Aritmatika dan Alfabet: Langkah Kecil KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe Mencetak Generasi Siap Bersaing

KRISIS pembelajaran yang melanda dunia pendidikan Indonesia pasca-pandemi bukanlah sekedar isu belaka. Hasil Asesmen Nasional yang dirilis secara berkala oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi dasar peserta didik di berbagai jenjang, khususnya di daerah pedesaan dan pesisir, masih jauh dari kategori memadai. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan akses terhadap sumber belajar tambahan di luar jam sekolah formal. Dalam konteks inilah, kehadiran mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe yang lebih dikenal dengan UIN SUNA Lhokseumawe menjadi relevan untuk dibaca bukan sekadar sebagai kewajiban akademik, melainkan sebagai kontribusi nyata terhadap penguatan fondasi pendidikan dasar masyarakat.

Literasi dan Numerasi sebagai Fondasi, Bukan Pelengkap

Literasi dan numerasi kerap dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca-menulis dan berhitung semata. Padahal, dalam kerangka pendidikan kontemporer, keduanya merupakan kompetensi dasar lintas mata pelajaran yang menjadi prasyarat bagi seluruh proses belajar lanjutan. Anak yang tidak memiliki fondasi literasi yang kuat akan mengalami kesulitan memahami instruksi pada mata pelajaran lain, sementara anak yang lemah dalam numerasi akan kesulitan mengaplikasikan penalaran logis dalam kehidupan sehari-hari. Kemendikbudristek secara eksplisit menegaskan bahwa penguatan literasi dan numerasi di sekolah dasar merupakan prioritas nasional karena keduanya membentuk kerangka berpikir yang menopang seluruh capaian pembelajaran di jenjang berikutnya.

Sayangnya, penurunan kemampuan literasi dan numerasi anak sekolah dasar di berbagai daerah dipengaruhi oleh faktor pedagogik, sosial, teknologis, dan kebijakan pendidikan yang saling berkaitan, sehingga penyelesaiannya menuntut kolaborasi lintas pihak sekolah, keluarga, pemerintah, hingga elemen masyarakat sipil seperti perguruan tinggi.

Kontribusi Mikro yang Berdampak Makro

Di titik inilah program edukasi aritmatika dan alfabet yang digagas mahasiswa KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe patut diapresiasi. Sekilas, kegiatan mengajarkan anak-anak mengenal huruf dan berhitung dasar tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap remeh dibandingkan program pengabdian masyarakat berskala besar lainnya. Namun, literatur pengabdian masyarakat justru menunjukkan pola yang konsisten, intervensi literasi numerasi berskala kecil dan berbasis komunikasi baik melalui pojok baca, maupun pendampingan belajar secara empiris mampu meningkatkan minat baca, motivasi belajar matematika, dan pemahaman konsep dasar peserta didik. Dengan kata lain, langkah kecil yang konsisten dan kontekstual justru terbukti lebih efektif diserap anak-anak dibandingkan program besar yang bersifat seremonial.

Pendekatan yang digunakan mahasiswa kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe turun langsung ke tengah masyarakat, mengenal karakter dan kebutuhan belajar anak secara personal juga sejalan dengan temuan bahwa pembelajaran literasi numerasi yang kontekstual dan melibatkan pendekatan etnomatematika maupun kearifan lokal terbukti meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus karakter peserta didik. Mahasiswa KPM, yang notabene bukan pendidik profesional, justru memiliki keleluasaan untuk mengemas pembelajaran secara lebih cair, dekat, dan tidak terikat kurikulum formal yang kaku sebuah keunggulan yang semestinya terus dioptimalkan.

Mencetak Generasi yang Siap Bersaing

Investasi pada literasi dan numerasi anak usia dini bukanlah proyek jangka pendek yang hasilnya dapat dipanen segera. Ia adalah investasi jangka panjang pada modal manusia. Anak-anak yang hari ini dibimbing mengenal alfabet dan berlatih aritmatika dasar oleh mahasiswa KPM adalah generasi yang kelak akan berhadapan dengan tuntutan kompetisi global yang jauh lebih kompleks. Kajian literatur sistematis terbaru bahkan menegaskan bahwa literasi numerasi tidak hanya mempersiapkan keberhasilan akademik di sekolah, tetapi juga membuka peluang dan kemandirian di masa depan.

Oleh karena itu, program semacam ini idealnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial di ujung masa KPM, melainkan ditindaklanjuti secara kelembagaan baik oleh pihak sekolah, pemerintah desa, maupun UIN SUNA Lhokseumawe sendiri melalui skema pengabdian berkelanjutan. Sebab, sebagaimana ditegaskan berbagai kajian, keberlanjutan program jauh lebih menentukan dampak jangka panjang dibandingkan intensitas kegiatan dalam satu periode singkat.

Penutup

Langkah kecil mahasiswa KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe dalam mengajarkan aritmatika dan alfabet kepada anak-anak desa Suka Julu barangkali tidak akan tercatat dalam statistik pendidikan nasional secara langsung. Namun, dalam skala mikro, kontribusi ini adalah bagian dari upaya kolektif memperbaiki fondasi pendidikan dasar bangsa satu huruf, satu angka, satu anak pada satu waktu. Dan pada akhirnya, generasi yang siap bersaing bukan lahir dari kebijakan besar semata, melainkan juga dari kepedulian kecil yang dirawat secara konsisten di akar rumput.

Penulis adalah mahasiswa kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe.

1. Juwita Pratiwi Aritonang

2. Annisa Putri

3. Sherina

4. Karina Amanda Saragih

5. Widya Ramadhani Br. Tarigan

6. Mutia Rahmi

7. Kasmawati

8. Azra Mutiara Rifaldy

9. M. Rafli Pratama

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait