(PUISI) Kepada Tubuh Yang Tak Lagi Bisa Menjawab

Ilustrasi

Karya: Siti Nurrahma Nasution 

Hukum seharusnya menjadi lambang keadilan,

bukan sekadar tajam kepada mereka yang lemah,

lalu tumpul di hadapan mereka yang kuat.

 

Ayam mungkin masih bisa dicari kembali.

Harta mungkin masih bisa diganti.

Namun seorang bapak…

tak akan pernah bisa diganti,

dan tak ada pasar yang menjual sosoknya kembali.

 

Kini terdengar suara tangisan,

di antara riuh yang tak sempat bertanya,

sementara langit seolah ikut kehilangan warnanya.

 

Seorang anak berdiri dengan sisa tenaganya di tengah kerumunan warga yang menggenggam tangannya.

Ia memandang satu wajah yang selama ini selalu ia panggil rumah,

kini telah terbaring tanpa daya.

 

Tak ada yang mampu menggantikan hangatnya sepasang tangan seorang ayah.

 

“Bapak… Bapak…”

 

Suara itu bukan sekadar panggilan.

Ia adalah harapan yang memohon agar waktu berbalik arah.

Namun tubuh itu tetap diam.

Tak lagi menjawab.

Tak lagi mampu mengusap air mata si kecil.

 

Semoga tak ada lagi anak yang belajar tentang kehilangan

di usia yang seharusnya masih belajar tertawa.

 

Dan semoga setiap tetes air mata yang jatuh,

setiap lirih yang memanggil,

 

“Bapak… Bapak…”

 

menjadi pengingat bagi kita semua,

bahwa keadilan bukan hanya tentang menghukum setelah segalanya terjadi,

melainkan juga tentang menjaga agar tak ada lagi anak yang harus kehilangan ayahnya terlalu dini.

 

Sebab kepada tubuh yang tak lagi mampu menjawab,

tak ada lagi kata yang bisa mengembalikan seorang bapak ke pelukan anaknya.

Penulis

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait