ZONAMEDIA. CO|Lhokseumawe – Isu terkait penyediaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan kantin sekolah sebagai jalur penyaluran utama dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh. Langkah ini krusial agar kualitas, standar gizi, serta efisiensi distribusi makanan bagi para siswa dapat terjamin dengan baik.
Perwakilan Yayasan (PIC) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lhokseumawe Banda Sakti Kutablang dari Yayasan Assyifa Dara Madani, Yusuf, menyampaikan keterlibatan kantin sekolah untuk menyalurkan program MBG memerlukan persiapan yang matang, mulai dari standar higienitas hingga kepastian pemenuhan gizi seimbang.
“Isu tersebut perlu dikaji kembali secara komprehensif. Kita harus memastikan bahwa kantin memiliki infrastruktur, fasilitas sanitasi, serta pemahaman standar gizi sesuai regulasi yang ditetapkan, sehingga MBG yang disalurkan kepada penerima manfaat aman dan layak konsumsi,” Kata Yusuf.
Menurutnya, apabila pelaksanaan MBG melalui kantin sekolah membutuhkan pembangunan atau pengadaan fasilitas baru, justru perlu dihitung kembali apakah kebijakan tersebut benar-benar menghasilkan efisiensi atau malah menambah beban anggaran.
Disisi lain, Penyaluran Program MBG untuk Balita, Ibu hamil dan ibu menyusui atau kelompok B3 dikhawatirkan akan membebani kantin sekolah, serta akan mempengaruhi kontsentrasi tenaga pendidik dan mengganggu proses belajar-mengajar.
Yusuf menambahkan, program MBG khususnya di Lhokseumawe terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak diluncurkan pemerintah. Sehingga program yang sudah berjalan ini hanya perlu dibenahi, agar lebih baik, lebih efektif, transparan dan benar-benar memberikan manfaat kepada penerima.
“Saat ini program MBG bukan hanya memperkuat asupan gizi untuk penerima manfaat, lebih dari itu MBG juga memperkuat ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar dapur SPPG. dalam satu sapur jumlah pekerja hampir 50 orang,” tambah Yusuf.(FS)





