DR. ALFIAN, S.H.I., MA: DARI TRADISI PESANTREN, PEGIAT PERDAMAIAN HINGGA KEPEMIMPINAN AKADEMIK

 

Oleh: Kamaruddin Hasan

Dalam kontestasi Bakal Calon Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) periode 2026–2030, nama Dr. Alfian, S.H.I., M.A. menarik diperhatikan bukan semata karena posisi akademik dan administratif yang pernah diembannya, tetapi terutama karena perjalanan intelektual dan sosialnya yang bersinggungan dengan tiga ruang penting: agama, pendidikan dan pegiat perdamaian Aceh. Secara resmi, Universitas Malikussaleh mencatat Dr. Alfian, S.H.I., M.A. sebagai salah satu pimpinan universitas, dengan jabatan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

Latar belakang pendidikan dan pengalaman hidupnya memperlihatkan sebuah perjalanan yang relatif khas. Berangkat dari tradisi pendidikan pesantren, kemudian menempuh pendidikan sarjana di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melanjutkan studi magister di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dan menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, perjalanan tersebut membentuk kombinasi antara fondasi keagamaan, pengalaman intelektual, wawasan regional, internasional dan perspektif akademik yang lebih luas. Jika pendidikan adalah proses membentuk cara berpikir, maka lintasan pendidikan Alfian menunjukkan pertemuan antara tradisi keislaman, pengalaman keacehan dan pendidikan tinggi modern.

Pengalaman ketika menjadi aktivis mahasiswa juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Pada masa studi di UIN Ar-Raniry, Alfian pernah dipercaya memimpin organisasi mahasiswa melalui posisi Ketua BEM. Pengalaman ini tidak sekadar berkaitan dengan aktivitas kemahasiswaan, tetapi merupakan ruang pembelajaran kepemimpinan sejak awal; bagaimana mengelola organisasi, membangun komunikasi, menghadapi perbedaan pandangan, menyusun agenda bersama, serta mengartikulasikan kepentingan mahasiswa. Dalam konteks kepemimpinan perguruan tinggi, pengalaman organisasi semacam ini dapat menjadi modal sosial yang penting, meskipun tentu saja tidak dengan sendirinya menjadi ukuran keberhasilan dalam semua lini kehidupan, tetap Allah SWT yang menentukan.

Tentu, yang lebih menonjol ketika Tgk. Alfian, keterlibatannya dalam dinamika peguatan perdamaian Aceh. Tgk. Alfian dikenal memiliki pengalaman sebagai bagian dari kalangan aktivis yang terlibat dalam proses perdamaian dan pernah menjadi bagian dari perwakilan aktivis Aceh dalam ruang-ruang perdamaian di Helsinki serta beberapa negara lainnya.
Pengalaman tersebut mendapatkan relevansi baru ketika Aceh pada 2026 memasuki lebih dari dua dekade perjalanan pascaperdamaian. Publikasi mutakhir mengenai 21 tahun MoU Helsinki juga menunjukkan bahwa isu perdamaian Aceh masih menjadi agenda penting, bukan hanya dalam konteks menghentikan konflik bersenjata, tetapi juga bagaimana perdamaian tersebut diterjemahkan menjadi kesejahteraan, keadilan, persatuan dan masa depan generasi muda.
Keterlibatan Tgk. Alfian dalam isu perdamaian juga bukan sekadar catatan masa lalu. Pada 2025, beliau masih tampil sebagai akademisi dalam diskusi publik mengenai persatuan dan perdamaian Aceh serta MoU Helsinki, menunjukkan bahwa pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari ruang intelektual dan pengabdiannya.

Maka, disinilah salah satu karakter penting Dr. Tgk. Alfian dapat dibaca; agama dan peguatan perdamaian tidak ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah. Latar pesantren dan pendidikan Islam memberikan fondasi nilai; pengalaman penguatan perdamaian Aceh memberikan pengalaman sosial-politik. Sedangkan dunia akademik memberikan ruang untuk mengolah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan dan kebijakan. Kombinasi ini penting bagi sebuah universitas yang tumbuh di wilayah dengan sejarah sosial-politik dan kebudayaan yang sangat khas seperti Aceh.

Dalam kehidupan sosial-keagamaan, Tgk. Alfian juga dikenal aktif memberikan pengajian, khutbah Jumat, ceramah keagamaan dan aktivitas dakwah lainnya. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan akademiknya tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan masyarakat. Dalam konteks Aceh, yang memiliki sejarah panjang hubungan antara pendidikan, ulama, masyarakat dan pemerintahan, kemampuan seorang pemimpin perguruan tinggi untuk berkomunikasi dengan komunitas akademik sekaligus masyarakat luas merupakan modal kepemimpinan yang relevan.

Walau demikian, secara objektif, basis agama yang kuat tidak boleh dipahami sebagai pengganti kompetensi tata kelola universitas. Seorang calon rektor tetap harus diuji melalui kemampuan akademik, manajemen kelembagaan, kepemimpinan transformasional, pengembangan SDM, tata kelola keuangan, internasionalisasi, inovasi, digitalisasi, riset, hilirisasi, akreditasi, serta kemampuan membangun jejaring nasional dan internasional. Justru tantangan bagi sosok seperti Tgk. Alfian adalah bagaimana nilai-nilai agama, pengalaman perdamaian dan kearifan lokal diterjemahkan menjadi kebijakan universitas yang profesional, proporsional, inklusif, kolaboratif, transformative, transparan berbasis data, berorientasi pada mutu.

Dalam konteks itu, pengalaman perdamaian dapat menjadi modal yang sangat strategis. Universitas tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu mengelola birokrasi, tetapi juga pemimpin yang mampu mengelola perbedaan. Kampus adalah ruang bertemunya berbagai disiplin ilmu, generasi, kepentingan dan pandangan. Karena itu, pengalaman berada dalam lingkungan aktivisme penguatan perdamaian dapat menjadi modal untuk mengembangkan kepemimpinan yang dialogis, inklusif, membangun kepercayaan dan menghindari polarisasi internal.

Terlebih lagi, Unimal bukan universitas yang berdiri dalam ruang sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi dan lainnya yang kosong. Namun berada di kawasan Samudera Pase, sebuah wilayah yang memiliki warisan sejarah Samudera Pasai, Islam, perdagangan, intelektualitas, konflik, perdamaian dan perubahan sosial. Karena itu, kepemimpinan Unimal ke depan idealnya tidak hanya berorientasi pada indikator akademik global, tetapi juga mampu menjadikan peradaban, sejarah, Islam, budaya, kearifan lokal, potensi lokal, pengetahuan lokal Aceh dan pengalaman perdamaian sebagai sumber keunggulan akademik dan identitas kelembagaan.

Dalam perspektif tersebut, pencalonan Dr. Alfian, S.H.I., M.A. untuk periode 2026–2030 dapat dibaca sebagai tawaran tentang kepemimpinan yang mempertemukan nilai, pengalaman dan akademik. Tgk. Alfian membawa pengalaman dari pesantren, aktivisme mahasiswa, pendidikan Islam, pendidikan internasional, pengalaman pengatan perdamaian, kehidupan dakwah, hingga pengalaman dalam tata kelola Universitas Malikussaleh.

Untuk itu, apakah pengalaman tersebut cukup untuk membawa Unimal menuju lompatan baru, tentu bukan ditentukan oleh latar belakang semata, namun ukurannya antara lain visi, integritas, kapasitas eksekusi, keberanian melakukan pembaruan, kemampuan membangun konsensus, membagun kolaborasi secara sinergitas, transparasi berbasi data dan keberpihakan pada kemajuan sivitas akademika serta masyarakat. Sehingga, insyaAllah akan mampu wewujudkan secara kolabrotaif Universitas Malikussaleh dengan Riset kelas dunia, Daya saing global, Berkarakter Kebangsaan, Inovasi, Transformatif, Inklusif berbasis Religius, Potensi lokal dan pengetahuan lokal.

Dengan demikian, sosok Dr. Alfian dapat dipandang sebagai salah satu figur dalam Pilrek Unimal 2026–2030 yang memiliki kombinasi pengalaman keagamaan, aktivisme, penguatan perdamaian, akademik dan manajerial. Tantangan terbesarnya bukan lagi membuktikan dari mana berasal, tetapi seberapa jauh seluruh pengalaman tersebut mampu dikonversikan menjadi agenda transformasi Unimal: unggul secara akademik, kuat secara karakter, modern dalam tata kelola, berakar pada sejarah dan kearifan Aceh, serta berdaya saing di tingkat nasional dan global.

Dalam bahasa sederhananya; pesantren dapat menjadi sumber nilai, pendidikan menjadi sumber pengetahuan, pengalaman perdamaian menjadi sumber kebijaksanaan dan universitas menjadi ruang untuk mengubah semuanya menjadi kemajuan. Itulah yang layak diuji secara objektif, transparansi dan kolaboratif dalam perjalanan Dr. Alfian menuju kontestasi Rektor Universitas Malikussaleh 2026–2030.

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait