Penulis Foto: dok pribadi
Oleh: Putri Nabila
KESULTANAN Samudra Pasai dikenal sebagai kerajaan Islam pertama yang berkembang di Nusantara pada abad ke-13. Kemunculannya menandai babak baru dalam sejarah kawasan ini, ketika Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi dasar pembentukan sistem pemerintahan, perdagangan, dan kehidupan sosial masyarakat. Di balik lahirnya kesultanan tersebut, berdiri sosok Sultan Malik al-Saleh yang dikenang sebagai pendiri sekaligus penguasa pertama Samudra Pasai.
Sebelum memeluk Islam, Sultan Malik al-Saleh dikenal dengan nama Meurah Silu. Menurut sejumlah sumber sejarah, ia memeluk Islam setelah memperoleh bimbingan para ulama, di antaranya Fakir Muhammad dan Syekh Ismail. Sejak saat itu, ia menggunakan gelar Sultan Malik al-Saleh dan membangun pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Peristiwa tersebut menjadi titik awal berdirinya Kesultanan Samudra Pasai, yang kemudian berkembang sebagai pusat perdagangan, penyebaran agama Islam, dan kebudayaan Islam di kawasan Nusantara.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah Samudra dan Pasai berhasil dipersatukan dalam satu pemerintahan yang lebih terorganisasi. Sistem pemerintahan disusun berdasarkan prinsip-prinsip Islam, sehingga pelaksanaan hukum, administrasi negara, dan kehidupan sosial masyarakat berjalan seiring dengan nilai-nilai keislaman.
Kebijakan itu menciptakan stabilitas politik yang menjadi modal penting bagi perkembangan kerajaan. Situasi yang aman dan kondusif mendorong aktivitas perdagangan berkembang pesat. Letak Samudra Pasai yang strategis di jalur pelayaran internasional menjadikannya salah satu pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Para pedagang dari berbagai wilayah datang membawa komoditas sekaligus membangun hubungan ekonomi dengan masyarakat setempat.
Selain memperkuat pemerintahan, Sultan Malik al-Saleh juga memberi perhatian besar terhadap perkembangan Islam. Pada masanya, Samudra Pasai tumbuh sebagai pusat penyebaran agama yang didatangi ulama, mubalig, dan saudagar Muslim dari Arab, Persia, Gujarat, serta India.
Para ulama menyebarkan ajaran Islam melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan keagamaan di masjid maupun lembaga pendidikan. Sementara itu, para pedagang Muslim memperkenalkan nilai-nilai Islam melalui aktivitas perdagangan dan interaksi sosial sehari-hari. Proses penyebaran agama berlangsung secara damai sehingga Islam diterima secara bertahap oleh masyarakat setempat.
Keberhasilan membangun Samudra Pasai tidak terlepas dari karakter kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, rendah hati, serta menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam menjalankan pemerintahan. Kebijakan-kebijakan yang diambil diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga keadilan.
Sejumlah catatan sejarah juga menyebutkan bahwa Sultan Malik al-Saleh memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik. Kemampuan tersebut mencerminkan kedalaman pemahamannya terhadap ajaran Islam dan memperkuat wibawanya sebagai seorang pemimpin. Tidak mengherankan jika ia memperoleh penghormatan dari rakyat maupun para ulama, sekaligus mengukuhkan posisi Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam yang disegani.
Jejak kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh masih dapat disaksikan hingga kini melalui kompleks makamnya di Desa Beuringen, Geudong, Kabupaten Aceh Utara. Kompleks makam tersebut menjadi salah satu bukti penting perkembangan awal Islam di Nusantara. Batu nisannya yang dihiasi kaligrafi Arab menunjukkan kuatnya pengaruh seni dan budaya Islam pada masa itu.
Selain memiliki nilai sejarah dan arkeologi, situs tersebut kini menjadi tujuan wisata religi, objek penelitian, sekaligus sumber pembelajaran mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Masa pemerintahan Sultan Malik al-Saleh menjadi fondasi bagi kemajuan Kesultanan Samudra Pasai pada periode-periode berikutnya. Berbagai kebijakan yang diterapkannya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan pemerintahan, perdagangan, perekonomian, pendidikan, dan penyebaran agama Islam. Fondasi itulah yang kemudian diteruskan para penerusnya hingga Samudra Pasai mencapai puncak kejayaan sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.
Karena itu, Sultan Malik al-Saleh dikenang bukan hanya sebagai pendiri Kesultanan Samudra Pasai, melainkan juga sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Nusantara yang meletakkan dasar perkembangan Islam dan membentuk awal peradaban Islam di Indonesia.
Penulis adalah mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe.




