Oleh: Awaluddin
Di teras rumah warga Gampong Pantee Gajah, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, tumpukan kemiri memenuhi sudut halaman. Cangkangnya berserakan, sebagian bahkan menggunung setelah dipisahkan dari biji yang masih bernilai jual.
Bagi sebagian orang, cangkang itu mungkin hanya limbah. Namun bagi warga Pantee Gajah, di balik tumpukan kulit kemiri tersebut ada upah yang bisa dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan dapur.
Sejak pagi, warga duduk memilah kemiri satu per satu. Dengan tangan dan ketelitian, biji kemiri gelondongan dipisahkan antara yang berisi penuh dan yang kopong atau rusak.
Pekerjaan itu terlihat sederhana. Namun membutuhkan waktu, ketelitian dan kesabaran. Sebab kualitas biji yang dipilah akan menentukan harga kemiri yang nantinya dijual sebagai kemiri kupas super.
Bang Wan (45), salah seorang warga yang menggeluti pekerjaan tersebut, mengatakan setiap kilogram kemiri yang selesai dipilah dihargai Rp1.000 oleh toke.
“Upahnya Rp1.000 per kilo. Sekali antar bisa sampai dua ton kemiri. Kami kerjakan bersama-sama,” kata Bg Wan saat ditemui di Gampong Pantai Gajah, Kamis (17/9/2026).
Dalam sehari, seorang pekerja rata-rata mampu mengumpulkan sekitar 50 hingga 70 kilogram kemiri untuk dipilah. Jika dihitung berdasarkan upah, pendapatan dari pekerjaan tersebut berkisar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, tergantung kemampuan dan banyaknya kemiri yang berhasil diselesaikan.
Tidak semua kemiri yang berada di hadapan mereka bisa menghasilkan uang.
Menurut Bang Wan, hampir 40 persen kemiri yang diterima merupakan cangkang kosong atau biji yang rusak. Bagian tersebut harus dibuang setelah diperiksa satu per satu.
“Ini baru setengah hari sortir, cangkangnya sudah segunung. Yang bagus itu isinya putih penuh. Kalau kopong kita buang,” ujarnya.
Tumpukan cangkang pun menjadi penanda bahwa pekerjaan hari itu sudah berlangsung cukup lama. Di antara suara kemiri yang dibuka dan dipilah, warga terus bekerja mengejar hitungan kilogram.
Setiap kilogram berarti Rp1.000. Bukan jumlah yang besar jika dilihat satu per satu. Tetapi bagi warga yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan harian, uang tersebut tetap berarti. Ada kebutuhan rumah yang harus dipenuhi, beras yang harus tersedia, lauk yang harus dibeli, serta keperluan anak-anak yang tidak bisa menunggu.
Dalam sekali pasokan, toke dapat mengantarkan sekitar dua ton kemiri gelondongan kepada warga. Kemiri tersebut kemudian dipilah secara manual hingga tersisa biji dengan kualitas yang dianggap layak untuk masuk kategori super.
Pekerjaan biasanya diselesaikan secara bertahap dalam beberapa hari, tergantung jumlah pekerja dan kemampuan mereka memilah.
Ketika pasokan datang, teras rumah berubah menjadi tempat bekerja. Kemiri memenuhi halaman, tangan warga terus bergerak, sementara cangkang perlahan menumpuk di sisi rumah.
Di situlah perjuangan warga berlangsung. Tidak ada mesin besar atau pekerjaan yang tampak mewah. Hanya kemiri, tangan yang bekerja, dan harapan agar dari setiap kilogram yang selesai dipilah ada sedikit uang yang bisa dibawa pulang.
Bagi warga, Rp1.000 dari setiap kilogram bukan sekadar upah. Itu adalah bagian kecil dari perjuangan sehari-hari agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi.(*)





