Ironi Ekologis Banjir Aceh Tamiang 2025

Penulis Nafra Nazwa Ungu Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala

Akhir November 2025 menjadi salah satu potret paling kelam dalam catatan mitigasi bencana di Aceh Tamiang. Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut memicu luapan sungai yang begitu dahsyat, menenggelamkan ribuan rumah, memutus urat nadi transportasi lintas Sumatra, dan memaksa warga mengungsi dalam kondisi darurat.

Di tengah kepungan air bah berwarna cokelat pekat itu, tersisa sebuah pemandangan psikologis yang menyayat hati: ketidakberdayaan yang membeku. Kalimat “hanya bisa menatap dari jauh, diam seperti gelondongan kayu” seketika menjelma dari sekadar baris puisi melankolis menjadi sebuah realitas visual yang dialami langsung oleh para korban di posko-posko pengungsian.

Bagi masyarakat yang terdampak, frasa tersebut menggambarkan kelumpuhan total atas ruang hidup mereka. Berdiri di tempat-tempat yang lebih tinggi atau di atas atap yang tersisa, warga hanya bisa menatap dari kejauhan saat rumah, harta benda, dan sawah yang siap panen perlahan-lahan runtuh dan lenyap ditelan arus destruktif.

Mereka diam membeku layaknya seonggok kayu – bukan karena menyerah tanpa perlawanan, melainkan karena syok yang mendalam dan kesadaran bahwa agensi manusia mendadak kerdil di hadapan amukan alam. Diam di sini adalah bentuk trauma yang nyata, sebuah jeda yang dipaksakan ketika semua yang mereka bangun bertahun-tahun hanyut dalam hitungan jam.

Namun, jika kita menguliti akar masalahnya, metafora “gelondongan kayu” ini juga membawa kritik ekologis yang sangat menohok ke arah hulu sungai Aceh Tamiang. Banjir besar di penghujung tahun 2025 lalu tidak datang dari ruang hampa; ia adalah akumulasi dari rusaknya kawasan tangapan air akibat alih fungsi lahan dan pembalakan yang terus terjadi. Pohon-pohon yang seharusnya berdiri kokoh sebagai tameng alamiah telah dipangkas, kehilangan akarnya, dan berubah menjadi gelondongan kayu yang mati. Ketika debit air meningkat, material kayu yang pasif ini tidak lagi mampu menahan laju air hulu, melainkan justru hanyut terbawa arus dan menjadi “peluru raksasa” yang menghantam serta memperparah kehancuran di wilayah hilir.

Kini beberapa bulan setelah banjir November 2025 itu menyurut, ironi terbesar justru berpindah kepada kita yang berada di luar lingkar bencana. Kita sering kali terjebak dalam sindrom yang sama: sekadar menjadi penonton pasif yang menatap penderitaan sesama dari balik dinginnya layar gawai. Kita membaca analisis kerusakan lingkungan, merasa prihatin sejenak saat masa tanggap darurat, lalu kembali diam membeku seperti gelondongan kayu tanpa melakukan tindakan nyata atau mendesak adanya evaluasi kebijakan tata ruang yang radikal. Jika sikap abai dan kaku ini terus kita pelihara, kita sebenarnya sedang membiarkan diri kita hanyut oleh arus kelalaian yang sama, menunggu waktu hingga alarm bencana berikutnya berbunyi di depan pintu rumah kita sendiri.

-----------

Simak berita pilihan dan terkini lainnya di Google News

Pos terkait