Uteunkot bukan sekadar kawasan yang ramai. Di balik aktivitas perdagangan, rumah makan, jasa, UMKM, pemuda, serta kehidupan masyarakatnya, tersimpan potensi besar yang belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan ekonomi gampong.
Dari situlah gagasan “Uteunkot Produktif” lahir. Gagasan yang ditawarkan H. Bustami, S.T., Calon Keuchik Gampong Uteunkot, bukan sekadar janji pembangunan fisik. Ia menawarkan cara pandang baru: membangun gampong dengan terlebih dahulu memahami potensi, persoalan dan kebutuhan masyarakat melalui data, perencanaan dan target yang jelas.
“Jangan memulai dari proyek. Mulailah dari data dan masalah masyarakat.”
Berbekal pengalaman di bidang teknik dan konstruksi, Bustami memandang pembangunan seperti membangun sebuah konstruksi: harus dimulai dari kondisi lapangan, data, perencanaan, anggaran, waktu pelaksanaan hingga ukuran keberhasilan.
Karena itu, Uteunkot tidak harus dipaksakan menjadi gampong pertanian. Kekuatan Uteunkot justru berada pada manusia, perdagangan, jasa, UMKM, keterampilan masyarakat dan posisinya sebagai bagian dari kawasan perkotaan Lhokseumawe. Data yang tersedia mencatat sekitar 5.900 penduduk dengan lebih dari 1.600 keluarga. Hampir seribu warga menggantungkan penghasilan pada perdagangan besar/eceran dan rumah makan. Di sisi lain, terdapat lebih dari dua ribu lulusan SLTA serta ratusan warga berpendidikan S1 ke atas.
Bagi Bustami, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Itulah modal pembangunan Uteunkot.
100 HARI PERTAMA: MENDENGARKAN DAN MEMETAKAN UTEUNKOT
Hari 1-30 : Mendata Potensi.
Jika mendapat amanah masyarakat, Bustami tidak ingin pemerintahan gampong langsung sibuk menentukan proyek apa yang akan dibangun. Sebaliknya, 100 hari pertama akan diarahkan untuk mengenali Uteunkot secara lebih utuh.
Melalui gagasan Satu Data Uteunkot, masyarakat akan dipetakan secara lebih menyeluruh: siapa yang bekerja, siapa yang belum bekerja, siapa yang memiliki usaha, keterampilan, kebutuhan modal, kebutuhan pasar, hingga masyarakat yang membutuhkan perlindungan sosial.
Dengan data yang baik, pemerintahan tidak lagi bekerja berdasarkan “katanya masyarakat membutuhkan”, tetapi berdasarkan “data menunjukkan masyarakat membutuhkan.”
Hari 31–60: Membuat Peta Ekonomi Uteunkot.
Warung, rumah makan, pedagang, bengkel, tukang, penjahit, usaha rumahan, pekerja profesional, UMKM hingga pemuda dengan keterampilan tertentu akan menjadi bagian dari Peta Potensi Ekonomi Uteunkot.
Pertanyaan sederhananya: berapa besar uang yang berputar setiap hari di Uteunkot dan berapa banyak yang dinikmati masyarakat Uteunkot sendiri? Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi dasar untuk memperkuat ekonomi lokal.
Hari 61–100: Musyawarah Besar “Uteunkot Produktif”.
Data tidak berhenti di kantor keuchik. Data akan dibawa ke ruang musyawarah bersama perangkat gampong, tuha peut, tokoh agama, tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, pedagang, pengusaha, profesional dan masyarakat dari seluruh dusun. Dari sanalah prioritas pembangunan disusun. APBG harus dimulai dari data, masalah dan prioritas masyarakat.
MENGGERAKKAN EKONOMI DARI DALAM GAMPONG
Tahun pertama diarahkan untuk membangun mesin ekonomi Uteunkot. Salah satunya melalui pembentukan Forum Pelaku Usaha Uteunkot. Para pelaku usaha tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi dipertemukan untuk melihat kebutuhan dan peluang ekonomi yang bisa dikerjakan bersama.
Apa saja kebutuhan yang selama ini didatangkan dari luar Uteunkot? Ayam, telur, sayuran, cabai, beras, es, kemasan, air minum hingga jasa pengiriman semuanya dapat dipetakan sebagai peluang.
Prinsipnya sederhana: Jika kebutuhan dapat diproduksi atau disediakan oleh masyarakat Uteunkot, maka masyarakat Uteunkot harus mendapatkan kesempatan pertama. Dengan demikian, uang yang masuk ke Uteunkot dapat berputar lebih lama di Uteunkot.
BUMG BUKAN PESAING, TETAPI PENGUAT EKONOMI MASYARAKAT
Bustami juga membawa pandangan berbeda tentang BUMG. Jika masyarakat sudah banyak membuka warung, BUMG tidak perlu menjadi pesaing. Jika masyarakat telah berjualan makanan, pemerintah gampong tidak perlu ikut mengambil pasar mereka.
