Zonamedia. Co|Aceh Utara – Aktivitas perdagangan internasional melalui Pelabuhan Umum Krueng Geukueh kembali menunjukkan tren positif. Dalam rentang waktu kurang dari sepekan, dua komoditas unggulan asal Aceh berhasil menembus pasar global, yakni 9.275 metrik ton Palm Kernel Shell (PKS) menuju Jepang dan 12.000 metrik ton Crude Palm Oil (CPO)menuju Chennai, India. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa sektor perkebunan Aceh terus memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi maritim Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Pengapalan terbaru dilakukan menggunakan kapal PVT DAWN Voyage yang mengangkut 12.000 metrik ton Crude Palm Oil (CPO) Edible Grade in Bulk milik PT Agro Murni. Muatan tersebut diberangkatkan melalui Dermaga Multipurpose Pelabuhan Umum Krueng Geukueh dengan tujuan Pelabuhan Chennai, India, setelah seluruh persyaratan operasional, pemeriksaan keselamatan, inspeksi tangki, hingga verifikasi administrasi pelayaran dinyatakan memenuhi ketentuan.
Kapal tiba di perairan Lhokseumawe pada 20 Juli 2026 sebelum menjalani serangkaian proses pelayanan kapal yang melibatkan pandu, karantina kesehatan, pemeriksaan dokumen, serta inspeksi teknis. Setelah seluruh tahapan selesai dilaksanakan, kegiatan pemuatan dimulai pada 22 Juli 2026 pukul 12.30 WIB dengan memanfaatkan fasilitas tangki darat dan sistem perpipaan khusus guna menjaga mutu CPO selama proses distribusi menuju negara tujuan.
Realisasi pengiriman tersebut sekaligus menjadi volume ekspor CPO terbesar yang dilayani Pelabuhan Krueng Geukueh sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, pelabuhan ini telah mencatat pengiriman 11.490 metrik ton pada 24 Februari 2026 dan 9.178 metrik ton pada 2 Juni 2026. Dengan tambahan pengapalan terbaru, total ekspor CPO yang dilayani sepanjang tahun ini telah mencapai 32.668 metrik ton, sementara volume pengiriman Juli meningkat sekitar *30,75 persen* dibandingkan ekspor pada Juni 2026.
Site Manager PT Aceh Makmur Bersama atau AMB, Tarmizi, mengatakan bahwa keberhasilan mempertahankan pasar ekspor menunjukkan kualitas CPO Aceh semakin mendapat pengakuan dari konsumen internasional.
“Kepercayaan pasar internasional terhadap CPO asal Aceh bukan hadir secara kebetulan. Di balik setiap pengapalan terdapat kerja keras petani, pelaku usaha, tenaga kerja, akademisi, hingga seluruh pihak yang menjaga kualitas produk dari hulu sampai hilir. Sistem ekologis perkebunan yang terus dijaga, tata kelola produksi yang semakin baik, serta dukungan infrastruktur logistik telah menghasilkan CPO yang mampu memenuhi kebutuhan industri global. Kami optimistis permintaan terhadap CPO Aceh akan terus tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Tarmizi.
Ia menjelaskan, setelah meninggalkan Pelabuhan Krueng Geukueh, kapal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 10 hari untuk mencapai Pelabuhan Chennai, bergantung pada kondisi cuaca dan kepadatan jalur pelayaran internasional di kawasan Selat Malaka hingga Teluk Benggala.
Branch Manager Pelindo Multi Terminal Branch Lhokseumawe, Aulia Rahman, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam mendukung kelancaran kegiatan ekspor, mulai dari pekerja operasional, awak kapal, instansi pemerintah, hingga pengguna jasa pelabuhan.
“Keberhasilan ekspor ini merupakan buah dari kolaborasi seluruh pihak yang bekerja dengan dedikasi tinggi. Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas operasional, tenaga pandu, petugas tambat, pekerja lapangan, pengguna jasa, serta seluruh unsur yang terlibat dalam memastikan pelayanan berjalan optimal. Pelindo Multi Terminal Branch Lhokseumawe akan terus menghadirkan pelayanan yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat serta dunia usaha agar pelabuhan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional,” kata Aulia.
Menurutnya, aktivitas ekspor yang terus berlangsung tidak hanya mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan pelabuhan, tetapi juga menjadi hasil sinergi yang dibangun bersama pemerintah, instansi vertikal, aparat keamanan, pelaku usaha, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kepemudaan, serta masyarakat di sekitar kawasan pelabuhan. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam menciptakan iklim usaha yang sehat sekaligus mendorong para pengusaha Aceh memanfaatkan posisi strategis wilayah Aceh Utara yang berada di jalur perdagangan internasional.
Sementara itu, Kepala KSOP Kelas IV Lhokseumawe, Azwar, menegaskan bahwa setiap pelayanan terhadap kapal niaga dilaksanakan sesuai amanat peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kepastian hukum.
“KSOP memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap aktivitas pelayaran berlangsung sesuai regulasi yang berlaku. Bersama seluruh unsur terkait, kami terus memperkuat pengawasan, pelayanan, dan pengamanan agar kapal yang datang maupun berangkat dari Pelabuhan Krueng Geukueh memperoleh kepastian pelayanan yang aman, tertib, dan efisien. Kami juga memberikan apresiasi kepada para eksportir Aceh yang terus membuka akses perdagangan internasional serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional melalui kegiatan ekspor yang berkelanjutan,” ujar Azwar.
Letak Pelabuhan Krueng Geukueh yang berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional memberikan nilai strategis bagi pengembangan sektor logistik dan perdagangan luar negeri. Kondisi tersebut menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang memungkinkan komoditas unggulan Aceh menjangkau pasar global secara lebih efisien.
Keberhasilan dua kegiatan ekspor internasional dalam waktu berdekatan menjadi gambaran semakin kuatnya peran Aceh dalam rantai perdagangan maritim dunia. Dengan dukungan infrastruktur pelabuhan yang terus berkembang, kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kualitas produk daerah, Pelabuhan Krueng Geukueh diharapkan terus menjadi gerbang utama ekspor Aceh yang mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan usaha, serta memperkuat kemandirian masyarakat melalui sektor kemaritiman.





