Duel Rapai Pase Gerakkan Ekonomi Warga, Disporaparekraf: Budaya Bisa Jadi Pengungkit Pariwisata

ACEH UTARA – Ribuan warga yang memadati arena Duel Akbar 50 Rapai Pase di Gampong Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Sabtu malam, 25 Juli 2026, tidak hanya menjadi penonton pertunjukan budaya. Keramaian itu juga menggerakkan roda perekonomian warga sekitar.

Sejak sore hingga pertunjukan berakhir pada Minggu dini hari, 26 Juli 2026, masyarakat memanfaatkan tingginya jumlah pengunjung dengan membuka lapak makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan lainnya di sekitar lokasi acara.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Aceh Utara, Zulkifli, menilai Duel Akbar 50 Rapai Pase menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan mampu memberi dampak ekonomi sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.

“Kegiatan seperti ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang berjualan di sekitar arena,” kata Zulkifli kepada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut dia, kegiatan yang diinisiasi Tim Rumoh Rapai Pase itu menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena itu, ia berharap semakin banyak kegiatan serupa digelar di Aceh Utara.

Zulkifli juga mengapresiasi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mendukung program tersebut melalui Dana Indonesiana. Ia berharap kesempatan serupa kembali diberikan kepada komunitas budaya maupun perseorangan di Aceh Utara.

“Dengan demikian, upaya pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan promosi pariwisata serta membuka ruang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain berdampak secara ekonomi, kegiatan bertema “Gemuruh Warisan, Harmoni Peradaban” itu juga dinilai menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan pertunjukan yang mempertemukan kelompok Rapai Pase dari Blah Nou Krueng dan Blah Deh Krueng memberi kesempatan kepada generasi muda mengenal lebih dekat warisan budaya tersebut.

Menurut Jamaluddin, regenerasi menjadi faktor penting agar Rapai Pase tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Melalui pertunjukan berskala besar, generasi muda dapat mengenal para syekh, teknik permainan, bentuk instrumen, hingga tradisi yang menyertai Rapai Pase.

“Edukasi kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam pelestarian karena keberlangsungan Rapai Pase pada masa mendatang sangat bergantung pada proses regenerasi,” katanya.

Ia menegaskan istilah “duel” dalam pertunjukan itu bukan untuk mencari pemenang, melainkan menjadi ruang silaturahmi antarkelompok Rapai Pase sekaligus memperlihatkan keberagaman tradisi yang masih hidup di berbagai wilayah Aceh Utara.

Selain pertunjukan budaya, rangkaian kegiatan juga diisi dengan deklarasi Rumoh Rapai Pase, penyerahan santunan kepada anak yatim, pemberian penghargaan kepada para pelaku Rapai Pase, serta prosesi peusijuek sebelum tabuhan puluhan rapai menggema hingga dini hari. Kolaborasi antara pelaku budaya, masyarakat, pemerintah, akademisi, dan berbagai pihak pendukung itu diharapkan memperkuat pelestarian Rapai Pase sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik pariwisata budaya di Aceh Utara.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait