Makna dan Fungsi Lirik dalam Tari Tarek Pukat

Oleh: Juwita Pratiwi Aritonang

ACEH merupakan wilayah yang memiliki garis pantai panjang dan kehidupan masyarakatnya sejak lama bertumpu pada laut. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya ruang ekonomi, melainkan juga ruang budaya yang melahirkan beragam ekspresi kesenian. Salah satunya adalah Tari Tarek Pukat.

Dalam bahasa Aceh, tarek berarti menarik, sedangkan pukat berarti jaring yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Secara harfiah, Tari Tarek Pukat menggambarkan aktivitas menarik jaring secara bersama-sama, sebuah pekerjaan yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat pesisir.

Berbeda dengan anggapan banyak orang, Tari Tarek Pukat bukanlah tari tradisional yang diwariskan turun-temurun sejak masa lampau. Tarian ini merupakan seni pertunjukan yang diciptakan Yuslizar pada 1928 sebagai bagian dari pertunjukan tari Meusaree-saree dalam pertemuan pemuda Aceh. Sejak saat itu, Tarek Pukat berkembang menjadi salah satu ikon seni pertunjukan Aceh dan terus diajarkan di sanggar maupun sekolah.

Pada awal penciptaannya, tarian ini dibawakan oleh 16 penari yang terdiri atas delapan laki-laki dan delapan perempuan. Seiring perkembangan zaman, jumlah penari menjadi lebih fleksibel, bahkan sering kali hanya dibawakan oleh penari perempuan. Iringan musiknya pun mengalami perubahan. Jika semula menggunakan orkestra, kemudian berganti menggunakan alat musik tradisional Aceh seperti serune kalee, gendrang, dan rapa’i.

Keistimewaan Tari Tarek Pukat terletak pada perpaduan gerak, musik, dan syair. Ketiga unsur itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan masyarakat pesisir. Sayangnya, pembahasan mengenai tarian ini selama ini lebih banyak menyoroti aspek gerak dan kostum, sementara lirik yang menjadi media penyampai pesan budaya justru jarang dikaji secara mendalam.

Padahal, lirik dalam Tari Tarek Pukat menyimpan simbol-simbol yang merepresentasikan cara pandang masyarakat pesisir terhadap kehidupan, kerja sama, alam, hingga hubungan manusia dengan Tuhan.

Lirik sebagai Representasi Kehidupan Nelayan

Gerakan dalam Tari Tarek Pukat mengikuti tahapan pekerjaan nelayan, mulai dari peugot pukat (membuat jaring), tarek pukat (menarik jaring), meukayoh (mendayung perahu), hingga surak, yakni teriakan penyemangat saat bekerja bersama. Seluruh rangkaian gerakan itu diiringi syair pendek berbahasa Aceh yang dinyanyikan berulang selama pertunjukan.

Hubungan antara gerak dan lirik membuat makna yang disampaikan menjadi lebih kuat. Apa yang diucapkan melalui syair dipertegas oleh gerakan tubuh para penari.

Pada bagian lirik “Tarek Pukaat”, kata tarek berarti menarik, sedangkan pukaat berarti jaring ikan. Ungkapan ini menggambarkan aktivitas utama para nelayan saat menarik jaring dari laut. Makna tersebut diperjelas melalui gerakan tangan dan tubuh yang menyerupai orang sedang menarik pukat secara bersama-sama. Perpaduan kata dan gerak melambangkan kerja keras, gotong royong, dan semangat kolektif masyarakat nelayan Aceh.

Lirik “Raakan Loen” menggunakan kata raakan yang berarti teman dan loen yang berarti saya. Ungkapan ini mencerminkan hubungan persahabatan sekaligus kerja sama antarnelayan. Makna solidaritas semakin kuat karena seluruh penari bergerak secara serempak dengan irama yang sama. Keselarasan gerakan menjadi simbol bahwa pekerjaan di laut hanya dapat dilakukan melalui kebersamaan.

Sementara itu, lirik “Lam Buleun Kap Seupot” menggambarkan waktu ketika bulan mulai tampak dan senja mulai turun. Bagi masyarakat nelayan, sore menjelang malam merupakan waktu yang tepat untuk menarik jaring. Gerakan penari pada bagian ini berlangsung lebih tenang dan teratur sehingga menghadirkan suasana nelayan yang bekerja mengikuti ritme alam. Melalui bagian ini, lirik memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat pesisir sangat bergantung pada perubahan waktu dan kondisi alam.

Pada bagian “Karoeh Engkoet Jeunara, Engkoet Jeunara”, istilah engkoet jeunara merujuk pada ikan kembung, salah satu hasil tangkapan yang paling umum diperoleh nelayan. Lirik tersebut diiringi gerakan yang menggambarkan proses menangkap dan mengumpulkan ikan ke dalam jaring. Simbol ini merepresentasikan usaha, keberhasilan, sekaligus rasa syukur atas rezeki yang diberikan laut.

Simbol Harapan, Kebersamaan, dan Spiritualitas

Jika dicermati secara keseluruhan, lirik Tari Tarek Pukat dapat dipahami dalam tiga bagian utama.

Bagian pertama menggunakan analogi layang-layang yang terbang tinggi dengan benang panjang menembus awan, tetapi sewaktu-waktu dapat jatuh karena disambar petir. Perumpamaan ini menjadi simbol harapan dan cita-cita manusia yang selalu dibayangi ketidakpastian. Bagi masyarakat nelayan, simbol tersebut mencerminkan kenyataan hidup di laut yang penuh risiko. Hasil tangkapan maupun keselamatan mereka sangat ditentukan oleh cuaca dan gelombang yang tidak selalu dapat diprediksi.

Bagian kedua berisi ajakan kepada para nelayan untuk menarik jaring secara bersama-sama. Gambaran ombak yang bergejolak mempertegas beratnya tantangan yang dihadapi di laut. Karena itu, menarik pukat menjadi pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan seorang diri. Keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja sama. Nilai gotong royong inilah yang menjadi inti pesan Tari Tarek Pukat.

Bagian ketiga menghadirkan nuansa religius melalui doa agar diberikan umur panjang dan kesempatan menikmati kehidupan. Permohonan tersebut bukan sekadar harapan, tetapi juga bentuk penyerahan diri kepada Tuhan setelah manusia berusaha semaksimal mungkin. Kehadiran unsur religius menunjukkan bahwa bagi masyarakat pesisir Aceh, aktivitas ekonomi, kehidupan sosial, dan keyakinan kepada Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Penutup

Lirik dalam Tari Tarek Pukat bukan hanya pelengkap musik yang mengiringi gerakan tari. Syair-syair tersebut merupakan sastra lisan yang memuat nilai budaya, pandangan hidup, dan pengalaman kolektif masyarakat pesisir Aceh.

Melalui simbol layang-layang, ombak laut, ajakan menarik jaring bersama, hingga doa memohon keselamatan, lirik Tari Tarek Pukat merefleksikan filosofi hidup nelayan yang dibangun atas harapan, kerja keras, kebersamaan, dan ketakwaan kepada Tuhan. Dengan demikian, fungsi lirik dalam Tari Tarek Pukat tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual kepada setiap generasi masyarakat Aceh.

*)Penulis adalah Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe.

 

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait