Edi Obama Minta MUSLIM Ke-X Berjalan Sejuk, Soroti Transparansi Aset Wakaf Almuslim

Edi obama dan tokoh Peusangan

BIREUEN— Edi Saputra atau Edi Obama meminta masyarakat Peusangan Raya menjaga suasana tetap kondusif menjelang Musyawarah Almuslim (MUSLIM) ke-X. Menjelang berakhirnya masa kepengurusan Yayasan Almuslim, ia mendorong transparansi pengelolaan aset wakaf dan meminta kepengurusan mendatang memprioritaskan pendidikan anak-anak kurang mampu.

Edi mengatakan MUSLIM harus menjadi ruang pengambilan keputusan yang bermartabat, dengan menghormati hak pemilik mandat dan suara sah. Menurut dia, pergantian kepengurusan harus berlangsung melalui mekanisme organisasi yang berlaku, bukan dipengaruhi kepentingan kelompok.

“Mari kita sambut MUSLIM dengan lapang dada. Siapa pun yang dipercaya nantinya, keputusan harus lahir melalui mekanisme organisasi dan musyawarah yang sah,” kata Edi Selasa 20 Oktober 2026.

Ia menegaskan, kepeduliannya terhadap Yayasan Almuslim bukan didorong ambisi jabatan, melainkan keinginan memastikan aset wakaf dikelola secara transparan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Edi meminta pengelola yayasan membuka informasi mengenai keberadaan aset, pendapatan yang dihasilkan, serta penggunaannya. Menurut dia, keterbukaan diperlukan agar masyarakat mengetahui sejauh mana harta wakaf dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

“Masyarakat berhak mengetahui di mana aset-aset yayasan berada, berapa penghasilannya setiap bulan dan tahun, serta bagaimana hasilnya digunakan dan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Edi mengatakan sejumlah pemilik mandat dan suara sah juga menitipkan aspirasi kepadanya. Ia mengklaim sebagian dari mereka belum leluasa menyampaikan pertanyaan dan harapan secara langsung.

Ia meminta pengelolaan wakaf tidak diperlakukan sebagai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Menurut dia, aset tersebut merupakan amanah yang harus dijaga untuk kepentingan masyarakat dan generasi mendatang.

“Menjaga amanah bukanlah permusuhan, melainkan tanggung jawab kita bersama. Keterbukaan bukan ancaman, tetapi kesempatan untuk menunjukkan bahwa amanah benar-benar dijalankan dengan baik,” kata Edi.

Edi mengingatkan agar perbedaan pandangan menjelang MUSLIM ke-X tidak berkembang menjadi fitnah, adu domba, intimidasi, maupun teror. Ia meminta semua pihak menanggapi aspirasi dengan dialog dan pertanggungjawaban terbuka.

Pernyataan itu disampaikan menyusul dukungan yang disebut datang dari sejumlah Tgk. Mukim, Tgk. Keuchik, Tgk. Imum, dan Tgk. Imum Syiek Masjid. Edi meminta dukungan tersebut tidak dianggap sebagai bentuk permusuhan terhadap pengurus yang sedang menjabat.

“Jika ada persoalan, mari kita buka dengan jujur. Jika ada kekeliruan, mari kita luruskan dengan lapang dada. Jika ada pertanyaan, mari kita jawab dengan terbuka,” ujarnya.

Ia juga meminta para pemilik mandat dan suara sah menggunakan hak mereka secara objektif dalam menentukan kepengurusan berikutnya.

Menurut Edi, pengurus saat ini dapat kembali dipercaya jika dinilai telah menjalankan amanah dengan baik. Namun, jika diperlukan pembenahan, MUSLIM menjadi forum untuk menentukan perubahan sesuai mekanisme organisasi.

Ia menambahkan, setiap putra Peusangan Raya memiliki kesempatan yang sama untuk mencalonkan atau dicalonkan sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku.

“Yang terpenting bukan siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mampu menjaga amanah, menghormati aturan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” katanya.

Selain mendorong transparansi aset wakaf, Edi meminta kepengurusan mendatang memperbesar manfaat yayasan di bidang pendidikan. Ia berharap hasil pengelolaan aset dapat digunakan untuk membantu anak yatim, fakir miskin, dan keluarga kurang mampu di Peusangan Raya.

Ia mengusulkan beasiswa dan pendidikan gratis bagi anak-anak yang membutuhkan, serta keringanan biaya pendidikan di Pesantren Almuslim bagi warga Peusangan Raya yang ingin memperdalam ilmu agama.

Menurut dia, keterbatasan ekonomi semestinya tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan.

“Harta wakaf harus menjadi jalan kebaikan bagi umat. Jangan sampai anak-anak yang memiliki semangat belajar kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi,” ujarnya.

Edi menegaskan, perjuangannya bukan untuk mengejar jabatan atau kedudukan dalam yayasan. Ia mengaku ingin memastikan pengelolaan wakaf berlangsung terbuka dan hasilnya kembali kepada masyarakat.

“Jika pengelolaan harta wakaf ini sudah transparan, benar, dan kembali pada kemaslahatan umat, maka selesailah tugas saya,” kata dia.

Ia mengajak masyarakat Peusangan Raya menjaga persaudaraan selama proses musyawarah berlangsung. Menurut dia, pergantian kepengurusan merupakan bagian dari dinamika organisasi, sedangkan amanah pengelolaan wakaf harus terus dipertanggungjawabkan.

“Jabatan akan berganti, kepengurusan akan berakhir, tetapi amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan tetap melekat pada diri kita masing-masing,” ujarnya.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait