Pertanyaan dan Solusi Seputar Literasi Digital

Oleh:Kamaruddin Hasan Pengamat Komunikasi manusia

Banyak hal menarik untuk dikaji lebih mendalam setiap webinar nasional tentang digital literasi yang dilenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo), Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD)_siberkreasi bersama mitranya sepanjang tahun 2021, yang diberi tema secara umum Gerakan Nasional Literasi Digital 2021. Target utama adalah Indonesia makin cakap digital. Tentu kecakapan digital yang dimaksud merupakan pengetahuan dalam memanfaatkan media digital; media komunikasi dan jejaring internet. Program ini memiliki empat pilar mendasar yaitu etika digital, budaya digital, keterampilan digital dan keamanan digital.

Definisi sederhana masing-masing pilar tersebut; Etika digital berarti kemampuan individu dalam menyadari, menyesuaikan diri dan menerapkan etika digital atau netiquet dalam saat berselancar di dunia digital. Budaya digital sebagai hasil kreasi dan karya yang berbasis teknologi internet. Hal ini dapat tercermin lewat cara berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam dunia digital, termasuk didalamya berbelanja online.

Pilar keterampilan digital dapat diartikan kemampuan untuk secara efektif, mengevaluasi dan membuat informasi dengan menggunakan berbagai teknologi digital. Salah satu keterampilan digital misalnya dalam menggunakan media sosial hingga menggunakan platform belanja online. Terakhir pilar keamanan digital sebagai aktivitas mengamankan kegiatan digital, misal dengan penggunaan password termasuk pemahaman mengenai cyber security.

Tentu harapannya, dengan menguasai keempat pilar tersebut, masyarakat memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat menggunakan internet dan teknologi secara aman, beretika, dan optimal.

Termasuk menguasai hakikat, landasan dan tujuan dari berkomunikasi (dengan menggunakan Ilmu Komunikasi), baik secara lansung maupun bermedia baik konvensional dan new media. Hakikat, landasan dan tujuan berkomunikasi antara lain adanya saling pengertian (to understanding), hadirnya kebersaman (togetherness), tercipta harmonisasi, terdapat unsur pengetahuan/educasi, memperkuat identitas, memperkuat budaya termasuk local wisdom, penguatan nilai toleransi, hadirnya saling menghormati dan menyayangi, lahir kesejahteraan jiwa, bahagia_menyenangkan, dapat mengubah sikap_ perilaku, menghibur dan motivasi.

Dalam salah satu webinar tersebut pada Sabtu, tanggal 11 September 2021, mengusung tema umum; Internet Untuk Kampanye Bangga Budaya Indonesia, dibuka oleh bapak Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc sebagai Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo. Narasumber dihadirkan berbagai kalangan, ada dari kalangan akademisi Kamaruddin Hasan tercatat sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Lila Muliani sebagai Food Styist, Penulis Kuliner, Dosen Institut Stiami. Ardi Lunardi, S. TP. Sebagai Praktisi Expert E-Commerce & Photograper. Ada juga dari DPD RI H. Sudirman S, Pd.I juga sebagai oPenceramah guru pengajian dan penyiar Radio.

Dengan pemahaman bahwa Indonesia yang terkenal keaneka ragaman budayanya, tentu dalam upaya melestarikannya diperlukan promosi dan kampaye yang kreatif dan menarik dalam era digital. Hal ini terungkap dari beberapa peserta yang berkesempatan bertanya dan tentu layak ditulis kembali.

Pertanyaan yang menarik tersebut antara lain; lalu bagaimana strategi promosi atau kampanye budaya Indonesia melalui media digital atau internet yang kreatif, menarik, dengan berpegang pada empat pilar digital literasi? Ini salah satu pertanyaan umum yang dilontar peserta bahkan narasumberpun sempat mempertanyakan hal serupa.

 

Pertanyaan lanjutan yang pantas ditulis kembali dan dikaji lebih mendalam , antara lain; datang dari peserta bernama Jhessica Hawana; “saat ini pemerintah sudah gencar untuk menginformasikan literasi digital dan mengajak masyarakat untuk melawan provokasi di media sosial. Namun, kenyataannya masih banyak konten provokasi yang masih bisa ditemui. Apakah media sosial akan bisa terbebas dari konten provokasi? yang sekarang berita negatif lebih banyak di gemari dan dibaca, apalagi indonesia sekarang darurat membaca yang hanya membaca judulnya tanpa tau isi keseluruhannya.

Kelly biantoro; mempertanyakan, langkah apa yang tepat agar bisa ikut berkampanye memajukan budaya indonesia dan menjadi insan yang bisa lebih produktif di era digital ini.

Muhammad Ichwan_dari Politeknik Negeri Lhokseumawe; budaya digital merupakan syarat dalam melakukan transformasi digital. Apakah budaya digital ini dapat mengubah pola pikir agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital?

Alit Verfitasari Aryaningrum; diera digital saat ini anak anak muda sangat cakap dalam penggunaan digital. Mereka bisa mengakses segala hal dari segala penjuru dunia, mirisnya milinial lebih bangga jika terlihat bergaya kebarat baratan, bagaimana cara mengedukasi milinial agar melek dan cakap tekhnologi tetapi tetap berbudaya Pancasila yang luhur dan tetap mencintai kebudayaan Nusantara, dan bagaimana caranya membawa kebudayaan Indonesia dalam digitalisasi.

Ulfa faradilllah; Bagaimana cara kita memproteksi diri dari media sosial yang banyak sekali palsunya dalam memberikan informasi, apa itu informasi pendidikan, hiburan dan sebagaimana. Kita tau semua informasi yg tersebar di media sosial sangat mudah kita manipulasikan, kita palsukan kebenarannya demi ‘konten’ atau demi rating dari pemilik media sosial tersebut.

Syifa ariqah, bagaimanakah cara kita menganalisa sebuah aplikasi untuk suatu kepentingan bisnis agar tidak terjadi hal tidak diinginkan seperti tercurinya data kita dan lain-lain.

Ari Febrianto Universitas Baturaja; bagaimana meningkatkan literasi untuk kecintaan terhadap nilai-nilai kebudayaan daerah, ketika globalisasi dan kemajuan teknologi mulai menggerusnya, salahsatu buktinya adalah kecintaan remaja akan budaya kebarat-baratan dan malah menganggap budaya sendiri kuno dan aneh.

Amrullah Ibrahim Bandar Lampung; apakah konsep ATM amati tiru modifikasi dapat dijadikan untuk membangun personal branding untuk generasi milenial Indonesia, generasi yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Devi ningtyas; pertama, selama pandemi ini tempat wisata banyak yang tutup, namun tidak di sertai pemeliharaan sarana dan prasarananya sehingga banyak yang rusak. Apa yang pemerintah lakukan untuk mengatasi hal ini agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan seperti contoh terbakarnya kapal pinisi di labuhan bajo yg baru saja terjadi Karena genset yang rusak (kurang pemeliharaan) yang di dalamnya terdapat juga turis asing, hal ini juga akan memberikan dampak buruk di pariwisata Karena melibatkan turis asing. Berita ini pasti sudah tersebar Karena cepatnya info di dunia digital. bagaiman kita harus menanggapi hal tersebut.

Kedua, bagaiman cara kita untk memperkenalkan budaya kita melalui medi digital. Ketiga, bagaimana tanggapan mengenai kejadian “pencetakan kartu vaksin”, karena di dalam kartu vaksin itu tersimpan data kita, sudah banyak oranģ yang mencetaknya namun mereka rata-rata tidak tau akibatnya dan hanya mengikuti trend saja. Padahal pemerintah sudah melarang pencetakan tersebut, namun karena literasinya kurang sèhingga masih banyak yang mencetak kartu tersebut.

 

Ali Hamzah MAN 2 Bener Meriah Aceh, bagaimana cara mengantisifasi tawaran berupa kedok penipuan pada era digital yang saat ini sangat merajalela dinegeri kita dan adakah upaya yang bisa dilakukan oleh kementrian informasi dan komunikasi pusat terkait dengan medsos yang sedang berkembang saat ini.

Syahri Ramadhani dan Ari Febrianto Universitas Baturaja; bagaimana cara mengajarkan etika berdigital yang baik agar tidak terpengaruh oleh cyber bullying dan provokasi kepada keluarga khususnya orang tua yg aktif di medsos tapi masih minim sekali ilmu tentang literasi digital. sementara jika anak yang ngasih tau cenderung tidak pernah direspon, malah dikira ngatur orang tua, apa yang harus saya lakukan.

Alwardi Harahap_Politeknik Negeri Medan; kita tau bahwa negara kita erat dengan nilai perbedaan, seiring perkembangan media digital isu sara kerap kali menjadi perdebatan dan memicu permasalahan social. Bagaimana tantangan ini harus di perhatikan agar nilai persatuan kita tetap terjaga ditengah perkembangan teknologi yang mengancam nilai persatuan tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan diatas menurut saya menarik untuk dikaji lebih mendalam, mengingat dunia digital_new media_media social sudah menjadi budaya dan kebutuhan kehidupan keseharian. Media sosial menjadi sarana berkomunikasi_berinteraksi yang digemari.

Transformasi media sosial merupakan pintu masuk terjadinya perubahan dan tentu kita merupakan agen perubahannya. Media social memudahnya produksi konten, kemudahan dalam membagikan konten dan tentu adanya ketergantungan.

Sebagai jawaban dan solusi umum dapat saya digambarkan; perlu kita ingat bersama bahwa media sosial dapat menjadi kekuatan baru dalam komunikasi, berinteraksi. Kekuatan baru dalam penguatan nilai-nilai toleransi, pluralisme, multikulturalisme, demokrasi dan peradaban. Kekuatan baru dalam budaya, kearifan lokal. kekuatan promosi_kampanye indentitas. Bahkan kekuatan baru dalam pengambilan kebijakan, dalam jembatan aspirasi. Namun media sosial dapat menjadi ancaman baru bagi semua kekuatan diatas. Media social dapat berfungsi bagai pisau bermata dua.

Dalam menjalankan aktifitas menggunakan dunia digital_media social tentu rasa tanggung jawab social budaya perlu utamakan. Perlu dipahaman tentang kebebasan berbicara, tentang hak cipta, tentang hak kekayaan intelektual, privasi keamanan, kesenjanan digital, pola pengawasan dan taat pada standar perilaku online.

Selan itu, pahami literasi media social dengan berpengetahuan dan berwawasan luas. Mampu menganalisis, menilai, dan mampu untuk  berpendapat secara kritis atas informasi atau pesan media yang didapat. Bijak, dewasa, akal sehat, tidak mudah terbawa arus atau tergiring opini yang bersifat negatif. Menjauhi isu sara, memecah belah dan fitnah. Media sosial dengan daya kritis.Merubah mindsed, dari fixed mindset / saya tidak bisa melakukan hal itu ke growth mindset akan mengatakan saya akan mencoba terus. Perkuat Paradigma kritis bukan sekedar positifis.

Tentang etika digital mesti diterapkan sepanjang proses desain konten, produksi sampai distribusi. Pahami undang-undang dan proses edukasi. Menghargai keberadaan dan privasi orang lain. Dengan cara berpikir dulu sebelum berkomentar atau menshare. Pergunakan bahasa yang sopan dan santun dengan berkominiasi yang sehat. Penting juga, jangan menyalahgunakan kekuasaan, menghormati waktu dan bandwidth orang lain. Dengan membagi ilmu dan keahlian kepada orang lain. Walaupun terkadang berat, maafkan jika orang lain membuat kesalahan.

Dalam mengkonstruksi konten di media digital_media social dibutuhkan; participation artinya bagaimana public berpartisipasi memberikan kontribusi untuk tujuan bersama dengan memperhatikan hakikat dari ilmu komunikasi. Adanya remediation, bagaimana merubah budaya lama menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat-saling menghargai. bricolage; bagaimana memanfaatkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya untuk membentuk hal baru-mengharmonisasi kehidupan.

Tentu semua bermuara pada yang mendesak dikakukan yaitu kebutuhan akan pendidikan etika digital, budaya digital, keterampilan digital dan keamanan digital untuk semua warga digital sangat penting. pendidikan ini mesti menjadi persyaratan dan bukan pilihan. Menjadi bagian penting dari pendidikan public.

Media digital_media sosial sedang menghasilkan sebuah transformasi besar yang mengiringi kehidupan dan public terlibat didalamnya dengan mendapatkan kesempatan berkomunikasi atau berinteraksi, berkolaborasi, bertransaksi dan lain-lain dalam waktu nyata.

Catatan utama adalah perkuat nilai-nilai agama (Alquran dan hadis), hargai kearifa lokal, berbasis ilmu pengetahuan dan patuhi aturan-aturan berkaitan dengan dunia digital.

“Orang yang dapat bertahan dalam era digital ini, bukan yang paling kuat secara fisik, pintar secara inteletual, berpengalaman atau kemampuan kontrol emosional atau spiritulitas tapi yang mampu menseimbangkan potensi tersebut serta kemampuan beradaptasi. Semoga

SHARE