BIREUEN– Ponsel Edi Obama bisa berdering kapan saja. Kabar tentang warga yang membutuhkan darah, rumah terbakar, orang sakit, atau bencana di suatu wilayah Bireuen bisa datang tanpa mengenal jam kerja. Jika memungkinkan, Edi datang sendiri.
Di lokasi kebakaran, misalnya, ia biasanya mencari keluarga yang terdampak. Melihat rumah yang terbakar, mendengar cerita pemiliknya, lalu menanyakan kebutuhan yang paling mendesak. Setelah itu, ia menghubungi orang-orang yang bisa membantu.
Begitu pula ketika ada warga yang sakit. Edi datang ke rumah atau rumah sakit, berbicara dengan keluarga, dan melihat langsung kondisi mereka. Tidak semua kunjungan berakhir dengan bantuan besar. Tetapi bagi Edi, mengetahui keadaan warga secara langsung merupakan bagian dari pekerjaan kemanusiaan yang ia jalani.
Itulah keseharian Edi Saputra bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen. Ia lahir di Matang Geulumpang Dua pada 31 Juli 1984. Kini berusia 42 tahun, lebih dari satu dekade hidupnya telah berjalan bersama organisasi kemanusiaan itu.
Sejak 2016, Edi dipercaya memimpin PMI Bireuen. Pada 2026, ia kembali terpilih untuk periode 2026–2031.
Sebagian besar perjalanan organisasinya berlangsung di PMI. Markas di Blang Bladeh bukan sekadar tempat ia bekerja. Di sana relawan datang dan pergi, pendonor menyumbangkan darah, sementara warga datang membawa kebutuhan yang berbeda-beda.
Di Kota Juang, nama Edi lebih dikenal sebagai Edi Obama. Ia menamatkan pendidikan di SMAN 2 Bireuen sebelum melanjutkan pendidikan sarjana hukum di IAI Almuslim. Dalam sejumlah pemberitaan, namanya ditulis Edi Saputra, S.H., M.M.
“Kemanusiaan tidak butuh banyak retorika, tetapi butuh aksi nyata. PMI hadir untuk menjadi jembatan kebaikan dan perlindungan bagi masyarakat,” kata Edi Sabtu 3 Oktober 2026.
Bagi Edi, kerja kemanusiaan tidak selalu berarti menunggu warga datang ke markas PMI. Ia justru kerap mendatangi mereka yang membutuhkan darah, pertolongan, atau bantuan ketika bencana terjadi.
Salah satu pekerjaan yang terus digerakkannya adalah donor darah.
PMI Bireuen rutin menggelar donor darah di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Jadwal dibuat berkala sehingga masyarakat dapat menjadi pendonor rutin. Sebagian mendonorkan darah setiap dua setengah bulan, sebagian lainnya setiap tiga bulan.
“Kita rutin melakukan donor darah, baik kecamatan maupun kabupaten. Tidak mengenal waktu, apakah setiap hari, setiap minggu, atau setiap bulan. Semua sudah terjadwal. Masyarakat akan ikut melakukan donor rutin, baik dua setengah bulan sekali atau tiga bulan sekali. Hampir setiap hari ada donor darah, baik yang difasilitasi PMI maupun UTD RS Fauziah Bireuen,” ujar Edi.
Darah yang dikumpulkan itu pada akhirnya bukan sekadar angka dalam laporan kegiatan. Ia menjadi persediaan yang dibutuhkan pasien ketika transfusi tidak bisa ditunda.
Akhir November 2025, ketika banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Bireuen, kebutuhan kemanusiaan kembali muncul dalam waktu yang bersamaan. Rumah-rumah terendam dan rusak. Warga mengungsi. Pelayanan kesehatan dibutuhkan.
PMI turun bersama para relawan. Pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat terdampak. Promosi kesehatan dan dukungan psikososial dilakukan. Bantuan logistik serta perlengkapan pendidikan didistribusikan kepada warga yang membutuhkan

“Pekerjaan semacam itu tidak berhenti. Kita harus memastikan masyarakat terdampak benar-benar memiliki kebutuhan dan kesehatan yang baik,” kata Edi.
Banjir dan longsor bukan satu-satunya keadaan yang membuatnya datang langsung. Kebakaran rumah juga kerap mempertemukannya dengan warga dalam situasi paling sulit. Begitu pula ketika seseorang sakit dan membutuhkan perhatian.
Ada warga yang dirawat di rumah sakit. Ada pula yang hanya terbaring di rumah karena penyakit yang diderita. Edi datang, menanyakan keadaan, berbicara dengan keluarga, dan melihat langsung apa yang mereka butuhkan. Jika ada kebutuhan yang dapat dibantu, ia berusaha mencarikan jalan keluarnya.
“Bagi saya Palang Merah Indonesia adalah tentang konsistensi dalam ketulusan. Di setiap aksi kemanusiaan, tujuan kami hanya satu: meringankan beban dan menjaga martabat sesama tanpa membeda-bedakan,” katanya.
Kerja kemanusiaan, bagi Edi, tidak selalu hadir dalam bentuk kegiatan besar. Kadang ia sesederhana mendatangi seseorang yang sedang sakit, duduk di samping tempat tidurnya, lalu mendengarkan cerita keluarganya.
Namun kerja kemanusiaan juga membuatnya berhadapan dengan keterbatasan.
Pada Mei 2025, misalnya, Edi menggunakan uang pribadi untuk merenovasi Markas PMI Bireuen di Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa. Markas itu mengalami kerusakan selama sekitar tiga tahun dan belum memiliki anggaran untuk diperbaiki.
“Makanya kami berinisiatif untuk melakukan renovasi dengan menggunakan uang pribadi, agar markas ini bisa ditempati kembali dan tidak mengganggu pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi PMI di Bireuen,” ujar Edi.
Keputusan itu diambil agar kegiatan organisasi tetap berjalan. Bagi PMI, markas bukan sekadar bangunan. Dari tempat itu relawan bergerak, donor darah disiapkan, bantuan dikoordinasikan, dan kebutuhan warga ditindaklanjuti.
Ketika anggaran belum memungkinkan, Edi memilih memastikan tempat itu tetap dapat digunakan.
Edi menyebut PMI sebagai rumah keduanya. Lebih dari sepuluh tahun ia menjalani hari bersama pengurus dan relawan organisasi tersebut.
Rumah kedua bukan istilah yang lazim digunakan untuk sebuah organisasi. Namun waktu yang panjang dapat membuat sebuah markas menjadi lebih dari sekadar kantor.
Di sana Edi bertemu dengan relawan, pendonor darah, korban bencana, pasien, dan keluarga yang membutuhkan bantuan. Sebagian datang hanya sekali. Sebagian lainnya kembali dalam kegiatan yang berbeda.
Di rumah, dunia Edi juga tidak sepenuhnya jauh dari urusan kemanusiaan. Istrinya, Ns. Sri Selisna Devi, bekerja di bidang kesehatan. Devi juga merupakan pengurus PMI Provinsi Aceh bidang kesehatan.
Dalam sejumlah kegiatan PMI, Devi kerap berada di samping Edi. Donor darah, pelayanan kesehatan, relawan, dan bantuan bagi warga yang membutuhkan bukanlah dunia yang asing bagi keluarga mereka.
Lebih dari satu dekade bersama PMI membuat Edi tidak hanya mengenal organisasi itu melalui program dan struktur. Ia mengenalnya melalui orang-orang yang datang ketika membutuhkan pertolongan dan mereka yang datang untuk memberikan pertolongan.
Mungkin itu pula yang membuatnya menyebut PMI sebagai rumah kedua.
“Kepercayaan masyarakat adalah energi terbesar kami, dan kami berkomitmen untuk terus menjaga amanah itu dengan kerja nyata di lapangan,” kata Edi menutup pembicaraan.***





