LHOKSEUMAWE – Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh, Dr. Taufik Abdullah, M.A., menilai pameran, diskusi publik, dan dialog interaktif “Jejak Warna Sang Maestro: Sayed Dahlan Al-Habsyie/Sayed Art – Spirit Sejarah Aceh” merupakan upaya Program Studi Ilmu Komunikasi menghidupkan kembali sejarah dan kebudayaan Aceh melalui seni dan komunikasi.
Menurut Taufik, kegiatan tersebut tidak sekadar memamerkan karya seni, tetapi menjadikannya sebagai medium pembelajaran yang menghubungkan sejarah, budaya, dan ilmu komunikasi. Mahasiswa, kata dia, diajak membaca karya seni sebagai narasi yang memuat identitas, nilai, dan perjalanan kebudayaan Aceh.
“Kami ingin mahasiswa melihat bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga media komunikasi yang menyampaikan narasi sejarah, identitas, dan nilai budaya,” kata Taufik, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia mengatakan setiap karya Sayed Dahlan Al-Habsyie menyimpan pesan yang layak dipahami dan diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, pameran dinilai menjadi ruang belajar untuk memperkaya kemampuan mahasiswa dalam memahami pesan visual sekaligus akar kebudayaan Aceh.
Taufik menyebut kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus, menurut dia, tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, riset, dan kreativitas yang berpijak pada budaya lokal.
Selain itu, kegiatan tersebut dinilai memperkuat budaya akademik di lingkungan FISIP Universitas Malikussaleh. Mahasiswa didorong mengembangkan literasi visual, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi melalui pembacaan karya seni dalam konteks sejarah dan sosial.
Ia menambahkan, pameran itu membuka ruang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, seniman, komunitas, dan masyarakat untuk menghasilkan riset maupun karya kreatif berbasis kearifan lokal Aceh.
Menurut Taufik, pengalaman mahasiswa dalam mengelola pameran, berdialog dengan publik, hingga melakukan kurasi karya juga menjadi bekal penting untuk meningkatkan kemampuan di bidang komunikasi publik, manajemen kegiatan, dan jurnalisme budaya.
“Sejarah tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu. Sejarah harus terus dihidupkan, dimaknai, dan diwariskan melalui karya, pemikiran, serta kreativitas generasi masa kini. Kampus memiliki tanggung jawab memastikan warisan budaya Aceh tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.





