Lhokseumawe- Di tengah dinamika kawasan pesisir yang sarat potensi sekaligus kerentanan, kehadiran perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui ruang-ruang perkuliahan dan publikasi ilmiah, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) di kawasan Pantai Ujung Blang, Kota Lhokseumawe, Sabtu, 17 Mei 2025.
Kegiatan tersebut menghadirkan pendekatan edukatif berbasis akademik yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat pesisir dalam memahami risiko kebencanaan, khususnya di kawasan wisata pantai. Sekitar lima puluh peserta yang terdiri atas masyarakat peduli wisata, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pemuda desa, pedagang pesisir, serta warga sekitar mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung secara partisipatif dan aplikatif.
Bagi kawasan pesisir seperti Pantai Ujung Blang, isu mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam pengelolaan wisata berkelanjutan. Selain memiliki nilai ekonomi dan sosial yang tinggi, wilayah pantai juga menyimpan tingkat kerentanan terhadap berbagai ancaman lingkungan seperti abrasi, banjir rob, gelombang pasang, hingga potensi tsunami. Dalam konteks tersebut, penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu strategi penting untuk membangun ketahanan komunitas (community resilience) terhadap ancaman bencana.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Anismar, M.Si., menjelaskan bahwa program pengabdian ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan pada penguatan literasi kebencanaan berbasis komunitas. Bersama tim dosen yang terdiri atas Miswar, S.T., M.T., Dr. Ade Muana Husniaty, Dr. Ainol Mardhiah, dan Muchlis, S.Pd.I., M.Sos., kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai forum transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bersama antara akademisi dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Dr. Anismar menegaskan bahwa kawasan wisata pesisir memerlukan kesiapsiagaan yang terintegrasi antara aspek lingkungan, sosial, dan komunikasi publik. Menurutnya, masyarakat pesisir harus memiliki pemahaman memadai mengenai ancaman kebencanaan agar mampu melakukan langkah mitigasi secara mandiri.
“Pengurangan risiko bencana tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemerintah atau lembaga tertentu. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi elemen utama dalam menciptakan lingkungan wisata yang aman dan tangguh,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan paradigma Community Based Disaster Risk Reduction (CBDRR), yaitu pendekatan mitigasi bencana berbasis masyarakat yang menempatkan komunitas sebagai aktor utama dalam proses pengurangan risiko. Konsep ini menjadi salah satu materi utama yang dipaparkan dalam sesi Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat Wisata Pesisir oleh Dr. Anismar. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa masyarakat lokal merupakan pihak pertama yang akan menghadapi dampak bencana sehingga pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan kolektif menjadi faktor krusial dalam proses mitigasi.
Pendekatan akademik juga terlihat dalam sesi materi Mitigasi Bencana di Kawasan Wisata Pantai yang disampaikan Miswar, S.T., M.T. Materi ini menitikberatkan pada identifikasi ancaman kebencanaan di wilayah pesisir serta strategi mitigasi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Peserta diberikan pemahaman mengenai pola ancaman abrasi, karakteristik banjir rob, serta langkah-langkah preventif untuk mengurangi dampak bencana terhadap aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat.
Selain aspek teknis mitigasi, dimensi komunikasi turut memperoleh perhatian khusus. Dr. Ade Muana Husniaty dalam sesi Edukasi Keselamatan Wisata dan Komunikasi Risiko menekankan bahwa komunikasi publik merupakan instrumen strategis dalam membangun budaya sadar bencana (disaster awareness culture). Menurutnya, penyampaian informasi keselamatan yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami menjadi elemen penting dalam mengurangi kepanikan serta meningkatkan efektivitas respons masyarakat ketika menghadapi situasi darurat.
Perspektif akademik tersebut diperkuat melalui praktik lapangan berupa simulasi evakuasi dan tanggap darurat yang dipandu oleh Tim BPBD bersama relawan kebencanaan di bawah koordinasi Dr. Ainol Mardhiah. Simulasi dilaksanakan langsung di area pantai guna memberikan pengalaman empiris kepada peserta dalam mengenali jalur evakuasi, menentukan titik aman, serta memahami prosedur penyelamatan diri pada kondisi darurat.
Bagi peserta, pendekatan berbasis praktik tersebut menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang membantu menghubungkan konsep teoritis dengan kondisi nyata di lapangan. Proses belajar yang bersifat partisipatif ini sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku wisata dalam membangun sistem mitigasi yang adaptif.
Dalam kesempatan yang sama, Muchlis, S.Pd.I., M.Sos. memberikan penguatan terkait peran strategis Pokdarwis sebagai agen komunikasi sosial di kawasan wisata pesisir. Menurutnya, Pokdarwis tidak hanya berfungsi mendukung pengembangan destinasi wisata, tetapi juga dapat menjadi medium penyebaran informasi keselamatan serta edukasi mitigasi bencana kepada wisatawan dan masyarakat sekitar.
Antusiasme peserta selama kegiatan menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap urgensi mitigasi bencana di kawasan wisata pesisir. Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menghadirkan perspektif baru bahwa pengelolaan wisata tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut kesiapsiagaan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh merencanakan program berkelanjutan berupa penyusunan media edukasi mitigasi bencana, pemasangan papan informasi jalur evakuasi, pelatihan komunikasi darurat, serta pembentukan kelompok masyarakat siaga bencana berbasis komunitas. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya model wisata pesisir yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga memiliki tingkat ketahanan sosial yang tinggi terhadap risiko kebencanaan.
Melalui kegiatan ini, pengabdian kepada masyarakat kembali menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat produksi pengetahuan sekaligus agen transformasi sosial. Di kawasan Pantai Ujung Blang, ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai konsep akademik, tetapi hadir dalam bentuk edukasi, praktik, dan penguatan kapasitas masyarakat menuju kawasan wisata yang lebih aman dan tangguh. (*)





