Lhokseumawe, Kamis (7/5/2026). Pagi itu, cahaya matahari jatuh perlahan di sela-sela pepohonan tua yang menaungi pelataran Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh. Angin yang bergerak lembut membawa aroma tanah kampus yang masih basah selepas embun. Di sudut pelataran Bukit Indah, Lhokseumawe, deretan kanvas berdiri diam, namun seolah berbicara, tentang kapal-kapal Kesultanan Aceh, tentang para ulama, tentang perang, doa, dan jejak peradaban yang pernah menggetarkan dunia Melayu.
Mahasiswa duduk lesehan dalam lingkaran sederhana. Tidak ada sekat formal antara ruang akademik dan ruang kebudayaan pagi itu. Mata mereka tertuju pada seorang lelaki sepuh yang tenang di hadapan lukisan-lukisannya: Sayed Dahlan Al-Habsyie, atau yang dikenal luas sebagai Sayed Art. Selama puluhan tahun, ia tidak hanya melukis wajah sejarah Aceh, tetapi juga menjaga ingatan kolektif sebuah peradaban agar tidak hilang ditelan zaman.
Hari itu, ruang akademik tidak hanya menjadi tempat diskusi ilmiah, tetapi juga ruang perjumpaan antara sejarah, seni, dan ingatan kolektif masyarakat Aceh. Tim Pelaksana Program Dana Indonesiana kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi, serta mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh menggelar talkshow dan diskusi bertajuk “Jejak Sang Maestro Pelukis Sejarah Aceh Sayed Dahlan Al-Habsyie (Sayed Art) untuk Spirit Sejarah Peradaban Aceh.”
Bagi banyak orang, sejarah sering kali hadir dalam lembaran buku, arsip tua, atau catatan akademik. Namun di tangan Sayed Dahlan Al-Habsyie, yang akrab dikenal sebagai Sayed Art, sejarah menjelma menjadi bahasa visual yang hidup. Warna-warna pada kanvasnya tidak sekadar menghadirkan keindahan estetika, tetapi juga memanggul narasi panjang tentang kejayaan, perjuangan, dan identitas Aceh sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara.
Aceh, dengan sejarah panjangnya sebagai wilayah strategis jalur perdagangan dunia, pusat penyebaran Islam, dan tanah yang melahirkan banyak tokoh besar, menyimpan memori kolektif yang kaya. Dalam konteks inilah karya Sayed Art memiliki posisi penting. Ia tidak hanya melukis, tetapi merekam denyut sejarah yang terus bergerak melintasi generasi.
Ketua Tim Pelaksana, Kamaruddin Hasan yang akrab disapa Kuya, menegaskan bahwa Sayed Art bukan sekadar seniman biasa.
“Sayed Dahlan Al-Habsyie bukan sekadar pelukis. Beliau adalah penjaga ingatan kolektif, seorang narator sejarah yang menggunakan warna sebagai bahasanya,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana seni rupa dapat dipahami sebagai medium komunikasi budaya. Dalam perspektif akademik ilmu komunikasi dan kajian budaya, karya visual bukan hanya objek estetika, melainkan teks sosial yang memproduksi makna, identitas, dan memori bersama. Lukisan menjadi medium representasi sejarah yang mampu menjangkau emosi publik secara lebih mendalam dibandingkan sekadar narasi verbal.
Karya-karya Sayed Art merekam berbagai fragmen sejarah Aceh dari jejak kesultanan, kehidupan masyarakat pesisir, tradisi religius, hingga dinamika sosial budaya yang membentuk karakter masyarakat Aceh hari ini. Karena itu, lukisan-lukisannya memiliki nilai dokumentatif yang kuat. Ia hadir layaknya ensiklopedia visual yang menyimpan pengetahuan sejarah dalam bentuk artistik.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital yang bergerak cepat, banyak warisan budaya lokal menghadapi ancaman kepunahan. Dokumentasi karya maestro menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya. Upaya tersebut tidak hanya bersifat arsiparis, tetapi juga menjadi bentuk pewarisan nilai-nilai peradaban kepada generasi muda.
“Dokumentasi menjadi langkah penting sebagai upaya sistematis mengabadikan, menjaga, merawat, dan mewariskan nilai-nilai sejarah peradaban,” tambah Kamaruddin.
Bagi mahasiswa yang hadir, pertemuan itu bukan hanya forum diskusi, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana sejarah dapat dipelajari melalui pendekatan yang lebih humanis dan kreatif. Seni membuka kemungkinan baru dalam memahami identitas daerah, sekaligus memperkuat kesadaran budaya di kalangan generasi muda kampus.
Di tengah diskusi, Sayed Art menyampaikan kalimat sederhana namun sarat makna.
“Saya melukis bukan hanya untuk seni atau estetika, tetapi untuk menjaga peradaban sejarah agar tetap hidup dalam setiap generasi.”
Kalimat itu menjadi penegas bahwa seni sejatinya memiliki dimensi sosial dan peradaban. Kanvas baginya bukan sekadar ruang ekspresi pribadi, tetapi ruang penyimpanan memori kolektif masyarakat Aceh. Melalui goresan warna, ia berusaha memastikan bahwa sejarah tidak hilang ditelan zaman.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kampus dapat berperan sebagai ruang strategis dalam mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik kebudayaan. Dialog antara maestro seni dan generasi muda menjadi bentuk transfer pengetahuan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga emosional dan kultural. (muchlis)





