Oleh. Kamaruddin Hasan
Dunia hari ini tidak hanya terluka oleh perang, konflik dan krisis kemanusiaan, tetapi juga oleh cara berkomunikasi tentang realiats tersebut. Luka global tidak semata-mata disebabkan oleh senjata, melainkan oleh narasi, framing dan algoritma digital yang bekerja tanpa empati dan sering kali tanpa etika. Dalam lanskap komunikasi saat ini, perang tidak selalu dimulai di medan tempur, tetapi di ruang komunikasi digital, ketika algoritma lebih berkuasa daripada nilai kemanusiaan.
Algoritma media baru, media sosial dirancang untuk satu tujuan utama yaitu menjaga atensi. Persoalannya, emosi yang paling efektif menarik perhatian bukanlah empati atau refleksi, melainkan amarah, ketakutan dan kebencian. Sehingga, ruang publik global berubah menjadi arena resonansi emosi negatif. Konten yang provokatif lebih cepat viral daripada pesan damai. Narasi hitam-putih lebih laku dibanding analisis yang berimbang. Dalam situasi dan kondisi ini, komunikasi damai kalah bukan karena lemah secara moral, tetapi karena tidak selaras dengan logika algoritmik.
Manuel Castells menyebut dunia sebagai network society, di mana kekuasaan bekerja melalui kontrol atas arus komunikasi. Siapa yang menguasai jaringan dan narasi, dialah yang membentuk emosi publik. Kekuasaan itu tidak hanya berada di tangan negara atau media besar, tetapi juga pada sistem algoritmik global yang tidak memiliki tanggung jawab etis terhadap dampak sosial yang ditimbulkannya.
Sedangkan Marshall McLuhan melihat komunikasi bukan sekadar soal isi pesan, melainkan tentang bagaimana medium itu sendiri membentuk cara manusia berpikir, merasa dan bertindak. Gagasannya yang paling terkenal, the medium is the message, menegaskan bahwa teknologi komunikasi secara langsung membentuk struktur kesadaran manusia dan tatanan sosial, jauh melampaui niat baik atau buruk dari pesan yang disampaikan.
Dalam perspektif komunikasi damai, pandangan McLuhan yang radikal; perdamaian atau kekerasan tidak hanya ditentukan oleh apa yang di katakan, tetapi oleh media apa yang di gunakan untuk mengatakannya. Perdamaian gagal bukan karena pesan damai kurang, tetapi karena medium yang di pakai tidak dirancang untuk damai. Dalam global village, konflik menyebar lebih cepat daripada empati. Algoritma menjadi pesan baru dunia digital.
Tentu, kondisi dan situasi ini menggerus fondasi dialog, Jürgen Habermas membayangkan ruang publik sebagai arena diskursus rasional yang memungkinkan konsensus etis. Namun realitas digital justru memperlihatkan sebaliknya. Monolog yang saling meniadakan, menggantikan dialog yang saling memahami. Media baru, media sosial memberi ilusi partisipasi, tetapi sering kali tanpa etika diskursus. Artinya yang viral bukan argumen terbaik, melainkan yang menguras emosi publik paling keras.
Stephen W. Littlejohn mengingatkan bahwa konflik pada dasarnya sebagai konflik makna. Ketika makna tidak dinegosiasikan melalui komunikasi yang setara, konflik membeku menjadi prasangka. Algoritma memperparah kondisi ini dengan menciptakan echo chamber, ruang gema yang hanya menguatkan keyakinan sendiri dan menutup kemungkinan mendengar pihak lain. Dunia gagal berkomunikasi secara damai bukan karena perbedaan terlalu besar, tetapi karena saluran komunikasi tidak lagi dirancang untuk mengelola perbedaan.
Dalam hal ini, media menjadi sangat menentukan. Noam Chomsky sejak lama memperingatkan bahwa media dapat berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan. Hari ini, fungsi itu diperluas oleh teknologi. Kekerasan dinormalisasi melalui bahasa yang halus dan visual yang terkurasi. Istilah seperti collateral damage atau operasi keamanan menutupi penderitaan nyata manusia.
Johan Galtung menyebutnya sebagai kekerasan kultural. Ketika simbol dan bahasa membuat kekerasan tampak wajar dan dapat diterima.
Ketika algoritma memperkuat narasi semacam ini, publik global tidak hanya disesatkan, tetapi juga dijauhkan dari empati. Konflik menjadi tontonan, bukan tragedi kemanusiaan. Jake Lynch, melalui konsep peace journalism, mengingatkan bahwa media seharusnya memberi ruang pada suara korban, konteks struktural dan alternatif solusi. Namun logika viral sering kali mendorong media ke arah sebaliknya. Dramatisasi, simplifikasi dan polarisasi.
Tantangan komunikasi damai semakin kompleks ketika kecerdasan buatan (AI) ikut membentuk narasi konflik. AI mampu memproduksi teks, gambar dan video dalam skala masif, termasuk propaganda dan disinformasi. Masalah utamanya bukan sekadar akurasi, tetapi hilangnya dimensi kemanusiaan. AI tidak memiliki empati; AI hanya membaca pola, bukan penderitaan. Ketika mesin ikut berbicara tentang perang dan konflik, komunikasi berisiko kehilangan nurani.
Di sinilah komunikasi damai menghadapi ujian terberatnya. Perdamaian tidak mungkin lahir dari komunikasi tanpa etika. Perspektif Islam memberi pengingat kuat tentang hal ini. Pentingnya etika berbahasa, berkata benar, tidak menyakiti dengan kata dan menyampaikan pesan dengan hikmah. Dalam dunia yang komunikasinya semakin kasar, prinsip ini terasa semakin relevan.
Perdamaian sebagai sikap komunikatif yang menghormati martabat manusia dan membuka ruang dialog. Bahwa komunikasi damai bukan sikap pasif, melainkan keberanian moral untuk merangkul perbedaan tanpa kebencian.
Bagi Paulo Freire, bahwa diam di hadapan ketidakadilan sebagai bentuk komunikasi yang paling berbahaya. Dalam dunia yang terluka ini, setiap kata, unggahan dan framing menjadi pilihan moral. Pilihan bisa menjadi bagian dari rantai kemarahan, atau memilih menjadi simpul kecil yang merawat empati dan damai.
Krisis komunikasi damai Dunia yang terluka hari ini pada dasarnya adalah krisis etika. Algoritma memang kuat, tetapi diciptakan dan dioperasikan oleh manusia. Pertanyaannya bukan apakah teknologi akan terus berkembang, melainkan apakah etika akan ikut berkembang bersamanya. Jika algoritma terus dibiarkan mengatur emosi publik tanpa kendali nilai, dunia akan semakin terbiasa dengan kebencian. Namun jika komunikasi damai diperjuangkan sebagai etos global, melalui literasi media, jurnalisme damai, etika AI dan dialog lintas perbedaan. Luka dunia masih mungkin disembuhkan. Tentu, perdamaian di Dunia yang terluka hari ini tidak hanya dipertaruhkan di meja diplomasi, tetapi di meja dan ruang komunikasi digital yang terisi setiap saat juga paling menentukan.
Dosen Prodi llmu Komunikasi Fisip Unimal





