari mana untuk bangkit? Pertanyaan ini menjadi sulit dijawab, ketika dihadapkan dengan realitas kekinian dala segala aspek kehidupan.

Tujuannya tentu bangkit dengan energi semangat baru menuju perubahan kearah yang lebih baik. Sasaran kebangkitan, kalau diurutkan memang terlalu banyak. Sebut saja, bagaimana bangkit dari keterpurukan, bangkit dari keburukan menuju kebaikan. Bangkit dari tak berdaya menjadi berdaya, dari  tak bermartabat menjadi bermartabat, dari tak beradab menjadi beradab, ketidakadilan menuju keadilan, dari dehumanisme menjadi humasnisme.

Bangkit dari lemahnya identitas diri, bangsa dan negara  menuju penguatan identitas. Bangkit dari tak berdaulat menjadi berdaulat. Bangkit dari tak berbudaya menjadi berbudaya. Bangkit dari tak berilmu menuju ilmu pengetahuan. Bangkit dari ketidakdisiplinan menjadi disiplin. Bangkit dari kemalasan menjadi semangat penuh motivasi. Bangkit dari ketidakpedulian menjadi peduli. Bangkit dari tak sejahtera menuju kehidupan sejahtera. Bangkit dari tak bermoral menjadi bermoral, tak beretika menjadi beretika. Bangkit dari ketidakmandirian menuju kemandirian.

Bangkit dari ketidakcerdasan berkomunkasi, bermedia menuju cerdas berkomunikasi dan bermedia. Bangkit, ketika mampu menaklukkan gelombang digitalisasi dengan mencari berkah di dalamnya.  Bukan hanya menjadi pasar untuk produk-produk digital namun juga mampu jadikan ladang baru untuk berkarya, berinovasi.

Mampu, mengembangkan konten dan aplikasi yang dapat dinikmati nusantara juga dunia.  Era digitalisasi bukan menjadi sesuai yang menakutkan namun mampu dimanfaatkan berkreasi, berinisiatif, berinovasi dan mencari solusi dalam setiap permasalahan.

Bangkit itu, ketika mampu bangkit dari krisis multidimensi, dari krisis kepemimpinan, bangkit dari runtuhnya nilai-nilai agama, moral, adat-istiadat, budaya, runtuhnya identitas, runtuhnya harga diri di hadapan bangsa negara lain dan sebagainya.

Bangkit itu, ketika secara terus menerus berfikir, berbuat perubahan menuju kebaikan. Bangkit itu, ketika kita berpegang teguh pada akar, batang yang kokoh bukan pada ranting yang mudah patah. Apalagi kita manusia dilahirkan tidak dengan moralitas, moralitas tumbuh atas bentukan ilmu pengetahuan dan budaya. Ilmu dan budaya lahir karena adanya pola tingkah laku dan pikiran kita.

Ketika kita berhenti berpikir dan berbuat kebaikan maka eksistensinya akan hilang sebagai manusia berilmu dan berbudaya. Demikian juga dengan eksistensi diri suatu bangsa negara nusantara. Ketika secara keilmuan dan kebudayaan kehilangan pegangan, maka secara bersamaan kehilangan jatidiri, identitas, kemandirian juga kehilangan arah.

Sebagai makhluk penilai, karena Allah SWT mengkaruniai kemampuan berfikir, bertanya dan berbuat kebaikan. Dengan kemampuan berpikir, bertanya dan berbuat jadi tahu diri, tahu lingkungan, tahu mana yang benar dan mana yang salah, tahu kebangsaan, kenegaraan, tahu identitas dan seterusnya. Dengan daya fikir,  bertanya, berbuat mampu mengadakan penilaian terhadap segala hal ihwal atau perkara yang dialaminya. Sebagai khalifah dimuka bumi dibekali keinginan, kebutuhan, cita-cita, nilai-nilai yang dimuliakan, serta akal, budi dan daya fikir, nalar serta daya lainnya

Teringat pula saya dengan puisi Dedy Mizwar, “Bangkit”, patut juga menjadi energi semangat baru. Bangkit itu susah! susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang. Bangkit itu takut! takut korupsi, takut makan yang bukan haknya. Bangkit itu mencuri! mencuri perhatian dunia dengan prestasi. Bangkit itu marah! marah, bila martabat bangsa dilecehkan. Bangkit itu malu, malu jadi benalu, malu karena minta melulu. Bangkit itu tidak ada! tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa. Bangkit itu Aku, untuk Indonesiaku.

Tujuan formal dari perspektif bangsa dan negara Harkitnas ke 111 adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan jiwa nasionalisme kebangsaan sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan, menegakkan nilai-nilai demokrasi berlandaskan moral dan etika berbangsa dan bernegara, mempererat persaudaraan untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi bangsa ke depan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tema umum yang diusung adalah “Bangkit Untuk Bersatu”.

Lebih jauh, mari kita melihat realitas kehidupan kekinian berbangsa dan bernegara. Sepertinya cakrawala bumi pertiwi masih dalam keadaan rubuh tersungkur. Kesulitan hidup yang semakin melilit, kemiskinan masih menjadi sahabat yang sangat setia dengan angkatnyapun terus meningkat.

Pengangguran menjadi irama kehidupan keseharian juga angkanya terus melambung. Keputus-asaan juga masih menjadi nada yang kian merusak gendang pendengaran. Himpitan kemelaratan menjadi pasrah sebagai nasib yang wajib diterima tanpa kekuatan untuk merubahnya. Negara masih juga dengan congkaknya mencetak bangsa menjadi pengemis, walau jiwa menangis ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa tertancap dalam dan sangat membekas dalam hati.

Harapan menjadi pupus dan terhapus dari memori sebagian rakyat. Muncul sikap apatisme, skeptisme dan fesimisme. Pesta korupsi masih berlansung meruyak negeri bangsa membuat sekarat disemua segi. Langit-langit akhlak rubuh yang merambah sampai kedunia pendidikan yang semestinya menjadi contoh penarapan ahklak mulia. Praktek bisnis negara juga sunyi akhlak dengan proyek-proyek habis dikunyah segelintir keluarga dan mereka  kenyangnya terengah-engah diatas jutaan rakyat yang busung lapar dengan mulut menganga. Negara masih tidak peduli, membiarkan hutan-hutan digunduli, hutan lindung dibabat, lahan pertanian yang tidak terurus dan sawah-sawah kering, berubah fungsi, satwa liar yang tidak memiliki tempat tinggal yang nyaman, kegiatan pertambangan merusak lingkungan.

Negara masih melahirkan generasi yang sangat kurang rasa percaya diri. Negara meminjam uang ke mancanegara dan rakyat yag harus menanggung beban derita berkepanjangan. Walau sudah satu keturunan jangka waktunya, walau hutang selalu dibayar tentu dengan hutang baru pula, lubang itu digali, lubang itu pula ditimbuni dan sampai lubang itu semakin membesar dan semakin membesar.

Bagaimana kita bangkit, ketika negara memaksa budaya berhutang, bangsa negara terbungkuk berikan kepala kepada negara multi-kolonialis, maka dengan elegansi ekonomi mereka ramai-ramai pesta kenduri sambil kepala bangsa ini dimakan dengan rakus. Cengkeraman kuku negara multi-kolonialis, beratus juta rakyat menggelepar menggelinjang, terperangkap, terjaring di jala raksasa hutang.

Pemandangan lain, pedagang kecil mati dengan meninggalkan hutang, rakyat mati tinggal belulang. Rakyat miskin selalu minum mimpi, makan angan-angan dan berlansung sudah sangat lama. Namun, segelintir orang dinegara ini teramat kaya, hingga orang-orang dinegeri-negeri yang jauh disana, dengan gaya hidup boros berasaskan gengsi dan fanatisme mengimpor barang luar negeri, gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis. Segelintir orang dinegeri ini, dengan ringan bisa makan harga satu porsi setara untuk mengisi perut kosong 100 orang miskin. 

Apalagi, sudah langka manusia di negeri ini yang berkomitmen secara istiqamah menjahit sakit politik, hukum, ekonomi sosial budaya dengan sengenap kemampuannya. Negara hasil karya ini tidak lagi menjadi pranata sebagai prestasi peradaban yang menyejukkan untuk tujuan-tujuan fitrah kemusaiaan. Ditambah lagi, ketika negara tidak lagi diselenggarakan dengan nilai-nilai ketuhanan, keadilan, peradaban, kebersamaan dan azas kedaulatan. Negara tidak mampu masuk kedalam ranah kognitif rakyat.

Ketika Negara tidak mampu melihat anak-anak negeri yang kurus ringkih, busung lapar, pandangan mata yang kosong, tanpa keinginan dan harapan, anak-anak yang tidak tercatat di sekolah manapun. Ketika negara masih terjebak dalam tarikan kepentingan politik elite, kepentingan pemodal, terseret dalam cengkraman kapitalisme domestik, global, terbawa arus budaya komersialisme dan konsumerisme.

Negara masih bertanya siapa itu rakyat? di mana alamatnya, bagaimana potret nafkahnya, bagaimana kesehatannya dan pendidikannya, bagaimana populasinya, tanpa database rakyatnya. Masih melihat rakyat sebagai kumpulan orang-orang dengan wajah lugu wajah, gampang dibodohi, gampang dibariskan, mudah dicatat sebagai sederetan angka, gampang dimusnahkan, menerima saja dihujani sejuta kata-kata dengan perangai tidak banyak tingkahnya. 

Bangkit, ketika mampu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya retorika dan slogan belaka tanpa upaya sungguh-sungguh, dengan ihklas, dengan segenap jiwa raga mewujudkan cita-cita Negara bangsa dalam pembukaan undang-undang Dasar tersebut.

Juga mampu, meningkatkan kesadaran berbangsa, menguatkan jati diri dan menyatukan potensi bangsa, bergerak menuju bangsa maju di dunia. Menumbuhkan, meningkatkan kesadaran, semangat juang. Memperkuat kepribadian bangsa, memperkokoh nilai-nilai budaya bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggan Negara, mewujudkan Indonesia yang damai, adil, demokratis, dan sejahtera.

Masih terlalu banyak pekerjaan rumah kita, diperlukan dibutuhkan barisan manusia-manusia yang pantang menyerah, tegar dalam sikap sempurna, tegar kokoh dalam prinsip, kokoh dalam agama, dengan pengorban yang tinggi bukan hanya untuk mengukir namanya namun ihklas untuk bangsa negara. Manusia dengan tingkat kesadaran yang tinggi – kosmis dalam membangun negara bangsa ini.

Manusia yang mampu secara ilmu agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Manusia yang memiliki karakter dan mampu menjadi teladan.  Manusia yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak mengumbar egonya, tidak menginjak-injak orang lemah, tidak besar mulut yang isinya hanya slogan dan retorika. 

Manusia-manusia yang mampu hidup selaras serta menyatu dengan alam semesta. Manusia yang menjiwai makna kehidupan di dunia hanya singkat dan sementara karena itu tidak tergoda baik oleh kemewahan materi maupun kenikmatan sekejap.  Manusia yang tidak butuh pencitraan berlebihan di layarkaca. Manusia yang kebahagiaannya ada dalam dirinya yang bersahaja walaupun dia di tengah hiruk-pikuk sandiwara orang-orang yang narsis dan tamak. Manusia yang kemanapun menoleh, disentuh, memimpin, mampu merasakan kehadiran penciptanya. Manusia yang senantiasa berlomba untuk menjadi yang terbaik, manusia yang paling berguna bagi orang banyak.

Manusia-manusia seperti itu, hanya didapat dari hasil proses pendidikan yang baik dan benar. Solusinya kebangkitan adalah dalam proses pendidikan. Pendidikan sebagai pangkal kebangkitan bangsa dan benteng terakhir peradaban. Pendidikan sebagai usaha sadar terencana untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan. Pendidikan sebagai cita-cita kemanusiaan universal, menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis, mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Akhirnya, kebangkitan itu seberapa istiqamah, konsistensinya kita dan benar-benar menjadi tonggak untuk bangkit menuju perubahan. Atau momen kebangkitan hanya formalitas  seremonial semata seperti letupan-letupan yang muncul sesaat saja. Kebangkitan, bukan saatnya lagi mengedepankan realitas wacana yang sifatnya seremonial, formalitas, tidak produktif dan tidak kreatif . Bangkit untuk kerja nyata, mandiri dengan cara yang penuh istiqamah, inisiatif, kreatif, inovatif. Bukan hanya mempertahankan dan membenarkan cara-cara lama hanya karena telah menjadi kebiasaan. Maka, mesti membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Semoga.

oleh: DosenIlmu Komunikasi, Fisip, Unimal Aceh

SHARE