BUMG harus mengisi ruang yang belum mampu dikerjakan masyarakat secara sendiri-sendiri.
Mulai dari distribusi kebutuhan UMKM, pengelolaan aset gampong, pemasaran produk masyarakat, fasilitas usaha bersama, pengelolaan sampah produktif hingga usaha lain yang memiliki studi kelayakan. “BUMG bukan mengambil rezeki masyarakat. BUMG harus membantu memperbesar rezeki masyarakat.” Setiap modal BUMG harus memiliki target, omzet, biaya, keuntungan dan laporan yang dapat diketahui masyarakat.
GOR BUKAN HANYA TEMPAT KERAMAIAN
Aktivitas olahraga dan kegiatan masyarakat di kawasan Uteunkot juga dipandang sebagai peluang ekonomi. Ketika ratusan bahkan ribuan orang datang menghadiri sebuah kegiatan, mereka membutuhkan makanan, minuman, parkir dan berbagai kebutuhan lainnya. Itu adalah pasar.
Karena itu, kegiatan besar harus dipersiapkan agar UMKM masyarakat Uteunkot memperoleh kesempatan untuk mengambil manfaat ekonomi. Konsepnya sederhana:
Ada kegiatan → ada pengunjung → ada transaksi → ada pendapatan masyarakat.
PEMUDA: DARI KEGIATAN MENUJU PENGHASILAN
Bagi Bustami, keberhasilan pemberdayaan pemuda tidak cukup diukur dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Ukuran yang lebih penting adalah: Berapa pemuda yang setelah mengikuti program akhirnya memperoleh penghasilan?
Karena itu, ia menawarkan konsep Uteunkot Skill & Job Center.
Tidak harus membangun gedung baru. Fasilitas yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan untuk memetakan kebutuhan pasar dan melatih keterampilan yang benar-benar dibutuhkan, seperti teknisi AC, listrik, las, konstruksi, servis, desain grafis, pemasaran digital, videografi, kuliner dan administrasi komputer. Pemuda akan diarahkan untuk terhubung dengan pengusaha, proyek, dunia kerja dan pasar.
“Pelatihan tanpa pekerjaan hanya menghasilkan sertifikat. Pelatihan yang bertemu pasar menghasilkan pendapatan.”
MENGAJAK PARA SARJANA PULANG MEMBANGUN GAMPONG
Uteunkot memiliki ratusan warga berpendidikan S1 ke atas. Bagi Bustami, mereka adalah kekayaan intelektual yang harus dilibatkan. Melalui Forum Profesional Uteunkot, para dokter, guru, insinyur, akademisi, pengusaha, ahli hukum, ahli komputer, ekonom dan profesional lainnya dapat menjadi bagian dari pemikiran pembangunan gampong. Tidak harus dengan jabatan. Cukup dengan gagasan, keahlian dan kepedulian. Sebab membangun gampong tidak selalu membutuhkan uang.
“Terkadang yang dibutuhkan adalah pikiran terbaik dari orang-orang terbaik yang dimiliki Uteunkot”.
DARI BANTUAN MENUJU KEMANDIRIAN
Program pengentasan kemiskinan juga diarahkan agar tidak berhenti pada pemberian bantuan. Untuk keluarga usia produktif, pemerintah gampong perlu mencari akar persoalannya: apakah tidak memiliki pekerjaan, keterampilan, alat produksi atau pasar? Setiap masalah membutuhkan solusi berbeda.
Karena itu, pendekatan yang ditawarkan adalah:
Bantuan → Pemberdayaan → Pekerjaan/Usaha → Pendapatan → Mandiri.
Sementara lansia terlantar dan masyarakat yang memang tidak mampu bekerja tetap mendapatkan perlindungan sosial.
MASYARAKAT HARUS BISA MENILAI HASILNYA
Memasuki tahun kedua dan ketiga, keberhasilan pemerintahan harus semakin mudah diukur. Bustami menawarkan Laporan Kinerja Uteunkot, bukan hanya laporan anggaran. Masyarakat dapat melihat berapa angka kemiskinan, pengangguran, pemuda yang memperoleh pekerjaan, jumlah UMKM baru dan UMKM yang naik kelas, kinerja BUMG, Pendapatan Asli Gampong, manfaat program ekonomi, penyelesaian infrastruktur hingga kecepatan pelayanan administrasi.
Dengan demikian, masyarakat sendiri yang dapat menilai: Apakah pemerintahan bekerja dan membawa perubahan?
