Pantauan di Gampong Pantee Gajah, Kecamatan Peusangan, Minggu (13/9/2026), sejumlah petani terlihat membersihkan sisa lumpur sekaligus menanam benih jagung di lahan yang sebelumnya digunakan untuk persawahan.
Ketua Kelompok Tani Meuseuraya, Usman Ali (48), mengatakan sawah miliknya seluas satu hektare tertutup lumpur hingga sekitar 30 sentimeter setelah dilanda banjir akhir tahun lalu. Kondisi tersebut membuat permukaan tanah mengeras dan saluran irigasi ikut tertutup.
Menurut Usman, kondisi lahan belum memungkinkan untuk kembali ditanami padi karena tanaman padi membutuhkan pengelolaan air yang baik, sementara saluran irigasi dan kondisi tanah belum normal.
“Kalau tanam padi butuh air banyak dan lumpur harus bersih. Ini tidak mungkin. Kalau jagung lebih tahan, tidak butuh air tergenang. Daripada kosong, lebih baik tanam jagung untuk bertahan hidup,” kata Usman.
Ia menyebutkan, menanam jagung juga dinilai lebih ringan dari sisi biaya. Untuk satu hektare, petani membutuhkan modal sekitar Rp4 juta, sedangkan biaya menanam padi dapat mencapai Rp7 juta.
Selain modal yang lebih rendah, jagung memiliki masa panen sekitar 90 hari. Karena itu, komoditas tersebut dipilih sebagai solusi sementara sembari menunggu kondisi lahan dan saluran irigasi kembali normal.
“Lahan yang tertutup lumpur tidak efektif untuk padi karena pH tanah rusak. Jagung menjadi solusi agar petani tidak rugi total dan tetap ada penghasilan sambil menunggu normalisasi,” ujarnya.
Petani berharap kondisi lahan persawahan segera dipulihkan melalui pembersihan endapan lumpur dan normalisasi saluran irigasi. Dengan demikian, mereka dapat kembali menanam padi seperti sebelum banjir. (aws)





