Catatan Singkat: Komunikasi Defensif

Oleh: Kamaruddin Kuya

Luka kena peluru masih bisa disembuhkan, luka karena sayatan, tusukan pisau, parang, pedang, rencong, busur panah dll masih dapat disembuhkan, apalagi luka kena pentongan polisi, luka kena gas air mata saat demo  bisa disembuhkan. Luka karena bentrok fisik antar kubu capres-cawapres kemarin juga masih bisa disembuhkan.

Tapi luka karena komunikasi yang buruk atau komunikasi defensif siapa yang bisa menyembuhkan? Luka yang bisa terasa sepanjang hayat kehidupan. Sampai sekarang belum ditemukan obatnya, selain dengan komunikasi itu sendiri. Peribahasa Jerman menyebutkan: “Bose Disteln stechen sehr, bose Zungen stechen mehr”. “Semak berduri sangat menusuk tapi kata-kata buruk jauh lebih menusuk”

Komunikasi defensif merupakan komunikasi yang dilakukan bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi terutama sekali untuk menunjukkan dominasi, kekuasaan, penistaan, atau serangan terhadap apa yang dianggap mengancam ego. Dengan kata-kata erangan atau snarl words  dan sarkasme. Kata-kata yang keluar tidak merujuk pada rujukan tertentu. Kata-kata itu mengungkapakan keberangan, kebencian, dan kejengkelan kepada orang. Singkatnya, komunikasi defensif mengandung pesan yang menyakitkan. Messages that hurt. Bahkan kata-kata dapat menjadi musuh yang tersembunyi atau hidden antagonizers , karena menyinggung perasaan dan membangkitkan amarah kebencian orang tanpa diketahui, pada akhirnya memutuskan hubungan silaturahim.

Dalam kontek komunikasi lansung dalam keluarga misalnya, akibat komunikasi defensif, ada anak sangat membenci ayahnya. Bahkan ketika ayahnya jatuh sakit dan dirawat dirumah sakit, tidak sekalipun ia datang menjenguknya. Setelah ayahnya wafat, dikatakan kepadanya bahwa betapa ayahnya sangat mencintainya. Tidak terasa butir-butir air mata jatuh dari pelupuk matanya menggenangi pipinya.  Anak itu rupanya sering kali disalahkan, dicaci maki, ditegur dengan bahasa atau kata-kata kasar atau snarl words  yang tidak mengenakan. Walau ia tahu bahwa setiap orang tua pasti mencintai anaknya dengan kecintaan yang tulus. Hanya saja, tidak semua anak dapat menangkap sinyal kecintaan itu, karena kecintaan yang tulus itu terselimuti oleh kabut tebal komunikasi defensif.

Bukti-bukti dalam psikologi agama dan komunikasi, bahwa komunikasi defensif dapat mengasingkan seseorang, hidup kesepian tanpa cinta, tanpa kasih sayang. Artinya cinta yang sejati, kasih sayang tidak mungkin tumbuh dalam suasana komunikasi yang tidak sehat. Kebiasaan menggunakan komunikasi defensif membuat manusia sulit mengekspresikan perasaan cinta dan kasih saying secara benar. Pada akhirnya tidak akan menjadi manusia, karena kemanusiaan dibentuk oleh komunikasi yang manusiawi.

Maka yang terpenting adalah mempertajam kepekaan dan emosi positif terhadap orang lain yang di ajak bicara. Bicara dengan melibatkan seluruh emosi positif. Banyak hubungan berantakan karena telah kehilangan unsur emosi positif. Dalam kehidupan ini tidak hanya dibutuhkan berbicara matter of fact  atau  straight to the point saja. Dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan komunikasi yang akrab. Para ahli komunikasi keluarga menyebutnya intimate communication strategy. Artinya budaya basa-basi ternyata bukan hanya sekedar budaya timur, budaya basa basi itu dapat membuat hidup lebih hidup. Dalam Kitab sucipun diperintahkan kepada kita, “Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas nan lembut”.

Selain melibatkan unsur emosi positif, juga mesti mengontrol bahasa dengan memilih kata-kata yang baik dan benar saat berkomunikasi. Sebuah buku yang berjudul Language and Pursuit of Happiness atau Bahasa dan Pencarian Kebahagiaan yang ditulis oleh Chalers Brothers. Buku itu berbicara tentang kekuatan bahasa yang dapat membuat hati bahagia atau berduka. Artinya, jika ingin bahagia dalam hidup, ciptakanlah bahasa atau komunikasi yang efektif dan suportif. Terampil dalam komunikasi adalah sumber kebahagian.

Bahwa keterampilan komunikasi  yang efektif dan suportif, membuat manusia lebih tahan akan akibat-akibat buruk krisis kehidupan. Hidup berarti berkomunikasi. Berkomunikasi secara efektif berarti menikmati hidup secara lebih penuh. Bahkan dengan komunikasi efektif dan suportif membuat manusia lebih sehat dan lebih bahagia. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, komunikasi mengembangkan sikap saling menghormati, mencintai dan menerima.

Tentu, salah satu cara mencapai kebahagiaan hidup adalah dengan tatanan komunikasi yang baik dan benar. Komunikasi sudah menjadi teman setia setiap nafas kehidupan manusia. Komunikasi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang dapat menghindari, mengelak atau menolak berkomunikasi. Komunikasi tidak dapat dielakkan dan dihambat dalam gerak kehidupan manusia.

Dalam penolakan, mengelak atau menghindari komunikasi, saat itu pula secara bersamaan komunikasi hadir. Bahkan ketika ingin menolak, mengelak atau menghindari dari komunikasi, juga dilakukan dengan cara komunikasi.  Bahkan ketika diam, saat itu juga proses komunikasi berlansung.  Dalam bahasa Sigmund Freud: tidak ada manusia yang dapat menyimpan rahasia. Jika bibirnya diam, ia bercoleteh dengan ujung jarinya; rahasia membersit dari pori-pori kulitnya.

karena komunikasi adalah sesuatu yang inheren dalam diri maka keberadaanya tidak dapat ditolak. Kehadirannya merupakan sesuatu yang mesti tanpa pernah diminta. Menolaknya berarti menolak kemanusiaan.

Agar perkembangan kemanusian tumbuh dengan baik, maka sedapat mungkin melakukan komunikasi baik dan benar atau kita sebut komunikasi efektif dan suportif. Komunikasi yang baik dan benar paling tidak menimbulkan; pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan melahirkan tindakan. Komunikasi seperti ini melahirkan cinta dan kasih sayang yang dapat mengembangkan kecerdasan spiritual manusia, kemudian mengangkat manusia secara individu ke dalam hubungan sosial yang lebih baik.

Komunikasi yang baik dan benar dapat menumbuhkan kepribadian manusia yang baik dan benar. Bahwa untuk dapat hidup dan menjadi manusia, komunikasi dibutuhkan. Artinya komunikasi amat esensial buat pertumbuhan kepribadian manusia. Para ahli ilmu komunikasi sering mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian seseorang.

Dengan komunikasi, manusia mengekspresikan dirinya, membentuk jaringan interaksi sosial, dan mengembangkan kepribadiannya. Kita belajar menjadi manusia melalui komunikasi. Melalui komunikasi manusia menemukan diri mengembangkan konsep diri dan menetapkan hubungan dengan dunia di sekitar. Hubungan dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup manusia.

 

Penulis: Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP, Unimal Aceh

Editor: ANM

SHARE