EMPAT TARGET BESAR GAMPONG UTEUNKOT
Gagasan Uteunkot Produktif bermuara pada empat target besar yang menjadi arah pembangunan dan pelayanan masyarakat:
- Uteunkot Produktif (Ekonomi Bergerak, Masyarakat Berdaya)
Mendorong pertumbuhan UMKM, membuka peluang kerja bagi pemuda, mengembangkan potensi ekonomi lokal, mengoptimalkan aset gampong serta memastikan BUMG mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
- Uteunkot Melayani (Cepat, Mudah, Terbuka)
Membangun pemerintahan gampong yang responsif dan dekat dengan masyarakat. Pelayanan administrasi harus mudah, cepat, transparan dan tidak mempersulit, dengan setiap program dan penggunaan anggaran dapat diketahui serta dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
- Uteunkot Tertib Dan Terencana (Data Akurat, Kebijakan Tepat)
Setiap kebijakan pembangunan dimulai dari data yang benar dan terus diperbarui. Data menjadi dasar dalam menentukan persoalan, menyusun prioritas, mengalokasikan anggaran dan mengukur keberhasilan pembangunan.
- Uteunkot Agamis, Bersih & Bersatu (Ekonomi Maju, Nilai Tetap Terjaga)
Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan nilai agama, adat, gotong royong, kebersihan lingkungan dan persatuan masyarakat. Uteunkot tidak hanya ingin menjadi gampong yang produktif secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial, budaya dan keagamaan.
BUKAN SEKADAR MEMBANGUN BANGUNAN, TETAPI MEMBANGUN SISTEM
Bustami memahami bahwa jalan rusak harus diperbaiki, drainase bermasalah harus diselesaikan dan fasilitas yang benar-benar dibutuhkan masyarakat harus dibangun. Namun, pembangunan tidak boleh berhenti pada berapa meter jalan atau drainase yang berhasil dikerjakan.
Ia ingin meninggalkan sesuatu yang lebih panjang manfaatnya: sebuah sistem pemerintahan gampong yang produktif, terbuka, terukur dan melibatkan masyarakat. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya bangunan yang berdiri.
Tetapi ketika masyarakat dapat merasakan:
pendapatan meningkat, anak-anak muda mulai bekerja, usaha kecil berkembang, pelayanan semakin mudah, BUMG menghasilkan, lingkungan semakin baik dan pemerintah semakin terbuka.
Dan yang paling penting, masyarakat kembali merasa bahwa pemerintahan gampong adalah milik mereka. Itulah makna ”UTEUNKOT PRODUKTIF”.
Bukan membangun Uteunkot seorang diri. Tetapi mengorganisir seluruh kekuatan Uteunkot untuk membangun bersama. Karena Uteunkot tidak kekurangan potensi. Namun yang dibutuhkan adalah data yang benar, perencanaan yang tepat, pemerintahan yang terbuka dan keberanian mengubah potensi menjadi kesejahteraan.
UTEUNKOT AGAMIS, BERSIH & BERSATU
(Ekonomi Maju, Nilai Tetap Terjaga)
Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan nilai agama, adat, gotong royong, kebersihan lingkungan dan persatuan masyarakat. Uteunkot tidak hanya ingin menjadi gampong yang produktif secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial, budaya dan keagamaan.
Nilai-nilai religius menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Uteunkot. Karena itu, pembangunan gampong juga diarahkan untuk memperkuat kehidupan keagamaan melalui dukungan terhadap kegiatan-kegiatan Islam dan pembinaan generasi muda.
Peringatan dan pelaksanaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, Tahun Baru Islam, Nuzulul Quran, serta kegiatan keagamaan lainnya akan didukung sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Selain itu, majelis taklim, balai pengajian, tempat belajar Al-Qur’an dan sarana pendidikan agama perlu terus dimakmurkan dan diberdayakan. Pemerintahan gampong diharapkan dapat hadir memberikan dukungan agar kegiatan pengajian, pendidikan Al-Qur’an dan pembinaan keagamaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Bagi Bustami, membangun gampong bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga tentang menjaga nilai, akhlak dan masa depan generasi muda. Anak-anak dan pemuda Uteunkot harus memiliki ruang yang sehat untuk belajar agama, berinteraksi secara positif dan tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak serta memiliki kepedulian terhadap gampong.
“Kita ingin ekonomi masyarakat tumbuh, tetapi nilai agama tidak boleh tertinggal. Masjid, majelis taklim, balai pengajian dan kegiatan keagamaan harus hidup. Dari sanalah kita menjaga generasi muda agar tetap memiliki pegangan agama dan akhlak.”
Dengan demikian, Uteunkot Agamis bukan hanya sebuah slogan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat: agama terjaga, kegiatan keislaman hidup, generasi muda terbina, hubungan sosial semakin kuat dan nilai-nilai kebersamaan tetap tumbuh di tengah kemajuan gampong
BUSTAMI, S.T.
{Calon Keuchik Gampong Uteunkot}
“Membangun Bersama, Melayani Sepenuh Hati.”





