Bustami  dan Gagasan Membangun Uteunkot dari Dekat dengan Warga

LHOKSEUMAWE — Menjadi keuchik bukan semata soal memimpin pemerintahan gampong. Bagi Bustami Nurdin, S.T., posisi tersebut juga berarti berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan masyarakat, mendengar persoalan warga, sekaligus mencari jalan keluar yang bisa dikerjakan bersama.

Pandangan itu menjadi bagian dari alasan Pria kelahiran Aceh Utara, 2 Januari 1969 maju sebagai calon Keuchik Gampong Uteunkot, yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang konstruksi. Dunia kerja yang selama ini digelutinya membuat ia akrab dengan pekerjaan yang membutuhkan perencanaan, pengelolaan dan tanggung jawab terhadap hasil.

Namun, ketika berbicara tentang pembangunan gampong, Bustami mengatakan persoalannya tidak sesederhana membangun infrastruktur namun ada kemampuan khusus yang membutuhkan ketrampilan dan juga pengalaman dalam memimpin masyarakat.

“Pembangunan itu bukan hanya soal jalan atau bangunan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat merasakan manfaat dari pembangunan tersebut. Karena itu, kebutuhan masyarakat harus menjadi dasar dalam menentukan apa yang perlu dibangun,” kata Bustami.

Pandangan tersebut kemudian ia tuangkan dalam visi pencalonannya, yakni mewujudkan Gampong Uteunkot yang agamis, maju, mandiri, sejahtera dan berdaya saing melalui tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif.

Pengalaman di bidang konstruksi membuat persoalan infrastruktur menjadi salah satu perhatian Bustami. Ia melihat pembangunan fisik tetap diperlukan untuk menunjang aktivitas masyarakat. Akan tetapi menurutnya, pembangunan tidak akan banyak berarti jika tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan dan kesejahteraan warga.

“Infrastruktur memang penting. Tetapi setelah infrastruktur ada, kita juga harus berpikir bagaimana ekonomi masyarakat bergerak, bagaimana anak-anak muda mendapatkan ruang, dan bagaimana masyarakat bisa meningkatkan kemampuannya,” ujarnya.

Karena itu, dalam gagasan yang ditawarkannya, pemberdayaan ekonomi masyarakat mendapat perhatian melalui pengembangan potensi lokal, penguatan BUMG serta dukungan terhadap UMKM dan usaha produktif.

Pendidikan, pelatihan keterampilan dan pembinaan generasi muda juga ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Karena baginya, potensi sebuah gampong tidak hanya terletak pada sumber daya yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengelolanya.

“Kita harus melihat apa yang sebenarnya dimiliki Uteunkot. Potensi masyarakat, anak muda, usaha kecil, maupun sumber daya lainnya. Dari situ baru kita pikirkan bagaimana mengembangkannya,” katanya.

Keterlibatan warga merupakan bentuk partisipasi masyara, kat dalam pembangunan gampong, sebutnya pemerintahan gampong tidak seharusnya berjalan sendiri. Warga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat, terutama ketika kebijakan yang dibuat berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

“Saya tidak ingin masyarakat hanya mengetahui program setelah semuanya diputuskan. Kalau ada persoalan di gampong, sebaiknya dibicarakan bersama. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, itu yang kita prioritaskan,” ujar Bustami.

Menurut mantan kepala dusun B Gampong Uteunkot tersebut, keterlibatan warga juga penting dalam mengawasi jalannya pembangunan. Dengan komunikasi yang terbuka, pemerintah gampong dan masyarakat dapat saling mengetahui apa yang sudah dikerjakan dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Konsep tersebut juga membuka ruang bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk pemuda, perempuan, tokoh agama dan tokoh adat terhadap partisipasi pembangunan.

Menjaga Gotong Royong

Di tengah berbagai gagasan pembangunan, Bustami juga tidak ingin nilai-nilai sosial yang sudah tumbuh di masyarakat ditinggalkan. Kehidupan keagamaan, adat, persatuan dan gotong royong menjadi bagian dari perhatian yang ia tawarkan.

Menurutnya, kemajuan sebuah gampong tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik atau meningkatnya aktivitas ekonomi. Hubungan antarwarga juga menjadi modal penting.

“Kita jangan sampai mengejar pembangunan tetapi kehilangan kebersamaan. Gotong royong dan kepedulian antarwarga harus tetap dijaga, karena itu juga kekuatan sebuah gampong,  namun berbagai kegiatan keagamaan dan kehidupan sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan karakter masyarakat,” katanya.

Keuchik dan Tantangan Pelayanan

Pelayanan publik sebagai salah satu bagian penting dalam gagasannya. Ia ingin pelayanan pemerintahan gampong berlangsung lebih cepat, ramah, tepat dan transparan.  Namun, Bustami  menyadari bahwa pelayanan yang baik tidak hanya bergantung pada keuchik.

“Keuchik tidak bisa bekerja sendiri. Ada perangkat gampong dan tentu ada masyarakat. Kalau semua bisa bekerja sesuai peran masing-masing, pelayanan akan lebih baik,” ujarnya.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepemimpinan yang ia tawarkan tidak hanya bertumpu pada figur keuchik, tetapi juga pada kerja bersama antara pemerintahan dan masyarakat.

Pada akhirnya, Bustami membawa sejumlah gagasan untuk Uteunkot, mulai dari pembangunan infrastruktur, ekonomi masyarakat, pendidikan, pemuda, pelayanan publik hingga kehidupan sosial dan keagamaan.  Apakah seluruh gagasan itu dapat diwujudkan tentu bergantung pada proses dan dukungan masyarakat jika ia nantinya dipercaya memimpin gampong.

 “Bagi saya, membangun gampong itu bukan pekerjaan keuchik saja. Kalau ingin hasilnya baik, masyarakat harus ikut terlibat. Kita bekerja bersama, kita awasi bersama, dan hasilnya juga dirasakan bersama,” ucap Bustami. (advertorial)

 

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait