Mengenal Tradisi Menunggang Kuda Suku Alas di Aceh Tenggara

Penulis Yerli Kumala Sari Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala

Denting musik tradisional menggema di tengah ramainya pesta adat. Derap langkah kuda berhias kain warna-warni perlahan memasuki perkampungan, membawa pengantin atau anak yang akan dikhitan diiringi senyum masyarakat dan keluarga besar. Pemandangan budaya yang kini mulai langka di banyak daerah itu ternyata masih hidup dan bertahan kuat di Tanoh Alas, Aceh Tenggara.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan pesta bergaya kekinian, masyarakat Suku Alas tetap mempertahankan tradisi menunggang kuda dalam prosesi pernikahan dan khitanan. Tradisi turun-temurun ini bukan hanya sekadar hiburan adat, melainkan simbol kehormatan, kebanggaan keluarga, serta identitas budaya masyarakat Aceh Tenggara yang masih dijaga hingga sekarang.

Tradisi unik tersebut masih sering ditemukan di wilayah Kutacane dan sejumlah desa pedalaman Aceh Tenggara. Dalam prosesi adat, pengantin maupun anak yang akan menjalani khitanan diarak menggunakan kuda hias lengkap dengan ornamen khas budaya Alas yang memancarkan nuansa megah dan penuh wibawa.

Bagi masyarakat Alas, kuda bukan sekadar alat transportasi atau pelengkap pesta. Menunggang kuda dalam prosesi adat dipercaya melambangkan keberanian, kehormatan, dan perjalanan menuju fase kehidupan yang baru.

“Kalau tidak ada kuda dalam pesta adat, rasanya seperti ada yang kurang. Ini warisan nenek moyang yang harus tetap dijaga,” ujar salah seorang tokoh adat di Kutacane.

Prosesi arak-arakan biasanya berlangsung meriah dengan iringan musik tradisional, tarian adat, serta antusias masyarakat yang memadati jalan kampung untuk menyaksikan jalannya tradisi tersebut. Kehadiran kuda hias yang gagah sering menjadi pusat perhatian dan daya tarik tersendiri dalam setiap pesta adat masyarakat Alas.

Menariknya, di saat banyak tradisi mulai tergeser oleh perkembangan zaman, masyarakat Alas justru tetap mempertahankan budaya ini sebagai bentuk kecintaan terhadap adat dan jati diri daerah. Bahkan beberapa keluarga rela mempersiapkan kuda terbaik jauh hari sebelum pesta berlangsung demi menjaga kesempurnaan prosesi adat.

Tidak hanya memiliki nilai budaya, tradisi ini juga menyimpan filosofi mendalam. Anak yang dikhitan dan menaiki kuda dianggap sedang memasuki tahap kedewasaan dan kesiapan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Sementara dalam pernikahan, pengantin yang diarak menunggang kuda dimaknai sebagai simbol kesiapan membangun rumah tangga dengan kehormatan dan keberanian.

Budayawan lokal menyebut tradisi tersebut sebagai salah satu kekayaan budaya Aceh Tenggara yang sangat unik dan berbeda dari daerah lain di Aceh. Sayangnya, tradisi menunggang kuda khas masyarakat Alas masih jarang mendapat sorotan luas di tingkat nasional, padahal memiliki daya tarik budaya dan wisata yang luar biasa.

Di balik megahnya arak-arakan kuda dan kemeriahan pesta adat, tersimpan pesan penting tentang bagaimana masyarakat Tanoh Alas menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Sebab bagi masyarakat Alas, adat bukan sekadar tradisi, melainkan harga diri, identitas, dan kebanggaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi ini pun menjadi bukti bahwa di Aceh Tenggara, budaya lama belum benar-benar hilang. Ia masih hidup, berlari bersama derap langkah kuda di tengah perkampungan Tanoh Alas.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait