Aceh Utara — Aktivitas ekspor biomassa dari Aceh kembali menunjukkan tren pertumbuhan positif pada awal 2026. Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, pada hari ini melepas ekspor 11.000 ton palm kernel shell (PKS) atau cangkang sawit menuju Jepang menggunakan kapal berbendera Filipina, MV Ayana Smile.
Kapal dijadwalkan bertolak tepat pukul 23.00 WIB dengan estimasi pelayaran selama 10 hingga 18 hari, tergantung kondisi cuaca dan kecepatan kapal. Jalur pelayaran menuju Jepang diperkirakan menempuh jarak sekitar 3.000 hingga 3.500 mil laut melalui koridor perdagangan internasional Asia Timur.
Palm kernel shell yang dikirim dari Aceh merupakan bagian dari komoditas biomassa yang kini semakin dibutuhkan pasar global sebagai sumber energi rendah emisi. Jepang menjadi salah satu negara dengan permintaan tinggi terhadap biomassa untuk kebutuhan pembangkit listrik berbasis energi hijau.
Ekspor kali ini menjadi pengapalan kedua sepanjang 2026 melalui Pelabuhan Krueng Geukueh. Sebelumnya, pada Januari lalu, volume ekspor tercatat sebesar 9.500 ton. Dengan capaian terbaru sebesar 11.000 ton, terjadi peningkatan sekitar 15,8 persen, mencerminkan pertumbuhan permintaan pasar sekaligus meningkatnya kapasitas ekspor komoditas energi hijau dari Aceh.
Seluruh aktivitas operasional pelabuhan dikendalikan oleh PT Pelindo Regional 1 Lhokseumawe sebagai operator terminal, sementara aspek keamanan dan kelancaran proses pengapalan dikawal oleh Polres Lhokseumawe melalui personel KP3 Pelabuhan Krueng Geukueh.
Site Manager PT Kharisma Inti Mitra Indonesia, Antony Kumala, mengatakan ekspor biomassa ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Aceh dalam rantai pasok energi hijau internasional.
Kami ingin terus tumbuh bersama dengan membawa energi hijau asal Aceh agar semakin diminati pasar global. Kualitas palm kernel shell dari Aceh memiliki standar yang kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan industri energi di luar negeri. Karena itu, kolaborasi antar pelaku usaha, pelabuhan, dan seluruh stakeholder harus terus dijaga agar komoditas unggulan Aceh dapat hadir secara berkelanjutan di pasar dunia, ujarnya.
General Manager PT Pelindo Regional 1 Lhokseumawe,Aulia Rahman, menegaskan bahwa dukungan terhadap aktivitas ekspor menjadi bagian penting dari penguatan ekonomi daerah.
Kami memastikan seluruh proses pelayanan kapal dan loading berjalan cepat, efisien, dan real time. Fasilitas pelabuhan kami operasikan secara optimal agar proses ekspor berlangsung tanpa hambatan. Pelindo Regional 1 Lhokseumawe berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap arus perdagangan internasional yang melalui Krueng Geukueh, katanya.
Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe melalui Danpos KP3 Pelabuhan Krueng Geukueh, Bripka Qafrawi, S.H, menegaskan kesiapan aparat dalam menjaga keamanan aktivitas pelabuhan.
Pengamanan proses loading dilakukan secara kolaboratif bersama tim HSSE Pelindo Regional 1 Lhokseumawe untuk memastikan seluruh aktivitas kerja berjalan aman dan kondusif. Kami fokus menjaga kelancaran operasional sekaligus memastikan lingkungan kerja di terminal umum tetap terkendali selama proses ekspor berlangsung,ujarnya.
Secara geografis, Pelabuhan Krueng Geukueh memiliki posisi strategis di pesisir utara Aceh dan terhubung langsung dengan jalur pelayaran internasional Selat Malaka, salah satu lintasan perdagangan laut tersibuk di dunia. Keunggulan ini menjadikan Krueng Geukueh sebagai titik logistik penting bagi aktivitas ekspor komoditas Aceh menuju pasar Asia dan global.
Dengan meningkatnya volume ekspor biomassa, Aceh dinilai memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai pemasok energi hijau di kawasan regional. Pertumbuhan sektor ini tidak hanya menciptakan aktivitas ekonomi baru di pelabuhan, tetapi juga membuka ruang bagi investasi, lapangan kerja lokal, dan penguatan rantai industri berbasis sumber daya berkelanjutan.





