Mahasiswa KKN USK Hidupkan Kembali Rapai Kaoy di Jeunieb

BIREUEN – Suara tabuhan Rapai Kaoy kembali terdengar di Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Kesenian tradisional yang telah diwariskan selama sekitar 150 tahun itu mulai dihidupkan kembali melalui inisiatif mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 192 Universitas Syiah Kuala (USK) bersama masyarakat setempat.

Bagi warga Meunasah Dayah, Rapai Kaoy bukan sekadar pertunjukan seni. Tradisi ini sejak lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Rapai dimainkan ketika warga menunaikan nazar sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Kesenian ini juga hadir dalam tradisi doa bersama untuk memohon perlindungan dari serangan hama yang mengancam areal persawahan.

Di balik tabuhan rapai, terselip nilai-nilai religius yang kuat. Permainan alat musik itu diiringi lantunan salawat kepada Nabi Muhammad SAW dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Karena itu, Rapai Kaoy tak hanya dipandang sebagai kesenian rakyat, tetapi juga menjadi medium syiar Islam yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Ketua KKN Reguler Kelompok 192 USK, Aanda, mengatakan keterlibatan mahasiswa bertujuan mendorong generasi muda agar kembali mengenal dan merawat warisan budaya yang mulai jarang dipentaskan. Menurut dia, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mendokumentasikan, tetapi juga menghidupkannya kembali di tengah masyarakat.

“Rapai Kaoy bukan sekadar seni tabuh, tetapi warisan leluhur yang mengandung nilai sejarah, keislaman, dan kebersamaan. Kami berharap generasi muda terus mencintai, mempelajari, dan melestarikan tradisi ini agar tetap hidup dari generasi ke generasi,” kata Aanda, yang juga tergabung dalam Grup Rapai Syuhada.

Kebangkitan Rapai Kaoy dinilai menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya lokal di Kabupaten Bireuen. Masyarakat berharap kesenian tersebut kembali mendapat ruang dalam berbagai kegiatan adat, keagamaan, maupun kebudayaan sehingga tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, melainkan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Warga juga berharap dukungan pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, serta pelaku seni dapat memperkuat upaya pelestarian Rapai Kaoy. Dengan demikian, kesenian tradisional yang sarat nilai sejarah, spiritual, dan religius itu dapat terus bertahan sebagai salah satu identitas budaya Aceh.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait