LHOKSEUMAWE – Kemampuan membaca dan menyikapi informasi secara kritis menjadi hal penting bagi kader organisasi mahasiswa di tengah derasnya arus informasi dan pertarungan narasi di ruang publik. Hal tersebut disampaikan Dr. Alfian, S.Hi., M.A, saat memberikan materi Agitasi dan Propaganda pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lhokseumawe, Minggu (4/10/2026).
PKD tersebut mengusung tema “Integrasi Keilmuan dan Aswaja demi Mewujudkan Gerakan Kader yang Solutif.” Dr. Alfian yang merupakan dosen Ilmu Politik sekaligus Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Malikussaleh, mengajak peserta memahami bagaimana sebuah pesan dapat digunakan untuk membentuk opini, memengaruhi sikap, hingga mendorong tindakan massa.
Dalam pemaparannya, Dr. Alfian menjelaskan bahwa agitasi dan propaganda bukanlah hal yang sama, meskipun keduanya sering digunakan secara bersamaan dalam komunikasi politik.
Agitasi lebih diarahkan pada upaya membangkitkan emosi, semangat, atau dorongan tertentu pada massa agar melakukan suatu tindakan. Sementara propaganda lebih berkaitan dengan penyebaran informasi, ide, atau gagasan yang bertujuan memengaruhi pendapat, sikap, maupun perilaku seseorang atau kelompok.
Menurutnya, dalam kehidupan politik, kedua cara tersebut dapat digunakan untuk membangun dukungan maupun mempertahankan posisi sebuah kelompok. Perubahan posisi dan kepentingan dalam politik bahkan dapat membuat pihak yang sebelumnya berlawanan menjadi kawan, atau sebaliknya.
Karena itu, kata Dr. Alfian, kader mahasiswa perlu memahami bagaimana sebuah narasi dibangun dan bagaimana opini publik dapat diarahkan.
“Memahami perbedaan antara agitasi dan propaganda menjadi penting agar kita tidak mudah terjebak dalam permainan wacana politik,” demikian inti pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Ia juga memperkenalkan sejumlah pola yang dapat digunakan dalam propaganda, antara lain pemberian label buruk kepada pihak yang menjadi sasaran, penggunaan pengaruh tokoh yang dianggap memiliki kewibawaan, pemilihan fakta secara selektif, hingga penonjolan hanya pada sisi tertentu dari sebuah persoalan.
Dalam praktiknya, pola seperti itu dapat membuat masyarakat hanya melihat satu sisi informasi dan mengabaikan fakta lainnya. Materi juga menyinggung penggunaan kambing hitam untuk mengalihkan rasa frustrasi atau kebencian kepada pihak tertentu.
Bagi kader PMII, pemahaman tersebut bukan sekadar pengetahuan tentang komunikasi politik. Lebih jauh, kemampuan membaca pesan secara kritis diperlukan agar kader tidak mudah terbawa oleh informasi, slogan, maupun narasi yang berkembang tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran dan konteksnya.
Dr. Alfian menekankan bahwa sikap kritis, logis, dan bijaksana harus menjadi bekal kader ketika menghadapi berbagai narasi, terutama dalam situasi politik yang sarat dengan persaingan kepentingan.
pada materi tersebut, Dr. Alfian juga menambahkan, bahwa jangan hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu membaca siapa yang menyampaikan pesan, untuk kepentingan apa pesan itu dibuat, bagaimana pesan tersebut dikemas, dan dampak apa yang mungkin ditimbulkannya.
” Melalui PKD ini, PMII Lhokseumawe diharapkan dapat melahirkan kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai keislaman dan Aswaja, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual untuk membaca realitas sosial dan politik secara lebih jernih” ungkap Dr. Alfian.(mgd)





