PILREK UNIMAL 2026: BERBEDA PILIHAN, BERSAUDARA, MENJAGA MARWAH UNIVERSITAS

Oleh: Kamaruddin Hasan

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh dan Anggota Senat Universitas Malikussaleh

Pemilihan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) periode 20262030 bukan sekadar proses menentukan siapa yang akan memimpin universitas selama empat tahun ke depan. Lebih dari itu, Pilrek merupakan ujian kedewasaan akademik, integritas kelembagaan, kebebasan akademik dan kemampuan sivitas akademika merawat persaudaraan di tengah perbedaan pilihan. Sebab, apa pun hasilnya, Unimal tetaplah rumah bersama yang harus dijaga, bukan arena pertarungan yang meninggalkan perselisihan, kebencian, polarisasi dan luka berkepanjangan.

Jangan sampai kompetisi memilih pemimpin justru mengorbankan tujuan utama kehadiran universitas. Kampus didirikan bukan untuk membesarkan kelompok tertentu, melanggengkan kepentingan sesaat atau memenangkan pertarungan pengaruh. Universitas hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, melahirkan inovasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan peradaban.

Pilihan boleh berbeda, silaturahmi utama

Dalam kontestasi Pilrek, setiap calon rektor dan tim pendukung tentu memiliki gagasan, strategi, serta keyakinan masing-masing mengenai masa depan Unimal. Perbedaan tersebut merupakan berkah, sesuatu yang wajar, bahkan dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara dewasa. Patut diwaspadai ketika perbedaan pilihan berubah menjadi polarisasi, saling merendahkan, menyebarkan prasangka, membangun permusuhan atau menciptakan sekat yang merusak hubungan antardosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, seluruh keluarga besar universitas dan stakeholders.

Perlu mengingat bahwa setiap tim calon rektor merupakan bagian dari lingkungan akademik yang sama. Berbeda dalam menentukan figur pemimpin, tetapi tetap memiliki tujuan bersama; menjadikan Unimal semakin unggul, berintegritas, berdaya saing, penguatan pengetahuan lokal dan bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, tidak ada alasan untuk memelihara kebencian hanya karena perbedaan dukungan.

Al-Quran memberikan pedoman yang sangat jelas dalam Surah Al-Hujurat: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. Lebih lanjut mengingatkan agar tidak saling mengolok-olok, mencela atau memberikan julukan buruk kepada sesama.

Pesan ini penting bagi kehidupan kampus. Kritik terhadap gagasan, visi, rekam jejak dan kapasitas kepemimpinan tetap diperlukan. Namun, kritik mesti diarahkan pada substansi, bukan menjadi serangan pribadi. Menilai program kerja secara kritis merupakan tradisi akademik; merendahkan martabat seseorang bukanlah prestasi intelektual.

Rasulullah SAW juga bersabda, Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri Nilai persaudaraan ini semestinya tercermin dalam cara memperlakukan orang yang berbeda pilihan; menghormati haknya, menjaga kehormatannya dan tetap membuka ruang silaturahmi.

Universitas Sebagai Teladan Publik

Unimal mesti menjadi contoh bagi institusi lain dalam mengelola perbedaan secara bermartabat. Bagaimana mungkin kampus mengajarkan demokrasi, toleransi, komunikasi damai dan penyelesaian konflik kepada mahasiswa apabila dalam praktik internalnya sendiri perbedaan justru dipelihara menjadi permusuhan?

Kampus mesti menjadi pilar keharmonisan, baik di lingkungan internal maupun dalam hubungannya dengan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Universitas mesti mampu membangun jembatan ketika masyarakat terbelah, menghadirkan pengetahuan ketika perdebatan dikuasai emosi, serta menawarkan solusi ketika kepentingan berbeda berpotensi menimbulkan konflik.

Gagasan Jürgen Habermas tentang ruang publik deliberatif menekankan pentingnya dialog rasional, pertukaran argumentasi dan pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks universitas, pemikiran tersebut mengingatkan bahwa perbedaan semestinya diselesaikan melalui adu gagasan, data, integritas dan aturan yang disepakati, bukan melalui tekanan, intimidasi atau mobilisasi kebencian.

Sejalan dengan itu, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, khususnya Pasal 8 dan 9, menegaskan pentingnya kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan yang dilaksanakan secara bertanggung jawab. Prinsip tersebut menuntut lingkungan akademik yang memungkinkan pemikiran kritis berkembang sekaligus menjaga persatuan dan etika.

Keharmonisan tidak boleh dimaknai sebagai pembungkaman kritik. Kampus yang harmonis bukan kampus yang semua orangnya harus sepakat, melainkan kampus yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat, kepercayaan dan komitmen terhadap kepentingan bersama.

Otonomi kampus; tanpa intervensi

Selanjutnya, yang perlu menjadi perhatian pentingnya menjaga otonomi dan independensi perguruan tinggi. Proses Pilrek mesti berlangsung berdasarkan ketentuan yang berlaku, mekanisme kelembagaan, pertimbangan akademik, integritas, kompetensi dan kepentingan universitas.

Peran pemerintah dan pemangku kepentingan sesuai kewenangan serta ketentuan hukum tetap penting dalam tata kelola pendidikan tinggi. Akan tetapi, peran tersebut mesti dijalankan secara proporsional, transparan dan akuntabel. Tidak semestinya ada tekanan atau intervensi yang melampaui kewenangan sehingga mengurangi kebebasan akademik, merusak kepercayaan atau menggeser orientasi pemilihan dari kepentingan institusi menjadi kepentingan pihak tertentu.

Prinsip yang sama berlaku bagi seluruh unsur internal kampus. Tidak boleh ada pihak yang merasa memiliki universitas hanya karena kedekatan, jabatan, dukungan kelompok atau keberhasilan memenangkan kontestasi. Rektor terpilih nantinya bukan hanya pemimpin bagi pihak yang mendukungnya, melainkan pemimpin bagi seluruh keluarga besar Unimal.

Dalam hal inilah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin yang kuat bukan sekadar mampu memperoleh dukungan, melainkan mampu merangkul pihak yang berbeda, mendengar kritik secara terbuka, membangun kepercayaan dan memastikan setiap kebijakan berpijak pada kepentingan institusi.

Unimal rumah bersama

Hal terpenting yang mesti dipikirkan bukan semata-mata siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan bagaimana Unimal tetap berdiri tegak setelah seluruh proses pemilihan selesai. Tim calon yang tidak terpilih tetap memiliki kehormatan, kapasitas, pengalaman dan kontribusi yang dapat diberikan bagi kemajuan universitas. Sebaliknya, pihak yang terpilih memikul tanggung jawab untuk menyatukan potensi tersebut dalam agenda pembangunan kampus.

Karenanya, seluruh pihak perlu menjaga komunikasi, memperkuat silaturahmi, menghormati hasil sesuai mekanisme yang sah, serta tetap menjalankan fungsi kritik dan pengawasan secara konstruktif. Perbedaan itu hal lumrah, tidak juga mesti dihapus, tetapi perlu dikelola menjadi energi untuk memperbaiki tata kelola, mutu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kesejahteraan sivitas akademika.

Unimal memiliki identitas sejarah dan nilai yang besar melalui nama Sultan Malikussaleh serta warisan peradaban Samudera Pasai. Identitas tersebut semestinya menjadi sumber inspirasi untuk membangun universitas yang religius, inklusif, berintegritas, terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan mampu berkontribusi bagi perdamaian serta kemanusiaan.

Pilrek 2026 tanggung jawab bersama, mari jaga agar kompetisi tidak berubah menjadi permusuhan, dukungan tidak berubah menjadi fanatisme dan perbedaan tidak memutus persaudaraan dan silaturahmi. Jangan biarkan kepentingan sesaat merusak hubungan yang dibangun bertahun-tahun.

Rektor akan berganti, tim akan kembali menjalani tugas masing-masing, tetapi Unimal mesti terus hidup dan berkembang lintas generasi. Utamakan institusi di atas kelompok, gagasan di atas sentimen, dialog di atas perbedaan, serta integritas di atas kepentingan sesaat. Biarkan setiap calon menjalankan, menyampaikan gagasan terbaiknya, setiap pihak menggunakan haknya secara bertanggung jawab, dan seluruh proses berlangsung sesuai aturan tanpa tekanan yang tidak semestinya.

Karena, keberhasilan Pilrek yang sesungguhnya bukan hanya melahirkan seorang rektor, melainkan memperkuat universitas sekaligus menjaga persaudaraan seluruh keluarga besarnya. Jika setelah Pilrek silaturahmi tetap terjaga, kebebasan akademik terlindungi, tata kelola semakin baik dan kepercayaan publik menguat, maka Unimal telah memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat.

Bersama menjaga Unimal sebagai rumah ilmu, rumah peradaban, dan rumah masa depan generasi bangsa. Wallahu alam bishawab.(*)

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait