ZONAMEDIA. CO|ACEH UTARA– Tokoh Muda Aceh Utara, Syahrul menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah perlu dikaji ulang dengan mempertimbangkan fungsi utama pada satuan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Program MBG merupakan langkah positif dalam mendukung pemenuhan gizi peserta didik. Namun, pelaksanaannya di sekolah tetap perlu dikaji ulang lantaran memperhatikan fungsi utama sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan,” ujar Syahrul.
Menurut Syahrul, sekolah memiliki tanggung jawab utama dalam proses pendidikan, sehingga pengelolaan program yang bersifat operasional sebaiknya memiliki mekanisme tersendiri dan tidak sepenuhnya bertumpu pada kantin maupun pihak sekolah.
Selain itu, kata syahrul, ketika pengelolaan makanan, distribusi, hingga berbagai kebutuhan operasional MBG dilakukan melalui lingkungan sekolah, terdapat potensi munculnya tambahan pekerjaan yang pada akhirnya dapat memengaruhi aktivitas sekolah. Perlu ada pola pengelolaan yang lebih proporsional, sehingga program MBG tetap dapat berjalan tanpa menjadikan sekolah sebagai pusat dari seluruh kegiatan operasionalnya.
“Bukan berarti programnya tidak diperlukan. Yang perlu dipikirkan adalah pola pengelolaannya. Sekolah sebaiknya diberikan ruang untuk berkonsentrasi pada pembelajaran, sementara aspek penyediaan dan pengelolaan makanan bisa ditangani oleh pihak yang memang memiliki kapasitas di bidang tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, kantin sekolah juga memiliki fungsi tersendiri dalam mendukung kebutuhan peserta didik. Jika sekaligus dibebani dengan pengelolaan MBG, diperlukan kesiapan yang benar-benar matang, baik dari sisi sumber daya manusia, fasilitas, standar kebersihan maupun tata kelola.
Syahrul berharap pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai aspek tersebut sebelum menjadikan kantin sekolah sebagai bagian utama dalam pengelolaan MBG.
Menurutnya, evaluasi bukan dimaksudkan untuk menghambat program, melainkan memastikan kebijakan tersebut dapat berjalan secara efektif dan memberikan manfaat maksimal bagi peserta didik.
“Harapannya tentu sama, bagaimana anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi tanpa mengurangi kualitas proses pendidikan. Karena itu, mekanisme pengelolaannya perlu dicari yang paling tepat dan tidak membebani sekolah,” pungkasnya.





